Tahun 2016 merupakan tahun yang sangat sulit bagi Dilla Fadilla. Ketika anaknya baru saja berumur 4 bulan, sang suami tercinta harus meninggalkan mereka berdua selamanya, karena serangan jantung.
Mau tak mau, Dilla harus menjadi tumpuan bagi sang anak. Mula-mula, single parent ini mencoba berjualan kerudung secara offline di sebuah kios kecil di Semarang. Namun karena kurang berkembang, ia mencoba peruntungan di dunia online. Mula-mula ia mencoba bejualan melalui Blackberry Messenger dan e-commerce lainnya, namun belum juga memperlihatkan hasil yang menggembirakan.
Akhirnya, pada 2017, Dilla mencoba peruntungan dengan membuka toko di Lazada. Sembari membesarkan anak semata wayangnya, ia terus menekuni penjualan pakaian syar’i di platform tersebut. Berkat bimbingan dan pendampingan dari Lazada, tokonya yang bernama “Barokah Boutique Syar’i” berkembang pesat. Kini, toko online ini sudah mempunyai lebih dari 2000 followers dengan rating positif 93 persen.
*** *** ***
Dilla Fadilla menjadi contoh super woman yang pantang menyerah menghadapi kesulitan. Di usia produktif, ia tetap bekerja bahkan juga mampu mempekerjakan beberapa orang lain.
Di Indonesia, angkatan kerja semakin lama semakin bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Semester I tahun 2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 286,7 juta. Adapun jumlah penduduk yang memasuki usia kerja dan harus bekerja berjumlah 218,17 juta orang. Usia kerja adalah umur seseorang dianggap masih layak untuk bekerja, yakni dari umur di atas 15 tahun sampai 64 tahun.
Mengingat betapa besar penduduk yang harus bekerja, Pemerintah mewanti-wanti agar ekosistem e-commerce harus berpihak pada pelaku usaha lokal, bukan sebaliknya berpihak pada ekonomi asing. Salah satu alasannya adalah agar tenaga kerja yang membludak dapat terserap dengan baik. Jika tidak, maka pengangguran akan tumbuh di mana-mana, pada akhirnya memicu kriminalitas, konflik sosial, bahkan huru hara politik.
“Kami terus mendorong penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik, baik lokal maupun asing, untuk aktif memasarkan produk dalam negeri dan mendukung daya saing UMKM di pasar global,” ujar Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, melalui laman resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), pertengahan Oktober lalu.
*** *** ***
Transaksi melalui e-commerce menunjukkan tren perkembangan yang lumayan pesat. Data Kemendag mencatat nilai transaksi e-commerce sepanjang 2024 mencapai Rp512 triliun, tumbuh 12,7 persen dari 2023. Pada 2025, sampai kwartal III, sudah mencapai Rp417 triliun, sehingga nanti di akhir tahun akan melampaui pencapaian tahun 2024.
Dengan nilai eonomi sejumbo itu, lalu e-commerce tidak berpihak pada pelaku usaha lokal, maka “kiamat” akan terjadi di bumi Nusantara. Hal ini tidak hanya merugikan ekosistem e-commerce sendiri, melainkan juga mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nah, salah satu e-commerce yang sangat berpihak pada pelaku usaha lokal adalah Lazada. Ada beberapa hal yang telah dilakukan institusi ini untuk mengembangkan pelaku usaha lokal, yaitu:
Pertama, membuat program Gerakan Akselerasi Karya Rakyat Indonesia (AKAR Indonesia). Melalui program ini, Lazada melakukan penutupan akun pedagang dari luar negeri untuk kategori produk tertentu seperti tekstil, fesyen, kuliner, dan kerajinan, lalu pada saat yang bersamaan mempromosian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tujuan dari program ini sangat jelas, yaitu melindungi UMKM domestik dari serbuan produk-produk impor.
Kedua, Lazada mempromosikan produk lokal melalui berbagai cara seperti penawaran promosi (diskon, gratis ongkir, atau flash sale), iklan berbayar (iklan di halaman utama, iklan per klik), program afiliasi, dan kemitraan dengan platform lain seperti Meta (Facebook dan Instagram), sehingga menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, Lazada juga mendorong pelaku usaha lokal untu memasuki LazMall, dengan persyaratan produk yang dijual harus baru dan asli, memiliki toko retail fisik minimal 3 cabang, serta memenuhi persyaratan metrik kinerja penjual yang baik terutama dalam soal respon pembelian, pembatalan, atau komplain.
Ketiga, Lazada melakukan pendampingan kepada UMKM dengan sungguh-sungguh, agar UMKM sukses memasuki ekosistem e-commerce. Dalam proses pendampingan, Lazada membangun Lazada University dan KeLaz Belajar. Lazada University adalah wahana edukasi khusus yang dirancang untuk membantu penjual dalam mengembangkan bisnis mereka di e-commerce. Program ini menyediakan pelatihan gratis, seminar, dan klinik konsultasi untuk mengajarkan strategi e-commerce, manajemen toko, marketing, dan operasional pengiriman. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan penjual dan membantu mereka naik kelas dalam berjualan online.
Sedangkan KeLaz Belajar adalah pusat pelatihan bisnis online yang dihadirkan oleh Lazada untuk membantu pelaku UMKM serta penjual agar terus berkembang. Program ini menawarkan berbagai fasilitas dan kelas, seperti tips berjualan online, foto produk, live streaming, dan pemanfaatan fitur-fitur platform Lazada.
Keempat, Lazada mengembangkan strategi hiperlokal yang memungkinkan konsumen di satu tempat membeli barang yang dibutuhkan pada penjual terdekat, lalu dilayani logistik yang paling dekat. Strategi hiperlokal ini sudah layak untuk dikembangkan secara nasional, setelah beberapa waktu dilaksanakan secara terbatas di Surabaya, Jawa Timur.
*** *** ***
Dengan berbagai langkah-langkah di atas, selayaknya jika Lazada mendapatkan penghargaan sebagai platform e-commerce yang paling bersungguh-sungguh dalam mengembangkan pelaku usaha domestik.
Selanjutnya, Pemerintah perlu menjadikan Lazada sebagai tolak ukur atau standar bagi e-commerce lainnya dalam mengembangkan pelaku usaha domestik. Dengan begitu, keperpihakan e-commerce terhadap pelaku usaha domestik menjadi riil dan terukur, serta bukan sekadar “omon-omon” saja.














































































