Cibinong, Energindo.co.id – Pisang merupakan salah satu komoditas pangan utama dunia dan menjadi makanan pokok bagi jutaan penduduk, termasuk Indonesia, dan khususnya di beberapa negara Afrika. Di mana, pisang berperan penting dalam ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat pedesaan.
Namun, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, yang dapat berdampak serius terhadap gizi, pendapatan petani, dan stabilitas sosial.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratih Asmana Ningrum, mengatakan, ancaman terbesar terhadap produksi pisang antara lain penyakit layu Panama yang disebabkan jamur tular tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense, serta penyakit Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebabkan virus Banana bunchy top yang disebarkan oleh serangga.
Patogen tular tanah Fusarium ini sangat sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Sehingga, metode pengendalian konvensional tidak lagi memadai. Sedangkan penyebaran virus oleh serangga juga sukar dikendalikan.
“Oleh karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ratih.
Pemuliaan pisang menghadapi tantangan biologis yang unik karena sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid. Kondisi ini membatasi metode pemuliaan konvensional dan menuntut pendekatan inovatif yang menggabungkan bioteknologi dengan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar. “Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Ratih, inti dari proyek ini adalah mengoleksi pisang liar. Kemudian mempelajari sifat-sifat ketahananan dan sifat-sifat lain yang penting untuk budi daya pisang. “Selanjutnya, menggunakan plasma nutfah pisang liar yang telah diketahui sifat-sifatnya untuk membentuk genotipe unggul tahan Fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya,” urai Ratih.
Genotipe-genotipe unggul yang menjadi salah satu output dari proyek ini akan menjadi induk persilangan dalam merekayasa varietas pisang yang sesuai kebutuhan. Genotipe unggul ini akan dapat dimanfaatkan oleh partner dalam kerja sama ini, seperti International Institute for Tropical Agriculture (IITA) yang mengelola penyebaran ke petani dan breeder di Afrika, serta oleh BRIN bersama kementerian terkait akan disebarkan juga ke negara Asia Tenggara.
“Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut,” jelasnya.
Kegiatan riset ini dipimpin oleh BRIN yang berperan aktif melalui para periset ahli di bidang teknologi omics dan pemuliaan pisang. BRIN berkomitmen penuh dengan menyediakan berbagai dukungan melalui pendanaan, fasilitas laboratorium, dan lahan, serta skema mobilitas periset melalui pembiayaan periset tamu dan beasiswa pascasarjana.
Riset ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) – Kementerian Keuangan RI dan lembaga donor internasional Gates Foundation yang memiliki misi kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di Afrika Timur, Asia, dan wilayah rentan lainnya.
Kolaborasi ini melibatkan berbagai institusi akademik dan riset terkemuka, antara lain University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (The Netherlands), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgium), Institute of Experimental Botany (Czech Republic), IITA – Afrika, dan mitra pendukung lain.
Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjdjaran menjadi mitra kolaborasi utama. Kolaborasi juga melibatkan industri/swasta untuk membentuk jejaring akademia, industri, dan pemerintah, sehingga menjadi platform untuk inovasi ilmiah dan solusi pertanian yang aplikatif.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan program ini menjadi model bagaimana kemitraan global dapat mengatasi masalah global. “Di tingkat nasional, kami bangga memiliki BRIN sebagai mitra inti dalam proyek ini. BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.
Ia menambahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang. “Spesies pisang liar kita – total 16 subspesies – mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan. Sumber daya genetik ini adalah fondasi dari upaya ilmiah kita,” tambahnya.
Pusat Kolaborasi Global “BIND Center”
Pertemuan Tahunan kedua ini juga meresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global dalam riset dan pengembangan pisang. Inovasi melalui ekplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta kolaborasi dalam jejaring global diharapkan menghasilkan luaran yang terintegrasi dalam sebuah database (INA-BAN) agar menjadi dasar kebijakan pemuliaan pisang lebih lanjut, sehingga dapat memberikan dampak nyata. Program ini tidak hanya berfokus pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlindungan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani kecil di berbagai belahan dunia.
“Melalui BIND Center, kami berharap dapat menciptakan program abadi yang berlanjut melampaui masa proyek ini. Program ini akan mendukung strategi pemuliaan jangka panjang, memperkuat kemitraan internasional, dan memosisikan Indonesia sebagai kontributor utama penelitian pisang global,” tandas Arif.













































































