Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Pagi sudah mulai terang. Jarum jam menunjukkan 07.15 WIB dan kalender menunjukkan tahun 2021. Dari sebuah rumah di Kampung Cerewed, Duren Jaya, Bekasi Timur, Asriningtyas menyalakan motor barunya yang diperoleh melalui pembiayaan dari FIF, lalu menyusuri kawasan yang banyak pepohonan untuk mengumpulkan dedauan yang berjatuhan atau ranting yang patah.
Di kota yang semakin rapat oleh beton dan bangunan, daun yang ia cari tak lagi hadir di halaman rumah. Hingga suatu hari, ia memutuskan satu hal sederhana datang ke kantor FIF terdekat di Jalan Pahlawan, Bekasi Timur, untuk mendapatkan sebuah motor baru. FIFGROUP langsung menjadi pilihan karena menjamin keamanan dan kenyaman, menyediakan banyak solusi finansial, serta persyaratan yang mudah dan cepat.
“Sampai sekarang saya masih nasabah aktif di FIF, karena puterinya juga membutuhkan kendaraan untuk kuliah,” ungkapnya sambil tersenyum.
Dengan kendaraan itu, ia bisa mengumpulkan daun jati yang lebar, ketapang yang menguning, eucalyptus dengan aroma khas, daun jarak yang segar, hingga potongan kayu dan akar yang bentuknya tak lagi sempurna. Sebagian berasal dari ranting pohon yang tumbang, sebagian lagi dipungut dari tempat-tempat yang nyaris tak lagi dipandang orang.
Sesampai di rumah, Asriningtyas memulai percakapan sunyi dengan alam, bukan dengan melukis di canvas atau membatik dengan canting. Tangannya yang gemulai dengan lincah memindahkan satu demi satu daun ke atas hamparan kain berwarna gading, menyusunnya perlahan, seperti seseorang sedang menata kenangan agar tidak saling bertabrakan. Setelah komposisi dianggap pas, kain digulung rapat, diikat, lalu dikukus berjam-jam.
Ketika gulungan dibuka, alam memberikan kejutan. Kadang warna hijau berubah menjadi zaitun. Kadang daun yang semula tampak biasa justru meninggalkan guratan merah bata yang memesona. Ada kalanya motif hanya berupa siluet tipis, seolah dedaunan memilih berbisik, bukan berbicara lantang.
*** *** ***
Melalui Godhong Asri, Asriningtyas memperlihatkan bahwa selembar daun adalah arsip kehidupan. Tulang-tulangnya merekam musim, hujan, panas, dan usia. Ketika jejak itu berpindah ke atas kain, lahirlah karya yang tak mungkin disalin mesin mana pun.
Di tengah industri fesyen yang mengejar keseragaman dan kecepatan, Godhong Asri justru berjalan ke arah sebaliknya, yakni kelambanan. Ketidaksempurnaan pola dan gradasi warna dirayakan. Tidak ada dua motif yang benar-benar persis. Bahkan ketika daun berasal dari pohon yang sama, hasil akhirnya tetap berbeda. Seperti sidik jari umat manusia, alam menolak untuk menggandakan cerita kehidupan.
Perjalanan itu dimulai dari rasa ingin tahu. Asriningtyas belajar mengenali karakter setiap daun sebagaimana petani mengenali musim. Tidak semua tumbuhan bersedia meninggalkan warna. Ada yang memberi semburat pekat, ada yang hanya menyisakan bayangan. Jenis tanaman, kadar air, waktu pemetikan, hingga proses mordanting menentukan bagaimana alam akan “berbicara” di atas kain.
Baginya, ecoprint merupakan cara membangun hubungan yang lebih sabar dengan lingkungan. Prinsip “dari alam, kembali ke alam” tidak berhenti menjadi slogan. Daun, kayu, dan akar yang digunakan sebagian besar berasal dari sisa pohon tumbang atau ranting yang sudah tidak lagi dimanfaatkan. Sesuatu yang bagi banyak orang hanyalah limbah, di tangan Asriningtyas berubah menjadi produk bernilai seni.
*** *** ***
Kini, mencari bahan baku justru semakin menjadi tantangan tersendiri. Bekasi tumbuh menjadi kota yang padat oleh perumahan, jalan beton, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri. Pepohonan besar semakin jarang ditemui. Daun-daun yang mampu menghasilkan karakter ecoprint terbaik tidak selalu tersedia di sekitar rumah.
Karena itu, Asriningtyas kerap menempuh perjalanan ke luar kota untuk mencari bahan. Ia menyusuri jalan-jalan desa, tepian kebun, atau kawasan yang masih menyimpan vegetasi alami. Perjalanan itu bukan sekadar berburu daun, melainkan juga mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang disediakan alam.
Dalam kondisi seperti ini, kendaraan menjadi penting, baik sebagai alat transportasi, juga untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses kendaraan besar, mengangkut daun, ranting, kulit kayu, hingga berbagai material lain yang diperlukan dalam proses produksi. Di balik setiap motif yang tercetak pada kain, tersimpan perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kecil demi menemukan dedaunan yang tepat.
Bagi pelaku usaha mikro, kemudahan memperoleh sarana transportasi merupakan titik tolak untuk memperluas jangkauan, sekaligus menjaga agar roda usaha terus berputar.
Dari rumah yang juga menjadi workshop, Godhong Asri kini mampu menghasilkan sekitar 500 produk setiap bulan. Mulai dari pakaian, mukena, tas, sepatu, hingga berbagai produk fesyen berbahan kain ecoprint. Sebagian proses masih dilakukan sendiri, sementara pengerjaan produk tertentu melibatkan penjahit dan pengrajin mitra. Model ini membuat manfaat ekonomi turut mengalir kepada masyarakat sekitar.
Harga produknya berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp400 ribu. Kalau diasumsikan untuk pembayaran sepatu atau hijab, mungkin terasa mahal. Walakin harga itu sangat murah jika untuk membayar sebuah cerita tentang dedaunan yang pernah tumbuh, tentang tangan yang bekerja dengan sabar, dan tentang keyakinan bahwa keindahan bisa lahir secara alami. Juga tentang sebuah motor yang selalu menjadi teman setia.
Perjalanan Godhong Asri kemudian melampaui batas Kota Bekasi. Ketika banyak UMKM ragu memasuki pasar luar negeri karena rumitnya prosedur ekspor, Asriningtyas memilih belajar. Ia mengikuti Klinik Ekspor yang diadakan oleh sebuah lembaga negara, mempelajari dokumen, perizinan, hingga aturan perdagangan internasional. Produk-produknya mulai diperkenalkan melalui jaringan perwakilan Indonesia di luar negeri.
Kini produk-produk Godhong Asri suah menjangkau pembeli dari luar kota melalui Facebook, Instagram @godhong.asri, dan berbagai lokapasar digital. Dunia digital mempertemukan karya yang lahir dari dedaunan dengan konsumen yang mungkin belum pernah menginjakkan kaki di halaman rumah tempat semua proses itu bermula.
*** *** ***
Yang paling berharga dari cerita ini adalah cara Asriningtyas mengubah cara pandang terhadap alam. Di tengah budaya yang serba instan dan konsumtif, ia mengajarkan bahwa selembar daun memiliki nilai jika manusia bersedia memperhatikannya. Bahwa ranting yang patah tidak selalu berakhir menjadi sampah. Bahwa keberlanjutan adalah pembiasaan sederhana yang dimulai dari halaman rumah.
Barangkali karena itulah mengapa setiap karya Godhong Asri terasa hidup.Di dalamnya penuh dengan warna-warni alami yang berpijak pada kelestarian alam. Alam penuh dengan inspriasi dan rahmah bagi umat manusia yang peduli padanya, sebagaimana juga alam akan menjadi musibah bagi nafsu yang serakah.
Dengan kendaraan yang diperoleh berkat pembiayaan dari FIFGROUP, Asriningtyas tidak hanya mencari daun dan ranting, tapi juga menjaga agar manusia dan alam selalu bersatu.










































































