Jakarta, Energindo.co.id – “Dua tahun lalu saya pernah manggil Sri Yunanto Prof,” ujar Jenderal (Purn.) Wiranto saat memberikan sambutan pada penganugerahan Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Selasa, (13/1/2026). Kontan pernyataan Penasehat Khusus Presiden Prabowo Subianto Bidang Politik dan Keamanan ini disambut gelak tawa para hadirin yang memenuhi ruangan Aula Azhar Basyir.
Sesaat kemudian Wiranto melanjutkan, “Alhamdulillah hari ini saya menyaksikan sendiri dan turut hadir acara penganugerahan Guru Besar bagi Sri Yunanto dalam Ilmu Politik dan Humaniora. Kalau di dunia militer, Guru Besar itu selevel Jenderal,” ucap Wiranto.
Sebelum momen penganugerahan Guru Besar dilakukan, Sri Yunanto menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Dari Kekuatan Nilai ke Kekuatan Kebijakan: Pengembangan Soft Power Menuju Indonesia Emas 2045”
Menurut Sri Yunanto penguatan kebijakan dapat dijadikan sebagai variabel soft power menuju Indonesia Emas 2045. Oleh sebab itu, paparnya, Indonesia harus tetap Konsisten melanjutkan Nilai, Budaya yang diperjuangkan oleh Orde Lama, Orde Baru, dan reformasi dengan berbagai dinamikanya. Nilai-nilai tersebut terbukti menjadi soft power yang efektif dan akan terus menjadi daya tarik.
Dia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia di masa depan berbeda dengan Orde-Orde sebelumnya.
“Pengembangan variabel nilai, ideologi politik dan budaya ini tidaklah cukup. Indonesia harus meningkatkan kualitas kebijakan sebagai satu variable dari soft power, yang diperlukan sebagai instrument untuk mencapai indikator-indikator Indonesia Emas 2045,” urainya. Diantaranya, adanya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM); adanya laju pertumbuhan ekonomi; adanya perbaikan tata kelola, serta transformasi kehidupan sosial, dan upaya untuk meningkatkan stabilitas, pertahanan. Disamping itu memperkuat pengaruh di kancah regional dan Internasional.
Penganugerahan gelar Guru Besar disematkan langsung oleh Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, S.Sos., M.Si. Ma’mun mengatakan dalam sambutannya bahwa Sri Yunanto menjadi mitra diskusinya. “Utamanya terkait soal politik dan isu teroris. Kendati dalam soal teroris saya berbeda pandangan dengan Sri Yunanto,” katanya. Walaupun demikian, perbedaan pandangan tersebut tidak menghalangi dirinya untuk terus menjalin komunikasi dan bermitra kerja di kampus UMJ.
Penganugerahan Guru Besar tidak hanya diberikan kepada Sri Yunanto. Gelar Guru Besar juga dibeikan kepada koleganya sesama dosen di UMJ, yaitu Prof. Ir. Anwar Ilmar Ramadhan, Ph.D., IPM., Prof. Dr. Muhammad Hadi, S.K.M., M.Kep., dan
Prof. Dr. Drs. Sopa, M.Ag.
















































































