Film dokumenter ini mengisahkan ledakan Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883, atau sekitar 126 tahun lalu. Film ini dirilis BBC London pada 2013 lalu. Film ini berdasarkan catatan ilmuan Geologi dari Belanda bernama Rogier Verbeek yang mengalami sendiri kejadian itu.
Sebagai film dokumenter, film ini mengisahkan banyak cerita, namun semuanya bermuara pada hari-hari menjelang Krakatau meletus sampai mencapai puncak letusan pada 26 Agustus 1883. Ada kisah keluarga Jacob yang setia menjaga lampu menara, untuk memandu kapal-kapal agar tidak menabrak karang. Ada kisah kapten Kapal yang bekerja keras agar kapalnya tetap berada di tengah laut, sehingga selamat dari tabrakan akibat tsunami, meski kapal itu harus bertabrakan dengan ombak tsunami yang sebesar gunung, Ada kisah Elizabeth yang berusaha menenangkan penumpang kapal dengan bersikap tenang atau berpura-pura santai dan bernyanyi. Ada kisah asisten rumah tangga yang berusaha menyelematkan keluarga William, Belanda, dan mengungsi ke pegunungan berbaur bersama masyarakat setempat, dan lain sebagainya.
Film ini menggambarkan erupsi Krakatau di tahun 1883 sebagai bencana terbesar dalam sejarah. Suara ledakannya terdengar sampai Australia dan abunya menyebar sampai ke beberapa negara di Asia, seperti Jepang, bahkan konon juga sampai ke pantai di Amerika Serikat. Ledakan Krakatau menimbulkan bencana karena ledakannya sendiri yang bergemuruh membuat budek telinga, abunya yang beracun, dan tsunami yang menyapu daratan.
Di akhir film dikatakan: ledakan Krakatau telah memuntahkan 20 juta ton belerang ke atmosfir yang membantu mendinginkan suhu bumi sampai tahun 2000 atau mendinginkan suhu bumi selama sekitar 100. Ini berarti ledakan gunung Krakatau merupakan bagian dari mekanisme alam untuk menyelamatkan umat manusia di kemudian hari.
Saat ini, suhu bumi sudah mulai memanas lagi, karena berkurangnya hutan dan rusaknya lapisan ozon. Di sisi lain, gunung Anak Krakatau sudah sangat besar. Akankah, anak Krakatau akan memuntahkan jutaan ton belerang untuk mendinginkan suhu bumi selama 100 tahun ke depan, agar anak cucu kita dapat hidup layak di bumi?
Hanya Allah lah yang Maha Tahu…














































































