Jakarta, Energindo.co.id – Insan Kehumasan Industri Hulu Migas, selama 2 (dua) hari melaksanakan kegiatan Rapat Kerja (Raker) Kehumasan 2026 sebagai upaya melakukan evaluasi atas program yang telah dilaksanakan, menyusun program bersama di tahun 2027. Kegiatan Raker kehumasan tersebut menjadi sarana saling berbagai pengalaman, sehingga bisa saling belajar untuk dapat menerapkan aktivitas kehumasan yang terbaik untuk dapat membangun dan meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan dalam rangka menjaga kelancaran operasi hulu migas dalam mendukung pencapaian lifting.
Raker Kehumasan tersebut dibuka oleh Sekretaris SKK Migas Luky A. Yusgiantoro dan diikuti oleh fungsi kehumasan di SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Lebih dari 150 peserta kehumasan dari KKKS hadir pada kegiatan tersebut.
Pada laporannnya, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Heru Setyadi menyampaikan kegiatan Raker Kehumasan 2026 mengambil tema Shared Perspectives, Shared Growth. Tema ini bukan sekadar rangkaian kata. Setiap peserta datang dengan sudut pandang yang berbeda karena medan yang dihadapi juga berbeda. Ada yang bekerja dekat dengan media, ada yang setiap hari berhadapan dengan komunitas, dan ada yang terus menjaga keselarasan di dalam organisasi.
“Kita boleh bekerja di organisasi yang berbeda, wilayah kerja yang berbeda, dan menghadapi persoalan yang berbeda. Tetapi di mata publik, kita berada dalam satu ekosistem Hulu Migas. Karena itu, kualitas komunikasi kita tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masing-masing organisasi, tetapi juga oleh kemampuan kita membangun pemahaman dan kepercayaan secara bersama,” ujar Heru
Heru menyampaikan semangat pada Raker ini, bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Bukan ruang untuk membandingkan siapa yang paling berhasil. Ini adalah bengkel bersama – tempat kita membongkar persoalan, menguji pendekatan, dan menyusun cara kerja yang lebih berguna.
”Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh insan Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan SKK Migas dan KKKS. Banyak pekerjaan Bapak dan Ibu tidak pernah sampai ke panggung, tetapi dampaknya terasa dalam perjalanan industri,” imbuhnya.
Dalam arahannya, Sekretaris SKK Migas menyampaikan fungsi kehumasan diaharapkan menjadi strategic enabler. Masyarakat berbeda-beda latar belakangnya dan tentu membutuhkan cara pendekatan kehumasan yang berbeda. “Cara melakukan komunikasi berbeda-beda untuk para pemangku kepentingan yang memiliki latar belakang yang berbeda, karena latar belakang dan budaya yang berbeda-beda, dari Aceh sampai Papua,” terangnya.
Lebih lanjut Luky menjelaskan bahwa menjadi strategic enabler adalah sangat penting, sehingga dalam 2 hari Raker Kehumasan bisa diwujudkan menjadi strategic enabler, tidak hanya menjadi supporting function. Thema pada Raker selama 2 hari, adalah shared perspective, shared growth. Fungsi dari kehumasan adalah membantu perspektif yang berbeda-beda dimasukkan dalam satu wadah dan bagaimana wadah tersebut dikomunikasikan ke publik.
Dia menekankan agar fungsi kehumasan harus hadir lebih awal, berpikiran strategis dan bekerja secara ekosistem. Bagaimana membangun kepercayaan (trust) bagi para pemangku kepentingan, maka fungsi kehumasan membantu membuka ruang, membantu pekerjaan dapat diteruskan dan membantu membuka dukungan dari berbagai pihak. Fungsi kehumasan harus mampu melakukan hal-hal preventif agar sesuatu tidak berkembang menjadi hal yang tidak baik.
Kemudian dia mengingatkan jika di era sekarang sangat berbeda terkait pemberitaan, terlebih di era media sosial. Ini harus menjadi perhatian bagi insan kehumasan hulu migas. Perbedaan dan hambatan harus ditangani secara preventif communication. Insan kehumasan hulu migas setelah Raker ini dapat membawa cara kerja baru, kemudian dapat mendukung pencapaian target dengan kemampuan membangun kepercayaan dari para pemangku kepentingan.









































































