Jam menunjukkan Pukul 08.10 WIB. Pagi masih cerah menyambut mentari yang mulai menebarkan teriknya. Asap ayam bakar dari rumah makan Padang masih berdansa di udara, menghembuskan aroma lapar. Di NU Center, Rawalumbu Kota Bekasi, kesibukan mulai terlihat.
Ya, pada Ahad 17 Mei 2026, Lembaga at- Ta’lif dan an- Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) Kota Bekasi mencoba membangkitkan kembali tradisi lama yang mulai pudar, bahkan menghilang, yaitu tradisi menulis dan publikasi. LTN-NU adalah lembaga di bawah naungan NU yang bertanggung jawab menggalakkan penulisan dan publikasi.
“Sebelum mendirikan NU, KH. Hasyim Asy’ari merupakan seorang penulis puluhan kitab yang sampai kini menjadi rujukan hampir semua pesantren di Indonesia,” ungkap Ketua PCNU Kota Bekasi KH. Ayi Nurdin.
Bahkan setahun setelah NU berdiri, yakni sekitar tahun 1927, NU sudah mempunyai media resmi yaitu Suara NU, setebal 200 halaman lebih, ditulis dengan huruf Pegon berbahasa Jawa.
“Semuanya menunjukkan bahwa NU sangat peduli para media,” ungkap Kyai Ayi.
Untuk itulah, LTN-NU Kota Bekasi mengadakan Pelatihan Jurnalistik dan Medsos dengan tema: “Bukan Sekadar Viral, Tapi Bernilai.”
Dalam kesempatan ini hadir sebagai pembicara Ahmad Naufal (Redaktur NU Online) dan Deni Ardini (Pendiri Info Bekasi). Hadir dalam pelatihan ini sekitar 70 peserta. Ada anak muda yang bergairah, ada mahasiswa yang bergelora, dan ada pula orang yang mulai sepuh yang masih menantang takdir tuanya.
“Alhamdulillah telah hadir perwakilan NU dari tingkat ranting, Badan Otonom, maupun perwakilan pondok pesantren,” ungkap H. Mustofa, Ketua LTN-NU Kota Bekasi.
Ahmad Naufa dari NU Online yang berarti dari PBNU tampil penuh semangat, sebagai seorang provokator. Pengalamannya membela warga NU di Wadas yang tertindas seperti disajikan dipanggung.
“Warga NU harus rajin membuat konten atau menulis, agar kegiatan organisasi ini bisa dilihat dan dibaca oleh warga NU di wilayah lain, bahkan di manca negara,” ungkapnya.
Tak lupa ia menyisipkan pesan inspiratif betapa enaknya menjadi penulis atau jurnalis karena pasti akan sering dinomorsatukan untuk mengikuti acara pimpinan di lembaga kita mengabdi, baik di Indonesia bahkan ke luar negeri.
“Hampir semua profesi saat ini membutuhkan media, baik dalam bentuk video atau tulisan. Mau jadi ustaz, pedagang, insinyur, dan lain lain membutuhkan media promosi,” ungkapnya penuh semangat.
Sementara itu, Deni Ardini mengisahkan pengalaman pribadinya yang sangat terbantu dengan keberadaan media. Saat masih aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ia sering bekunjung ke berbagai daerah dan mendapatkan oleh-oleh. Namun ketika teman-teman BEM dari daerah berkunjung ke Bekasi, ia bingung memikirkan oleh-oleh apa yang layak diberikan kepada tamunya.
Akhirnya, ia merintis usaha oleh-oleh khas Bekasi. Ada kue Satu, Hampers Dodol, kue Sagon, Rengginang Mini, kue Biji Ketapang, Kerupuk Jengkol, dan lain sebagainya. Sebagian besar dari kue itu merupakan panganan khas Betawi, karena Kota Bekasi merupakan salah satu sentra warga Betawi.
Untuk memasarkan produk olahannya, Bang Deni sangat mengandalkan media sosial. Bahkan, untuk penjualanpun putera asli Bekasi kelahiran 1989 ini mengandalkan media. Berkat media sosial, usahanya yang beromset ratusan ribu perhari, kini sudah berkembang pesat menyentuh puluhan juta.
“Sekarang berbisnis tanpa dukungan media sangat sulit untuk berkembang,” ujar Bang Deni.
Kenapa warga NU perlu hadir di ruang digital? Atas pertanyaan ini Bang Deni memberikan jawaban bahwa NU perlu menyebarkan kebaikan dan inspirasi pada seluruh masyarakat.
“Selain itu, di Kota Bekasi dan di Indonesia warga NU cukup banyak. Ini cukup penting untuk mendorong Pemerintah agar selalu memperhatikan aspirasi rakyat,” ungkapnya.
Di akhir acara, para peserta mendapatkan Buku Wasathiyah Islam yang ditulis oleh M. Kholid Syerazi. Wartawan yang bergelut dengan peliputan energi pasti tak asing dengan beliau. Maklumnya, santri tulen dari berbagai pesantren ini juga adalah pengamat dan peneliti di bidang energi. Kini M. Kholid mendapatkan amanat sebagai salah satu anggota Dewan Energi Nasional (DEN), yaitu lembaga independen yang bertanggung jawab untuk merancang, merumuskan, dan mengawasi pelaksanaan kebijakan energi lintas sektor guna mewujudkan kemandirian dan ketahanan energisesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.
Meski bergelut dengan dunia energi, rupanya M. Kholid Syerazi tidak lupa sebagai orang NU, yakni menyebarkan pemikiran Islam yang moderat: tidak ekstrim kiri, juga tidak ekstrim kanan.














































































