Jakarta, Energindo.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali memperkuat perannya dalam menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri melalui penyelenggaraan BRIN Goes to Industry (BGTI) Series 3. Mengusung tema “Sinergi Riset, Inovasi, dan Hilirisasi pada Xanthan Gum untuk Industri Migas; Aromatika; Kosmetik; dan Enzim”, kegiatan ini digelar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019, sekaligus memperkuat kemitraan strategis antara dunia akademik, industri, dan pemerintah (ABG – Academic, Business, Government). Fokus utama BGTI Series 3 adalah mendorong pemanfaatan bahan alam lokal sebagai solusi inovatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis.
Dalam kesempatan ini, BRIN meluncurkan sembilan inovasi unggulan yang telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (TKT) tinggi dan siap dikomersialisasikan bersama mitra industri. Salah satu inovasi utama adalah xanthan gum nasional, biopolimer yang berperan penting sebagai aditif dalam fluida pengeboran minyak dan gas guna meningkatkan efisiensi operasi.
Selain itu, BRIN juga menghadirkan inovasi di bidang biosains terapan berupa berbagai enzim strategis, seperti enzim urease untuk pengerasan jalan, enzim protease untuk industri penyamakan kulit, enzim lakase untuk kebutuhan whitening agent gigi dan produk perawatan kulit, serta enzim pitase dan mananase untuk pakan ternak.
Di sektor hilir lainnya, BRIN memperkenalkan inovasi produk aromatika dan kosmetik berbasis sumber daya alam lokal. Produk-produk ini dikembangkan untuk menjawab tren pasar global yang semakin mengarah pada penggunaan bahan alami dan berkelanjutan dalam industri personal care.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian menegaskan kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara riset dan implementasi industri, yang sering disebut sebagai “lembah kematian” inovasi. “Melalui forum ini, kami mempertemukan logika ilmiah periset dengan logika investasi industri. BRIN menyediakan akses teknologi, sementara industri berperan dalam pengembangan pasar,” ujarnya.
Berbeda dengan forum diseminasi konvensional, BGTI Series 3 mengedepankan pendekatan collaborative decision-making melalui sesi business matching dan one-on-one meeting. Setiap potensi kerja sama yang muncul akan didokumentasikan dalam bentuk Letter of Interest (LoI) sebagai komitmen awal untuk tindak lanjut konkret.
Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi inovasi, baik melalui skema lisensi teknologi maupun pengembangan produksi bersama antara BRIN dan mitra industri. Dengan demikian, hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi dapat memberikan nilai tambah ekonomi secara nyata.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai sektor industri, termasuk migas, farmasi, kosmetik, serta asosiasi terkait. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan tingginya minat industri terhadap pemanfaatan hasil riset nasional.
Melalui BGTI Series 3, BRIN menegaskan komitmennya untuk terus mendorong hilirisasi riset dan inovasi sebagai motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan. Sinergi antara riset dan industri diharapkan mampu meningkatkan daya saing nasional serta memperkuat kemandirian industri Indonesia di masa depan.










































































