Jakarta, Energindo.co.id – Memadupadankan industri dengan nasionalisme dalam satu tarikan nafas. Kok bisa? Padahal industri sarat dengan logika untung-rugi. Nasionalisme justru membutuhkan pengorbanan. Namun di tangan pria kelahiran Tinombo, sebuah dusun di Gorontalo, Sulawesi Utara, tidak ada yang mustahil di kolong jagad raya. Dialah (Alm.) Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel. Pelopor industri elektronika di Indonesia.
Menurut Muhammad Arief Gobel, salah seorang putera Rachmat Gobel, sang kakek adalah pejuang dan pelopor radio transistor pertama di Indonesia. “Dengan bantuan dari Jepang, beliau merintis radio transistor. Semangat yang diemban agar pidato Bung Karno dapat didengar seluruh rakyat dan menjangkau pelosok di Tanah Air,” kata Arief seperti dikutip dari #swamediainc 13 Juni 2025.
Tidak hanya radio, pada 1962 dalam momentum Asian Games, lanjut Arif, kakek diminta untuk membuat 10.000 televisi hitam putih. “Pengalaman tersebut ditanamkan oleh kakek, bahwa perusahaan tidak hanya berbisnis tetapi juga dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme melalui tontonan Asian Games lewat televisi,” tutur Arief.
Dalam catatan Wikipedia, Asian Games 1962 secara resmi dikenal sebagai Pesta Olahraga Asia ke-4, diselenggarakan di Jakarta, Indonesia. Acara ini berlangsung dari 24 Agustus hingga 4 September 1962 dan diikuti oleh 17 negara dengan mempertandingkan 15 cabang olahraga. Sebagai tuan rumah untuk pertama kalinya, Presiden Sukarno menjadikan acara ini sebagai proyek nation branding untuk menunjukkan kekuatan dan kebanggaan Indonesia di kancah internasional.
Lebih jauh Arief menuturkan kakeknya memimpin perusahaan dengan teladan bukan sekadar omongan. Misalnya, peraturan masuk kantor jam 07.00, maka beliau sebagai pemimpin masuk lebih pagi dari karyawannya.
Pola kepemimpinan Gobel ini dapat dibaca dari biografi kakeknya Arief, yang berjudul “Gobel, Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 1994) 512 halaman. Buku tersebut ditulis oleh Ramadhan KH. Digambarkan, pribadi Thayeb Mohammad Gobel semakin kelihatan nyata, bukan saja karena beliau merupakan salah seorang pelopor kebangkitan industri elektronika di Tanah Air, tetapi juga, karena menampilkan falsafah usaha pohon pisang. Pohon pisang yang dulu selalu dia amati semasa kecil di Tinombo.
“Pohon pisang itu meski selalu tampak lemah, tetapi setiap kali ditebang akan tumbuh dan terus kembali menghasilkan buah. Mengapa? Karena pohon pisang menyadari, buah yang dihasilkan bermanfaat untuk manusia.” Hasil pengamatan ini oleh Gobel lantas dipakai untuk dirumuskan sebagai falsafah ketika mendirikan perusahaan elektronika yang kini dikenal publik dengan nama Gobel Group.
Tidak hanya soal falsafah, buku ini juga mengungkapkan pengalaman Gobel tatkala menghadapi Peristiwa Malari, Januari 1974. Sebagai perusahaan patungan dengan Jepang, seluruh pabrik berikut jaringan pemasarannya saat itu menjadi sangat rawan. Lebih khusus lagi dengan kenyataan, untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri Tanaka ke Indonesia, Gobel telah terlanjur memasang iklan besar berisi ucapan selamat datang.
Disinilah kejeniusan Gobel terlihat. Walau sempat bingung dan nyaris putus asa bila perusahaan yang dibangunnya menghadapi kemungkinan datangnya amukan massa. Faktanya, Gobel selamat. Perusahaannya aman. Terus berjalan hingga kini mencapai usia 70 tahun.
Lalu, tentang iklan selamat datang kepada Tanaka, Gobel berargumen, “…semata-mata sebuah ucapan penghormatan kepada seorang tamu resmi negara.” Hal ini sesuai dengan ajaran Islam. Apalagi selain sebagai pebisnis, Gobel juga aktivis Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berlambang Kabah. Karena itu tidak heran bila ajaran Islam dijadikan panduan hidup.
Dalam sejarah sosiologi Islam, memuliakan tamu telah dipraktikkan oleh Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, ”Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (para tamu) sambil berkata, “Tidakkah kalian makan?” (QS. al-Dzariyat/51: 26-27).
Gemblengan Gobel ke Rachmat
Walau hari-harinya penuh kesibukan tetapi Gobel tidak abai terhadap tugas utamanya sebagai ayah. Ia tetap mendidik putra-putrinya, termasuk pengembangan bisnis keluarga. Rachmat Gobel, putra sulungnya menuturkan dirinya sejak kelas 6 SD setiap hari Minggu disuruh menemani Almarhum di kantor. Padahal, itu kan bukan hal yang menyenangkan karena merupakan masa bermain. “Tetapi, tetap saja saya harus ikut. Untuk menghilangkan kebosanan, Almarhum meminta anakanak karyawannya menemani saya main bola. Kalau tidak main di Cawang sini, ya, di pabrik satunya yang ada di dekat Cibubur,” kenang Rachmat seperti dikutip dari Kompas, Minggu 16 Februari 2003 yang ditulis oleh Astono, Banu; Kusuma dan Buyung Wijaya dengan judul “Lebih Jauh Dengan Rachmat Gobel.
“Kalau tidak menemani hari Minggu, saya diperintahkan membawa makan siang ke kantor, menemani Almarhum makan. Di situ kami ngobrol berdua tentang pabrik dan segala hal. Entah saya tahu atau tidak, pokoknya diajak ngobrol saja. Demikian juga jika Almarhum tidak pulang ke rumah karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, saya diminta menemani. Paginya berangkat sekolah dari kantor Almarhum,” ujar Rachmat.
Terkait dengan bisnis yang ditekuni ayahandanya, biasanya beliau mengajarkan untuk tidak sekadar membangun pabrik, tetapi juga membangun industri. Intisari membangun industri adalah membangun manusia, karena itu terdapat tata nilai dan ilmu di situ.
“Industri tidak hanya menyediakan lapangan kerja atau mempekerjakan orang. Kalau hanya itu, tiap kali ada tenaga kerja lebih murah di negara lain atau ada tawaran dukungan infrastruktur yang lebih baik, investor bisa langsung pindah,” kata Rachmat, dikutip dari Kompas, Minggu 1 Mei 2011 yang ditulis oleh Hidayati, Nur Persona dengan judul “Rachmat Gobel Membangun Manusia, Bukan Pabrik”.
“Investasi akan bertahan jika tenaga kerja kita terdidik. Dengan pendidikan, investasi yang keluar hanya investasi bernilai tambah rendah, sedangkan yang nilai tambahnya tinggi akan terus masuk sejalan dengan perkembangan teknologi,” tambah Rachmat. Dengan nilai-nilai dan falsafah pohon pisang serta pengejawantahannya, masuk akal bila Gobel Group terus survive, berkembang, dan berkelanjutan serta bermanfaat bagi bangsa dan negara hingga usia 70 tahun.









































































