Jakarta, Energindo.co.id – “Anda harus yakin bahwa apa pun yang disampaikan oleh AS dan Rezim Zionis sebagai klaim terhadap serangan itu merupakan hal yang tidak benar,” kata Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menjawab pertanyaan Energindo soal ambisi AS untuk menguasai ladang minyak dan gas bumi (migas) Iran adalah motif utama agresinya terhadap Iran.
Hal tersebut dikemukakan Mohammad Boroujerdi pada Senin (2/3/2026) di Kediaman Pak Dubes Iran di Jl Madiun No 1 Menteng Jakarta Pusat.
Sebagai catatan, produksi migas Iran terbesar keempat di dunia, setelah Arab Saudi, Rusia dan Norwegia. Dalam rentang 1 Januari 2025 hingga Februari 2026, produksi minyak negeri para Mullah ini mencapai 3,27 juta barel per hari.
Diketahui beberapa waktu lalu, AS melakukan penangkapan dan penggulingan kekuasaan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan beragam tuduhan. Ujung-ujungnya ladang minyak Negara kaya minyak tersebut kemudian dikuasai AS.
Lebih jauh Mohammad menyatakan terkait ditutupnya Selat Hormuz yang disinyalir bakal mendongkrak penaikan harga minyak dunia. “Iran merupakan pihak yang sejak ratusan tahun menjadi pihak yang menyebarkan keamanan di Teluk Hormuz,” katanya. Selain itu, pihaknya menjadi pengawas utama di selat tersebut.
“Kami tidak ingin ketidakamanan terjadi di sana,” lanjutnya. Dia melanjutkan, “Sebenarnya pada perang 12 hari AS dan Rezim Zionis berupaya agar Selat Hormuz tidak aman,” tegas Mohammad. Mereka justru menyeret perang ke arah Selat Hormuz.
Menurut Mohammad, saat ini pun kapal-kapal induk AS yang datang ke Selat Hormuz menyerang Kesatuan Iran dan Wilayah Republik Islam Iran. “Apabila mereka menginginkan keamanan bagi Selat Hormuz, kami pun juga ingin aman,” tegas Mohammad.













































































