Tangerang Selatan, Energindo.co.id – Pada mulanya zero. Seiring perjalanan waktu, bertransformasi menjadi hero: from zero to hero. Begitulah suratan takdir hidup Suyanto. Seorang petani sederhana, pemimpin Kelompok Sumpal Palawija Makmur di Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan yang mengalami kegagalan bertani cabe dan kemudian banting setir ke semangka.
Bayangkan, harga semangkanya hanya dibandrol Rp3.500 per kg. Padahal ia menanamnya dengan penuh kasih walau sekujur tubuhnya berpeluh disengat teriknya matahari. Ketika itu dia mengelola lahan kurang dari 1 hektar. Kebun kosong ditanami semangka tanpa biji dan cabe.
Saat itu dirinya belum bergabung dengan program Local Business Development (LBD) yang dikembangkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) melalui anak usahanya, Medco E&P Grissik Ltd.
Pria kelahiran Lampung 22 Nopember 1987 tetapi berdomisili di Palembang ini kemudian memutuskan untuk bergabung dengan program LBD MedcoEnergi. Padahal awalnya Suyanto ogah-ogahan bergabung dengan LBD karena ketiadaan biaya. Setelah mengetahui program pelatihan tersebut gratis, dengan modal Bismillah, Suyanto mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.
Ia banyak menyerap ilmu dan pengetahuan baru. Mulai dari proses penyemaian bibit, memilih bibit unggul, pengolahan lahan yang baik dan benar serta ilmu pertanian modern.
Hasilnya mencengangkan! Betapa tidak, sejak 2023 saat berkolaborasi, pendapatan Kelompok Sumpal Palawija Makmur yang beranggotan 8 orang ini meroket. Tidak hanya menaikkan harga jual semangka dari Rp3.500 per kg menjadi 5.500 – 6.500 per kg tetapi produksi buah semangka pun melonjak mulai dari 16 ton.
Penghasilannya pun merangkak naik dari sekitar Rp4.000.000 pada 2023 terdongkrak menjadi Rp15.000.000 pada 2024. Puncaknya meraih pendapatan sekitar Rp 90.000.000 pada tahun 2025. Bahkan hasil tani semangka kelompoknya pada tahun lalu mencapai 23 ton dan berhasil merambah pasar hingga ke luar kabupaten. “Sebelum Lebaran Idul Adha, insya Allah kita akan panen semangka,” ucap Suyanto pada sesi diskusi di Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition 2026 (IPA Convex), Tangerang Selatan, Rabu (20/5/2026).
Tentu pencapaian gemilang tidak diperoleh segampang membalikkan telapak tangan. Ada kolaborasi, pendampingan, pelatihan, pemberian bibit, obat-obatan, pupuk organik, pengelolaan lahan, pemilihan varietas, pemupukan, pengendalian hama ramah lingkungan, distribusi benih, persemaian benih, dan penguatan kemitraan serta promosi pemasaran melalui medsos seperti Facebook dan lain semacamnya. “Proses-proses ini justru membuat saya percaya diri,” ucap Yanto, sapaan akrabnya.
Misalnya, katanya, melalui metode persemaian benih, benihnya lebih tersebar dan lebih merata. Sehingga volume pembuahannya lebih banyak dan kualitas semangka lebih bagus.
Yanto termasuk pribadi tidak pelit berbagi ilmu. Ia pun kerap membagi pengalaman suksesnya bertani semangka kepada kawan-kawannya sesama petani. “Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Mereka sukses menghasilkan semangka bagus dan berhasil menjual dengan harga Rp9.500 per kg. Semangka saya sendiri belum pernah laku hingga harga segitu, ya itulah namanya rezeki,” tutur Yanto, merendah.
Terkait pemasaran, Yanto menjelaskan produknya pernah sampai ke Jambi dan Tangerang. Pihak Medco, lanjut Yanto, pernah menawarkan untuk dipasarkan ke beragam media sosial tetapi pihaknya khawatir belum sanggup bila ada order besar. Pasalnya, produk semangkanya masih dalam skala kecil. “Untuk saat ini, bila panen, kita unggah foto-fotonya lewat FB,” ujar Yanto.
Tantangan lainnya, imbuh Yanto, kontur tanah di daerahnya bertebing. “Kita sulit mencari tanah datar yang memungkinkan kelompok taninya melebarkan areal pertaniannya,” tandas Yanto. Kendati demikian, Yanto bersama kelompoknya tidak patah arang. Mereka terus memompa spirit kerja keras untuk mengubah nasib menjadikan hidup dan penghidupan lebih baik demi sanak keluarga.
Mendengar perjuangan dan kisah sukses usaha pertanian semangka Yanto, Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset, Sudewo, menyebut poin penting dari yang dikisahkan adalah kolaborasi. Kolaborasi dengan pemerintah setempat. “Kami menemukan Pak Yanto melalui Kepala Desa dan Kepala Dusun. Meskipun kami tahu beliau punya potensi. Tapi kami membuka kolaborasi dengan Pemerintah Daerah. Kami menyambut ini sebagai hasil program (kolaborasi) bersama. Kolaborasi bersama ini yang kami tanamkan di dalam setiap Program Pengembangan Masyarakat,” kata Sudewo.
Dalam sesi tanya-jawab, Najwa, mahasiswi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta mempertanyakan parameter apa yang bisa menjelaskan bahwa UMKM ini berpotensi untuk dikembangkan. Menjawab pertanyaan yang diajukan, Sudewo mengatakan setiap daerah memiliki local wisdom. “Kita pahami bahwa antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Di unit bisnis kami antara yang di Sumatera berbeda dengan yang di Kalimantan. Yang paling penting bagi kami, kembali ke pemetaan sosial yang kami telah lakukan. Potensi ini akan berafiliasi dengan yang ada di tingkat desa. Di Sumpal bukan pertanian padi, tapi cocok untuk sayur mayur. Dan ini yang kita lihat,” papar Sudewo.
Apa kata pengamat
Kontribusi Medco dalam pengembangan masyarakat di Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dinilai dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga para petani. Hal tersebut diungkapkan oleh Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute pada Energindo.co.id belum lama ini di Jakarta.
Kegiatan pendampingan terhadap petani binaan Medco dengan memberikan pelatihan hingga support bibit dan pupuk organik kepada petani merupakan wujud dari kolaborasi bersama dengan pemerintah setempat.
“Perusahaan bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk bersama-sama melakukan perbaikan terhadap perekonomian yang mendorong peningkatan taraf hidup warga petani,” kata Komaidi.
Komaidi menilai, gerakan pengembangan masyarakat petani yang dilakukan Medco dampaknya sangat positif. Walaupun demikian, terdapat beberapa program sifatnya masih sporadis.
Dalam pengertian, lanjut Komaidi, masing-masing perusahaan migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Akan menjadi lebih baik lagi bila kegiatan semacam ini lebih terkoordinasi. Ada roadmapnya. Jadi merupakan policy yang terstruktur.
“Katakanlah tidak semata inisiasi dari salah satu KKKS tetapi menjadi bagian dari kesadaran kolektif,” tegasnya. Idealnya difasilitasi melalui regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Biila hal ini terlaksana, imbuhnya, akan menjadi lebih baik lagi sehingga hingga out putnya menjadi lebih terarah dan terukur.









































































