Jakarta, Energindo.co.id – SKK Migas bersama Kementerian Transmigrasi resmi menandatangani nota kesepahaman bersama untuk memperkuat sinergi dalam mendukung kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) di kawasan transmigrasi dan area Hak Pengelolaan Lahan (HPL) transmigrasi.
Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di Jakarta, Senin (4/5/2026). Kerja sama ini membuka peluang optimalisasi pemanfaatan lahan transmigrasi untuk kegiatan eksplorasi dan produksi migas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan negara.
Dalam kesempatan tersebut, terungkap adanya potensi 13 sumur baru minyak dan gas di kawasan transmigrasi Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang akan dikelola Pertamina OSES.
Menurut Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara, temuan ini menjadi tonggak penting dalam transformasi transmigrasi, yang kini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis sektor strategis.
“Transmigrasi kini bertransformasi menjadi pusat ekonomi. Salah satunya melalui pengembangan sektor minyak dan gas di kawasan Samboja,” ujar Iftitah.
Eksplorasi dan pengelolaan potensi migas yang akan dilakukan ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect), mulai dari pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, hingga tumbuhnya usaha kecil di sekitar wilayah transmigrasi.
Kementerian Transmigrasi dan SKK Migas, lanjut Ifititah juga sepakat melakukan studi bersama terkait pemanfaatan HPL transmigrasi guna memastikan hasil yang optimal, termasuk peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto menjelaskan bahwa hasil kajian menunjukkan lahan transmigrasi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan eksplorasi hulu migas tanpa mengganggu aktivitas masyarakat. “Secara teknis, pengeboran bisa dilakukan secara miring, meski di atasnya terdapat permukiman, sawah, atau kebun,” jelas Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.
Menurut Djoksis, kegiatan pengeboran dijadwalkan akan dimulai bulan depan (Juni-red). Potensi yang teridentifikasi mencapai 11,64 MMSCF untuk gas dan 0,96 BOPD untuk minyak, “Di luar sumur masyarakat ya,“ kata Djoksis.
Pengeboran di wilayah eksplorasi diharapkan menjadi momentum penting dalam meningkatkan lifting minyak dan gas nasional, sejalan dengan visi kemandirian energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia, Sunaryanto, mengungkapkan bahwa nilai ekonomi proyek ini diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun, dengan kontribusi sekitar Rp1,1 triliun dari minyak dan Rp1,5 triliun dari gas.












































































