Cibinong, Energindo.co.id – Indonesia sangat kaya warisan budaya yang in touchable maupun un touchable. Disamping itu memiliki peradaban yang sangat panjang. Bisa ditarik hingga 1,8 juta tahun lalu. Bahkan sampai mungkin ratusan hingga jutaan tahun yang lalu. Oleh sebab itu, Indonesia layak dideklrasikan sebagai sebuah peradaban tertua di dunia. Tapi para arkeolog mengatakan Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia. Padahal temuan fosil Homo erectus 50 – 60 persen ada di Nusantara. Demikian ditegaskan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, saat mengunjungi Gedung Koleksi Ilmiah pada Senin (30/6/2025) di Kawasan Sains Teknologi Ir Soekarno Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Bogor.
Menurutnya, kolaborasi Kementerian Kebudayaan dengan BRIN dan lembaga lain terus dilakukan. Misalnya, melakukan penelitian situs-situs pra sejarah di berbagai tempat, seperti di Maros atau Homo Erectus di Sangiran hingga penelitian klasik warisan budaya Majapahit dan naskah-naskah kuno seperti Negara Kertagama dan lain semacamnya. Dari catatan monomental tersebut mempertegas bahwa pelestarian warisan budaya merupakan kerja peradaban dan tidak semata kerja lintas sektoral.
Hal ini, kata Fadli, menunjukkan dan meyakinkan dirinya bahwa Indonesia dapat menjadi ibukota kebudayaan dunia atau ibu kota peradaban dunia bila dilihat dari sejarahnya. “Kita menyelenggarakan pameran 130 tahun Pithecanthropus erectus di Museum Nasional Indonesia. Pameran tersebut akan dijadikan permanent collection. Tentu akan ada penambahan-penambahan koleksi sehingga peradaban Nusantara bisa tergambar di museum,” ungkap mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019. Ajang pameran berfungsi sebagai etalase yang menunjukkan Indonesia sebagai bagian peradaban tertua dunia.
“Saya berani mengatakan Indonesia adalah peradaban tertua di dunia. Tapi para arkeolog mengatakan Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia. Padahal temuan fosil Homo erectus 50 – 60 persen ada di Nusantara,” tegasnya.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko tersenyum simpul mendengar pernyataan Menteri Fadli tersebut. Ia tetap berdiri mendampingi Menteri Fadli, yang saat itu tengah memberikan kata sambutan.
Sebagai pucuk pimpinan di lingkungan BRIN, dirinya menyambut hangat kunjungan Menteri Fadli. “Kita kedatangan tamu istimewa, Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon. Kita ingin menunjukkan kemampuan Indonesia untuk mengelola koleksi ilmiah, khususnya berkaitan arkeologi dan bagaimana kita melakukan karakterisasi dan pemanfaatannya,” ucapnya.
Dia pun membeberkan jumlah koleksi arkeologi yang tersimpan di Gedung Koleksi Ilmiah. Terdapat sekitar 6 juta item. Di luar manuskrip. Selain koleksi Biodiversitas, koleksi mikroba dan lain sebagainya. “Totalnya ada 15 juta item koleksi ilmiah,” tuturnya.
Setelah melakukan kunjugan dan berbincang dengan Kepala BRIN dan beberapa pejabat BRIN, Menteri Fadli didampingi Laksana Tri Handoko, mengadakan jumpa jurnalis.
Menteri Fadli menyampaikan dirinya telah melihat langsung koleksi ilmiah. Kementerian Kebudayaan akan terus berkolaborasi dan bersinergi terkait antara penelitian dengan perlindungan warisan budaya ini bisa menjadi bagian tidak terpisahkan. Terutama dalam pemanfaatan dan pengembangan serta edukasi literasi kepada masyarakat.
“Kita memang saling memerlukan penelitian-penelitian tentang situs-situs kita yang sangat kaya. Baik situs-situs yang ada di Sumatra, Jawa, dan seluruh Nusantara. Masih banyak yang belum kita eksplorasi. Belum kita ekskavasi. Belum kita teliti. Padahal ini bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. Dari yang Homo erectus sampai jutaan tahun hingga era modern,” papar politisi Gerindra ini.
Dia berharap penelitian dan pemanfaatan benda-benda bersejarah ini akan menjadi bagian sumbangsih terbesar untuk membangun kemajuan peradaban dan kebudayaan Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Fadli juga menjelaskan up date tentang repatriasi. Pihaknya, akan meminta pengembalian. Utamanya yang dibawa pada masa-masa di periode kolonial ke Indonesia. “Ada negara-negara yang sudah menjalin kerjasama dan ada pula yang masih dalam penjajakan dan belum ada yang belum merespon.
Kementerian Kebudayaan akan melakukan provenance research terhadap benda-benda bersejarah dan akan dibawa sebagai bagian benda suatu koleksi di museum sehingga bisa dilihat oleh publik. “Kita prioritaskan benda-benda bersejarah. Termasuk artefak. Termasuk koleksi dari Eugene Dubois, jumlahnya cukup banyak kurang lebih 18.000 – 32.000 item,” ungkap Fadli.
Menurut penjelasannya, tahun lalu telah dikembalikan sebanyak 828 artefak. “Kita sudah minta kepada Menteri Kebudayaan Belanda untuk dikembalikan. Di dalamnya termasuk keris Teuku Umar, dan keris para raja di Nusantara. Sebagian sudah dikembalikan,” tandas Fadli seraya mengimbuhkan dirinya sebelum tanggal 12 Juli 2025 akan menandatangani perjanjian dengan Menteri Kebudayaan Belanda terkait repatriasi benda-benda bersejarah yang beririsan dengan perayaan HUT RI ke 80.












































































