Pagi itu, embun belum benar-benar hilang dari ujung daun padi di Desa Karangharja, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang, Provinsi Banten. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa ketika Mang Sardi (56 tahun) berdiri di pematang sawah sambil memandangi gabah yang baru dipanen menumpuk di atas terpal biru. Beberapa helai jerami masih menempel di bahunya yang legam terbakar matahari. Wajahnya belum memperlihatkan rasa lega, juga gembira.
“Kalau panen begini, yang paling bikin takut itu bukan gagal panen,” katanya pelan. “Yang mengerikan adalah harga jatuh,” lanjutnya lirih.
Menunggu Truk BULOG
Di desa yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Gudang Modern milik Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG) di Cikande, Kab. Serang, Provinsi Banten, cerita itu selalu berulang. Saat panen raya dan gabah melimpah, harganya menukik turun. Tengkulak datang membawa timbangan plus “intimidasi” dengan uang kontan untuk mendapat harga murah. Petani kecil seperti Mang Sardi tidak punya banyak pilihan. Gabah harus segera dijual karena mereka butuh uang cepat untuk membayar buruh panen, membeli pupuk, atau untuk membayar hutang.
Karena itu, ketika truk BULOG datang, para petani merasa seperti kedatangan malaikat penolong. Anak-anak pun berkerumun, dengan harapan mendapatkan permen rasa susu coklat.
BULOG memberi harapan karena biasa membeli gabah lebih mahal dari tengkulak. Bagi petani gurem, selisih Rp400 per kilogram bukan perkara kecil. Sawah satu hektare biasanya menghasilkan sekitar 5 hingga 6 ton gabah. Karena itu, kenaikan harga Rp300 bisa menambah pendapatan lebih dari Rp 2 juta sekali panen. Nilai itu cukup besar bagi masyarakat petani di pedesaan.
“Bisalah buat beli cincin emas, meski dengan kadar 8 karat,” ungkap Mang Sardi penuh harapan.
Pada 2026, Pemerintah tetap mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan itu menjadi dasar BULOG menyerap gabah langsung dari petani. Bisa jadi, uang sebesar Rp6.500 hanyalah catatan angka dari sebuah kebijakan. Namun bagi petani seperti Mang Sardi dan mungkin sebagian besar petani lainnya di Nusantara, uang sejumlah itu sangat penting.
Selain itu, yang lebih menggembirakan, angka HPP itu memberikan sebuah kepastian. Di zaman penuh pergolakan seperti sekarang ini, masih adakah yang lebih penting dari kepastian? Jawabannya pasti “Tak ada”.
“Harga pembelian BULOG itu seperti pagar pengaman,” kata Mang Sardi. “Kalau tidak ada harga dari BULOG, tengkulak menawarkan harga sesuka udel,” lanjutnya.
Apa yang dirasakan Mang Sardi bisa jadi dialami petani lain di sentra penghasil padi. Untuk itu, kehadiran BULOG bukan hanya sebagai pengelola gudang beras, melainkan pembeli terakhir yang menjaga agar harga tidak jatuh terlalu dalam. Petugas datang ke titik panen, berkoordinasi dengan kelompok tani, bahkan menggunakan pola jemput gabah langsung dari sawah.
Langkah itu dilakukan secara masif sejak beberapa tahun silam. Pada 2026 ini, BULOG menargetkan penyerapan hingga 4 juta ton setara beras tahun ini—lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hingga awal Mei 2026, serapan BULOG telah mencapai lebih dari 2,4 juta ton setara beras. Angka itu menjadi salah satu capaian penyerapan terbesar dalam sejarah pengadaan pangan nasional.
Namun di balik penyerapan jutaan ton itu, ada cerita-cerita kecil yang sering luput dari perhatian.
Wartiah (46 tahun), seorang petani di Desa Karangharja, Cisoka, Kab. Tangerang mengaku untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir tidak menjual gabah dengan sistem “ijon” atau menjual padi sebelum panen dengan harga murah.
Biasanya, sebelum musim panen tiba, ia sudah lebih dulu berutang kepada tengkulak untuk membeli pupuk dan pestisida, dengan jaminan hasil panen. Celakanya, harga gabah itu sudah ditentukan sebelum bulir padi menjadi gabah. Saat panen datang, hasil sawah menjadi milik tengkulak.
“Tahun lalu, dengan ijon sebenarnya masih ada sedikit untung, tapi kalau dihitung tenaga sendiri ya tetap rugi,” katanya. “Sekarang cukup menggembirakan karena BULOG membeli dengan harga lumayan baik secara kontan,” lanjutnya penuh senyuman.
Kecepatan pembayaran menjadi alasan penting mengapa banyak petani mulai memilih menjual gabah ke BULOG. Dalam perdagangan tradisional melalui tengkulak, pembayaran gabah sering tertunda beberapa hari bahkan minggu. Tidak jarang ada potongan kualitas yang membuat harga akhir jauh lebih rendah dari kesepakatan awal.
Kini BULOG menggunakan pola pembayaran langsung alias cash and carry. Di sejumlah daerah, petugas bahkan mendampingi proses penimbangan di lokasi panen.
Bagi rumah tangga petani, kecepatan uang masuk menentukan banyak hal. Begitu panen selesai, biaya musim tanam berikutnya sudah menunggu: benih, pupuk, solar pompa air, ongkos traktor, hingga upah tanam. Bila uang terlambat cair, petani bisa kehilangan momentum tanam dan produksi berikutnya ikut terganggu.
“Kalau habis panen langsung dapat uang, kami bisa langsung beli pupuk lagi,” kata Wartiah. “Kalau nunggu lama, biasanya malah habis dulu buat kebutuhan lain yang sebenarnya tidak terlalu penting,” lanjutnya.
Itulah mengapa kehadiran BULOG sangat nyata di desa, meski tak terasa pentin di kawasan perkotaan.
Di gudang BULOG, gabah mungkin hanyalah tumpukan karung yang menjadi kebanggan Pemerintah untuk menenangkan hati rakyat. Namun bagi petani, gabah itu adalah denyut nadi kehidupan.
BULOG Sebagai Penahan Guncangan Harga
Pada 2025 juga 2026, beberapa wilayah seperti di Karawang, Indramayu, bahkan juga di luar Jawa seperti Bangka-Belitung, panen padi meningkat membuat membuat gudang BULOG penuh, bahkan harus menyewa gudang tambahan. Fenomena serupa terjadi di sejumlah sentra penghasil gabah lain ketika panen raya berlangsung serempak.
Keadaan itu menunjukkan satu hal: produksi petani sedang tinggi. Risikonya, harga bisa jatuh ke jurang yang dalam bila negara tidak turun tangan.
Tekanan terhadap harga gabah juga dipengaruhi kondisi pasar pangan global. Harga beras di pasar internasional saja tercatat turun drastis. Pada April 2026 harga beras turun ke level US$372 per ton dari sebelumnya US$650 per ton. Penurunannya mencapai 42 persen.
Dalam situasi seperti inilah fungsi BULOG menjadi penting sebagai “shock absorber” dalam artian sebagai penahan guncangan antara pasar dan petani.
Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan penyerapan 2026 difokuskan untuk melindungi hasil panen petani lokal sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah. Untuk penugasan tersebut, Pemerintah menyiapkan anggaran penyerapan gabah, jagung, dan komoditas pangan lain sebesar Rp68,6 triliun.
Dana itu bukan hanya soal membeli hasil panen. Ia menjadi bentuk intervensi negara agar petani tetap punya alasan untuk menanam dan mempejuangkan masa panen berikutnya.
Dalam jangka menengah dan panjang, ancaman terbesar pertanian bukan hanya cuaca ekstrem atau hama, tetapi kehilangan harapan dan kepastian.
Ketika harga terlalu rendah dan petani terus merugi, banyak orang desa mulai meninggalkan sawah. Anak-anak petani memilih bekerja di kota. Lahan persawahan beralih fungsi. Produksi pangan nasional pun terancam. Krisis pangan akan mengetuk pintu setiap rumah tangga.
Karena itu, menjaga harga gabah sebenarnya juga menjaga regenerasi pertanian.
Berkat BULOG, Bertani Masih Memberi Harapan
Di Kab. Tangerang, Mang Sardi mengaku anak bungsunya sempat menolak membantu di sawah karena merasa bertani tidak menjanjikan. Tetapi panen tahun ini sedikit mengubah pandangan itu.
“Sekarang anak saya melihat bahwa bertani menjanjikan masa depan,” katanya sambil tersenyum tipis.
Di kejauhan, suara mesin penggiling mulai terdengar. Truk BULOG perlahan bergerak meninggalkan desa membawa gabah hasil panen pagi itu.
Bagi sebagian orang, itu hanya kendaraan logistik.
Namun bagi petani, kendaraan itu membawa rasa tenang, juga nyaman: tetesan peluh mereka masih berharga. Karena itu, musim tanam berikutnya masih pantas untuk diperjuangkan.













































































