Mamah Nuri, meski masih memakai daster, menempelkan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Mesin Electronic Data Capture (EDC) bermerek Pax A390. Di kios kecilnya berukuran 2 x 3 meter, di sebuah pelosok desa di Carenang, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang, ibu seorang anak ini sedang mengaplikasikan layanan perbankan mini melalui BRILink pada nasabahnya yang ingin melakukan penarikan tunai.
Di depan kaca etalase dagangannya, tak lupa ia menempelkan kode pembayaran QRIS. Meski berdagang sejumlah kebutuhan pokok bukan hanya sembilan kebutuhan pokok (Sembako), ia menambahkan layanan perbankan mini dan sistem pembayaran modern pada kiosnya.
“Kadang-kadang, kalau gak ada BRILink atau QRIS calon pembeli gak jadi belanja. Yang membutuhkan BRILink sering kali orang yang berumur yang mendapatkan transferan dari anaknya di kota. Sedangkan yang membutuhkan QRIS anak-anak muda yang baru saja bekerja,” ujar seorang single parent ini penuh semangat.
Meski berada di pelosok desa, BRILink dan QRIS terus tumbuh dan berkembang, seiring dengan peningkatan pada kebutuhan pada inklusi keuangan. Pada saat ini, semua orang, apalagi badan entitas bisnis memerlukan akses yang adil dan merata terhadap produk serta layanan keuangan formal.
Sampai kuartal ketiga 2025, yakni pada bulan September, agen BRILink sudah mencapai 1,2 agen, memfasilitasi 826 juta transaksi bernilai 1,3 triliun. Pertumbuhan tahunan untuk transaksi mencapai 10,6 persen dan untuk pertumbuhan keagenan mencapai 17,8 persen.
Jangan dilupakan, BRILink sudah tumbuh dan berkembang di 67 ribu desa/kelurahan atau 80 persen dari total desa/kelurahan di Indonesia yang berjumlah 83 ribu desa/kelurahan.
Di sisi lain, pada kuartal III tahun 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai lebih dari 58 juta orang. Mereka melakukan pembayaran pada sekitar 41,2 juta merchant . Nilai transaksi penggunanya mencapai Rp1,9 kuadriliun. Secara tahunan, transaksinya naik sebesar 147 persen, sedangkan dari sisi pengguna naik sebesar 12 persen.
Berdasarkan data itu, maka BRILink dan QRIS sama-sama tumbuh dengan angka fantastis. Artinya keduanya bukan entitas yang saling mengkanibal satu sama lain. Setidak-tidaknya sampai saat ini.
Senior Executive Vice President (SEVP) Ultra Micro BRI Muhammad Candra Utama mengungkapkan bahwa perkembangan BRILink menegaskan komitmen BRI dalam memberikan melayani masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraannya.
“Seperti diketahui, AgenBRILink merupakan salah satu inovasi utama BRI yang dirancang untuk memperluas jangkauan layanan perbankan melalui kemitraan dengan agen-agen lokal di berbagai daerah,” ungkapnya sebagaimana termaktub dalam laman resmi BRI.
Produk layanan BRILink merupakan inovasi genuine dan jenius dari BRI untuk meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air. Setiap AgenBRILink dibekali oleh aplikasi canggih untuk mampu melayani masyarakat setiap waktu, sehingga masyarakat di daerah terpencil sekalipun tetap dapat menikmati layanan perbankan.
BRILink menyediakan berbagai layanan perbankan sederhana seperti setor tunai, tarik tunai, transfer, pembayaran tagihan (listrik, PDAM, BPJS), pembelian pulsa dan paket data, serta pembayaran e-commerce.
Jika QRIS berkembang terus, apakah tidak akan memusnahkan BRILink? Menurut riset www.energindo.co.id, jawabannya adalah “iya” untuk hal tertentu dan “tidak” untuk hal tertentu lainnya.
BRIlink memberikan layanan perbankan sehingga eksistensinya akan terus berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di pelosok pedesaan terpencil. Sedangkan QRIS fokus pada pembayaran non-tunai untuk berbagai keperluan. Karena itu, layanan BRILink yang bersifat perbankan, seperti tarik tunai, setor tunai, atau tansfer tunai akan tetap eksis. Sementera layanan BRILink yang bersifat pembayaran bisa jadi semakin lama akan akan tergerus QRIS.
BRILink dan QRIS sejatinya harus saling bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain. QRIS dan BRILink harus bekerja sama karena integrasi ini memberikan kemudahan, keamanan, dan efisiensi transaksi digital bagi masyarakat dan pelaku UMKM. QRIS menyatukan berbagai metode pembayaran dalam satu kode, sementara BRILink menyediakan akses perbankan digital yang lebih luas melalui agen fisik.
QRIS sendiri sangat membutuhkan perbankan karena berperan sebagai “kaki tangan” QRIS untuk bisa terhubung dengan Bank Indonesia (BI) sebagai regulator. Selain itu, institusi perbankan lah yang memproses transaksi, verifikasi, dan menerbitkan merchant QRIS. Jangan dilupakan juga, perbankan menyediakan layanan pokok seperti pembukaan rekening yang menjadi dasar bagi pendaftaran QRIS. Karena BRILink berfungsi sebagai bank mini, maka urgensi BRILink sama dengan kebutuhan QRIS terhadap perbankan secara umum. Tanpa bank, sebagaimana juga tanpa BRILink di tempat tertentu, QRIS tidak dapat lahir dan memfungsikan aktivitas pembayaran lainnya.
Di atas segalanya, BRILink dan QRIS merupakan produk asli anak bangsa yang membuat kagum dunia. Presiden Amerika Serikat sendiri sampai meminta Pemerintah Indonesia menghentikan QRIS karena membuat sistem keuangan yang dibuat bangsanya seperti Master Card, Cirrus, atau Visa gigit jari.
Adapun BRILink mendapatkan penghargaan untuk Transformation Project dari The Banker, sebuah media khusus perbankan yang berbasis di London, Inggris, pada September 2023 lalu.
Kalau bangsa Indonesia tidak mendukung keduanya, maka kita patut bertanya: “Nikmat apa lagi yang kamu dustakan?”.
















































































