Jakarta, Energindo.co.id – Penyerahan sertifikat tentang selesainya Front-End Engineering Design (FEED) Masela telah rampung. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Besok Rabu (28/10/2026) akan segera ditandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG)-nya ke domestik untuk pemenuhan kebutuhan bagi PT Pupuk, PLN dan PGN serta ekspor LNG-nya,” kata Kepala Satuan SKK Migas Djoko Siswanto pada Energindo.co.id Selasa (27/10/2026). Sedang FEED, PJBG dan pengadaan barang dan jasa yang kini tengah berlangsung merupakan prasyarat utama investasi final atau Final Investment Decision (FID).
Penyelesaian FEED pada Oktober 2026 menjadi babak baru pelaksanaan proyek gas raksasa di Laut Arafura, Maluku, untuk melangkah menuju FID.
Dalam laporannya, Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto menyatakan penyelesaian FEED berhasil dipercepat sekitar tiga bulan dari jadwal awal yang direncanakan selesai pada akhir 2026.
“Alhamdulillah, pekerjaan ini akhirnya dapat diselesaikan lebih cepat sekitar tiga bulan, yakni pada Oktober 2026,” ujar mantan Plt. Dirjen Migas ini.
Penyelesaian FEED proyek Abadi Masela
dengan nilai investasi sekitar US$22 miliar ini, lanjut Djoksis, melibatkan pekerjaan dengan tingkat kompleksitas tinggi. Pekerjaan tersebut mencakup sistem bawah laut, jaringan pipa ekspor gas, fasilitas penyimpanan dan pengapalan LNG, serta fasilitas LNG lepas pantai.
Prosesnya membutuhkan koordinasi lintas kontraktor, konsorsium, tenaga ahli, dan berbagai pemangku kepentingan. Untuk menjaga kualitas desain, proyek ini juga menjalani independent design review yang melibatkan lebih dari 200 tenaga profesional dan ahli.
Sejumlah perguruan tinggi turut berkontribusi dalam proses penelaahan desain, yakni Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung.
Menurut Djoksis, kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam penyelesaian pekerjaan lebih cepat dari jadwal.
Ia mengapresiasi kontribusi INPEX Masela, jajaran SKK Migas, mitra proyek, perguruan tinggi, serta para vendor yang terlibat dalam tahapan tersebut.
Lebih jauh Djoksis mengutarakan, proyek LNG Abadi Masela dirancang menjadi salah satu penopang penting pasokan gas Indonesia. Dengan nilai investasi sekitar US$22 miliar, proyek ini ditargetkan menghasilkan gas sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Dari produksi tersebut, proyek direncanakan menghasilkan LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA), memasok 100 MMSCFD gas untuk kebutuhan domestik, serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Menurut Djoksis, pengembangan Masela tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi gas, tetapi juga pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Gas juga diharapkan menjadi bagian dari transisi menuju energi yang lebih rendah emisi. Dalam laporannya, Djoksis menyebut emisi gas sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan batu bara. Besaran tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan jenis emisi dan metode perbandingan yang digunakan.












































































