Pagerungan Besar, Energindo.co.id – Indonesian Petroleum Association (IPA) memasuki 5 dekade kiprahnya. Menandai lika-liku perjalanannya dihelat perayaan IPA Convex 2026 yang bakal digelar pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD City Tangerang Selatan Banten.
IPA sebagai wadah bagi pelaku industri hulu migas tidak saja berikhtiar berburu minyak dan gas bumi (Migas) tetapi juga mendorong anggotanya untuk tidak alpa terhadap kewajibannya menjaga kelestarian hingga keberlanjutan lingkungan daerah sekitar operasi.
Demi menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan inilah yang dilakukan Kangean Energy Indonesia Ltd. (KEI) di wilayah operasinya, Pulau Pagerungan Besar Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur (Jatim). Perusahaan migas yang aktif dalam organisasi IPA ini sangat agresif melakukan konservasi Pohon Satigi. Ratusan pohon Santigi ditanam di sekitar areal operasi KEI, yang kebetulan tidak jauh letaknya dengan pinggir pantai.
Konservasi Pohon Santigi dilakukan bukan tanpa alasan. Pemilihannya didasarkan pada kebutuhan warga yang menjadikan Pohon Santigi sebagai bahan kerajinan kayu Santigi. Apalagi spesies jenis Santigi termasuk pohon langka.
Menurut A. Rinto Pudyantoro dalam bukunya berjudul Multiplier Effect Industri Hulu Migas, halaman 192 disebutkan program CSR (PPM) hulu migas bergantung dan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, serta disesuikan dengan karakteristik wilayah kerja dan juga karakteristik masyarakat sekitar. Jadi memang program-program CSR/PPM dirancang berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Penulis diajak oleh Tim KEI untuk meninjau lokasi konservasi Pohon Santigi. Berada di areal operasi migas KEI, di bibir pantai Pagerungan Besar. Dari papan yang dipancang dekat areal konservasi, tertulis keterangan jumlah Pohon Santigi yang ditanam. Perinciannya; tahun 2015 ditanam sebanyak 125 pohon. Tahun 2016 ditanam 150 pohon. Dan tahun 2017 sebanyak 100 pohon.
Gerakan pelestarian lingkungan ini diamini oleh Nur Hidayat, pengrajin Kayu Santigi. Dia mengatakan pihak KEI, yang menjadi pembina kerajinannya, sering melakukan sosialisasi tentang kewajiban menjaga lingkungan hutan dan tanaman Pohon Santigi agar tetap lestari. “Bukan hanya pembinaan kerajinan kayu tetapi KEI juga memberikan pelatihan pembuatan, manajemen dan administrasi serta pemasaran bisnis hingga penjagaan terhadap kelestarian hutan,” ungkapnya seraya menambahkan pihak KEI turut melakukan budidaya penanaman pohon Santigi.
Pengakuan ini diamini oleh Ahmad Baidowi, Community Development (Comdev) Officer KEI. “Kita melakukan konservasi tanaman pohon Santigi. Ratusan bibit kita tanam di pesisir Pagerungan Besar,” ujarnya, seraya mengimbuhkan Santigi termasuk pohon langka. Karenanya menjadi kewajiban Perusahaan untuk terus menjaga, memelihara dan melakukan penanaman kembali sehingga ekosistem terus terjaga di tengah isu perubahan iklim.
Sebagai catatan, pohon Santigi atau Kayu Stigi. Santigi merupakan tanaman perdu yang kerap dijumpai di wilayah pesisir dan disekitar hutan mangrove. Kayu ini mendapatkan julukan “Si Raja Bertuah” karena dianggap memiliki nilai magis yang kuat. Stigi termasuk jenis kayu yang langka dan keberadaannya dilindungi oleh pemerintah. Pohon ini tidak dapat ditebang sembarangan, harus ada izin penebangan khusus.
Pak Hidayat, begitu sapaan akrabnya, mengisahkan awal mula merintis kriya kayu Santigi hingga menjadi binaan KEI. “Mulanya kita hanya berinisiatif saja. Sebelum pembebasan lahan operasi migas, kayu Santigi sudah biasa kita jadikan pipa rokok, ular-ularan, tongkat komando, dan kerajinan lainnya,” kata Hidayat. Setelah KEI beroperasi, barulah ada tawaran untuk menjadi binaan usaha perusahaan migas ini. “Apa yang bisa kita lakukan untuk pengembangan kerajinan Kayu Santigi,” kata Hidayat, menirukan ucapan dari orang perusahaan.
Gayung bersambut. Tawaran perusahaan diterima senang hati. Saat itu tahun 2005. Selanjutnya dibentuk kelompok kerajinan kayu Santigi, sebagai prasyarat menjadi binaan usaha KEI.
Saat ini terbagi dalam 7 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 6 orang anggota. Omset 7 kelompok per bulan bisa tembus di atas angka Rp20.000.000 Sebagai binaan, usaha kerajinan kayu ini memperoleh berbagai bantuan. Mulai dari pelatihan manajemen, pembinaan dan dibawa ke beberapa pameran. Produk perdana kerajinan kayu Santigi yang dipesan khusus KEI berupa replika Kapal Arkarega dan cooper.
Tembus pasar global
Pada umumnya, produk kerajinan kayu Santigi, yaitu tasbih, pipa rokok dan gelang. Keempat jenis produksi kriya ini menjadi primadona. Laris manis di pasaran. Bahkan menembus persaingan di pasar internasional, seperti Australia, Malaysia, Lebanon dan Turki. Dari penuturan Hidayat, pembeli Australia memesan hingga ratusan gelang. Selain itu, lanjutnya, dia memesan replika Kapal Pinisi dan perahu nelayan. Harga dibandrol Rp3.500.000. Sedang konsumen Malaysia membeli ikat pinggang dan tasbih. Orang Lebanon membeli Tongkat Komando. Ada pula pemesan dari Turki. Dia memesan 5000 buah tasbih tetapi masih masih proses negosiasi.
Sentuhan manajemen KEI juga menaikkan harga kerajinan Kayu Santigi. Sebelum ada keterlibatan KEI, harga pipa rokok Rp2.500. Untuk harga tasbih Rp25.000. Setelah kriya kayu dipoles KEI, harga pipa rokok melonjak menjadi Rp20.000 -25.000. Begitu pun harga tasbih, meroket hingga Rp75.000.
Sedang harga tongkat komando sebelum ada pembinaan dari KEI berkisar antara Rp75.000 – 80.000. Kini melonjak diatas Rp200.000. Begitu pun harga Kapal Penisi, yang sebelumnya Rp700.000. Saat ini tembus hingga Rp1.750.000. “Pemesan replika Kapal Pinisi sudah tidak terhitung jumlahnya,” cetus Hidayat.

Polesan manajemen KEI tidak hanya meroketkan harga secara drastis tetapi menaikkan volume produksi. Hal ini berkat support alat-alat penunjang kerajinan. Misalnya, sebelum datangnya alat penunjang, pembuatan tasbih membutuhkan waktu lebih dari tiga hari. Untuk pembuatan Tongkat Komando bisa memakan waktu seminggu. “Setelah dibantu peralatan, sehari bisa menyelesaikan lima buah tasbih. Untuk pipa rokok bisa tuntas 10 buah sehari, untuk Tongkat Komando kelar dua hari,” papar Hidayat, dengan wajah berbinar. Untuk pembuatan Kapal Pinisi dibutuhkan dua bulan. Setelah dibantu peralatan oleh KEI bisa rampung 20 hari, tambah Hidayat.
Saat ditanyakan apakah produk kriya Kayu Santigi turut memanfaatkan digital marketing, dia menjawab, “Sempat dipasarkan di market place seperti Tokopedia. Bahkan kita sempat melakukan zoom meeting dengan mereka”. Namun karena jaringan internet tidak stabil maka marketing digital tidak berkelanjutan. “Kita akan coba melakukan hal yang sama melalui media sosial seperti Facebook,” ujarnya.
Usaha kriya kayu Santigi ini tidak hanya berorientasi bisnis. Tetapi juga mengkader anak-anak sekolah. “Ada beberapa anak sekolah yang ikut dikaryakan di workshop ini. Misalnya, mereka mengamplas hasil kerajinan kayu. Mereka kita kasih uang jajan dari kerja di workshop ini,” tandas Hidayat seraya mengimbuhkan bahwa karya seni kayu tidak merusak lingkungan. Jadi, kriya Kayu Santigi selain mendongkrak ekonomi warga juga menjadi solusi alternatif pengurangan emisi karbon.
Perjalanan menuju Pagerungan Besar
Selasa pagi sekira pukul 06.40 WIB (17/6/2025) penulis beranjak untuk cek out dari Hotel Swiss-Belinn Airport Surabaya. Bergegas menuju Bandara Juanda, Surabaya. Tepat pukul 07.00 tiba-tiba telepon seluler berdering kencang. Seraya menyeruput kopi susu hangat, handphone diangkat. Terdengar suara seorang laki-laki menanyakan posisi kami; ‘Apakah Bapak sudah berangkat ke bandara? Kami menjelaskan kami sedang sarapan. Suara laki-laki di handphone meminta untuk segera ke bandara. “Pesawat akan take off pada pukul 08.30,” jelasnya. Tanpa berpanjang lebar kata, kami segera keluar hotel dan melaju dengan mobil Kijang ke bandara. Rupanya si penelepon adalah Tim Event Organizer pemberangkatan ke Pagerungan Besar.
Singkat cerita, sesampainya di Lounge Eksekutif Bandara, kami disambut Ibu Irfany, Humas Kangean Energy Indonesia (KEI). Dia menjelaskan tentang beberapa Program Pengembangan Masyarakat (PPM) KEI dan dukungan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) salah satunya kerajinan Kayu Santigi (Memphis Acidula) yang hingga kini masih bertahan dan berkembang. Bahkan menjangkau pasar internasional.
Setelah briefing keselamatan selama di pesawat menuju Pagerungan Besar, kami pun bergegas menuju pesawat. Tepat pukul 08.30 pesawat Pegasus Airlines berpenumpang 14 orang bersiap take off. Petualangan melayang-layang di udara selama kurang lebih 1 jam 20 menit ini atau 350 km menembus gugusan awan putih dan biru dan melintasi 126 pulau di wilayah Kabupaten Sumenep. Pukul 09.30 pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Khusus Pagerungan Besar milik KEI. Pulau Pagerungan Besar termasuk wilayah 3 T (Terdepan, Terluar dan Terbelakang).
Setibanya di Bandara Pagerungan Besar, kami disambut oleh tim KEI. Diantaranya Ahmad Baidowi, Comdev Officer KEI dan timnya. “Selamat datang di KEI,” sambut Ahmad Baidowi seraya menjabat tangan kami. Sesaat setelah mengisi daftar tamu dan memperoleh nomor mess penginapan di Blok B No 17, kami berjalan kaki kurang lebih 100 – 150 meter menuju arah mess penginapan dipandu oleh Ibu Fany.
Seusai melepas penat, sekira pukul 14.00 kami berbincang dengan Ahmad Baidowi yang didampingi Imam Rachmanto, Maintenance Superintendent KEI dan Ibu Irfany.
Dalam perbincangan tersebut disinggung pula terkait kriya Kayu Santigi.
Menurutnya salah satu Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang bisa bertahan hingga kini, yaitu Kerajinan Kayu Santigi. “Besok pagi, Bapak kami ajak berkunjung ke workshop pengrajin Kayu Santigi,” ucapnya. Keesokan harinya, Rabu (18/6/2025) setelah menempuh perjalanan melewati hutan selama 45 menit, penulis dipertemukan dengan Nur Hidayat, sang pengrajin Kayu Santigi. Dan terungkaplah kisah seperti diceritakan.












































































