Asta Tinggi, tempat pemakaman keluarga raja Sumenep disemayamkan, tak pernah sepi. Tiap hari, sekitar 1500-2000 peziarah hilir mudik menyambungkan kekinian dan masa lalu. Di Asta Tinggi, kini dan masa lalu bukan berlawanan, tapi lebur. Sama leburnya dengan hidup dan mati, ramai dan sunyi, tampak dan tersembunyi. Di situlah para peziarah memaknai kesadaran sejarah, waktu dan kehidupan. Lha, kok sekarang lingkungan Asta Tinggi hendak “dileburkan” degan aktivitas tambang? Illegal lagi.
“Asta Tinggi” berasal dari kata “Asta (sebutan untuk orang terhormat) yang berarti “makam”, sementara “Tinggi” karena menempati dataran tinggi. Tapi tinggi bagi saya bukan sekedar menunjuk lokus dataran. Tinggi juga menunjuk pada arsitekturnya. Pintu gerbang Asta Tinggi berbicara bahwa saling serap budaya arsitektur akan memperkaya. Jadilah ornamen Islam (Arab), China, Eropa, India dan Jawa menyatu-padu. Tak ada satu unsur saling mengalahkan atau mendominasi. Meski Islam yang merangkulnya.
Islam di Sumenep berkembang dalam tenunan indah. Santun penuh keadaban. Berwatak fikih dengan spirit tasawuf yang kuat. Mengalir sejak ibu Jaka Tingkir, Kanjeng Ratu Putri namanya, mengenalkan tarekat qadiriyah. Jasad Kanjeng Ratu Putri ini disemayamkan di Asta Tinggi.
Berlanjut dakwah Islam pada Pangeran Katandur yang berdakwah menggunakan media pertanian (nandur). Menyerasikan pola hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Pangeran Katandur dengan cerdik menempatkan base dakwahnya di Parsanga, dekat dengan Desa Paberasan (lumbung beras) dan Desa Kebunan (lumbung kebun).
Pangeran Katandur punya cicit namanya Nyai Izzah, istri pertama Bindara Saod sebelum menikah dengan Ratu Sumenep Raden Ayu Rasmana. Dengan Bindara Saod, Nyai Izzah punya anak namanya Asiruddin yang kemudian juga menjadi Raja Sumenep. Gelarnya Panembahan Sumolo, sang Arsitek pembangunan Masjid Jamik Sumenep.
Dan lihat arsitektur Masjid Jamik sangat akulturatif. Islam di tangan orang pesantren yang menjadi raja bisa merangkul tanpa kehilangan esensinya. Dan Bindara Saod serta putranya panembahan Sumolo disemayamkan di Asta Tinggi.
Ketika sekarang Asta Tinggi dikepung aktivitas tambang kemana Pemerintah Kabupaten?Jika Pemkab mendiamkan aktivitas penambangan sama saja tak memiliki kepekaan budaya dan kesadaran sejarah. Monumen keris atau festival tong-tong tak menemukan maknanya. Simbol kebudayaan dan situs sejarah paling penting didiamkan. Tak ada kemarahan. Tak ada ketersinggungan. Tak ada ghirah perlawanan. Lalu, apa makna sejarah dan budaya bagi pemkab?
Makin tinggi dan dalam makna Asta Tinggi jika dilihat filosofi tata ruangnya. Jika Anda ke Sumenep, lokasi pemakaman para raja ini ada di sebelah barat kota. Satu lokasi yang dalam tata ruang kota “melampaui” keraton, alun-alun, dan masjid yang berada sebelah timurnya. Secara filosofis Asta Tinggi melambangkan fase peristirahatan setelah menjalani lakon keduniaan menuju fase selanjutnya, hari kebangkitan.
Keberadaan Asta Tinggi di sebelah barat”dijembatani” masjid di tengah dengan alun-alun dan keraton di sebelah timurnya. Masjid menjadi penanda religiusitas yang menghubungkan “dunia materi yang nyata” (keraton dan alun-alun) dengan Asta Tinggi sebagai penanda alam “barzakh yang immateri dan bersifat gaib”. Ini satu filosofi tata ruang kota yang sangat cerdas mengikuti tata ruang kota kerajaan Mataram. Sumenep merupakan kerajaan di bawah kekuasaan Mataram.
Saat ini Asta Tinggi sebagai situs sejarah yang hidup pelan-pelan hendak ditumbangkan oleh aktivitas tambang. Bahkan aktivitas tambang hanya berjarak ratusan meter dari Asta Tinggi tersebut. Suara dan gertakan ekskavator nyaring terdengar ke Asta Tinggi. Pertanda aktivitas tambang itu sangat dekat. Dekat sekali.
Aktivitas tambang itu bukan sekedar meledakkan daya rusak pada lingkungan sekitar, penghancur kawasan bentang alam karst sebagai tandon air, dan kini pelan-pelan hendak menumbangkan situs sejarah yang hidup oleh orang-orang hidup yang ingin menautkan sejarahnya, esok, kini dan dulu.
Jika daya jelajah aktivitas tambang terus meluas, mendalam, dan melebar tentu situs sejarah Asta Tinggi dalam ancaman retak, longsor dan amblas. Itu yang tampak. Yang tak tampak, karena tambang telah melukai alam pikir dan kesenyapan bathin para peziarah. Asta Tinggi adalah martabat dan simbol panjang religiusitas masyarakat Sumenep. Mengganggunya akan banyak luka menganga. Jeritannya akan hinggap terutama dalam kesenyapan bathin peziarah.
Pemkab seharusnya tidak boleh tinggal diam. Tak bisa dengan alasan, tambang merupakan kewenangan provinsi. Apa lagi tambang galian C ini illegal. Berarti tak ada ijin dari provinsi. Ketika banyak pihak meminta agar Pemkab mengambil tindakan kok masih beralasan kewenangan provinsi?
Rusaknya di sini. Yang rugi juga masyarakat sini. Belum lagi aktivitas tambang ini sudah mengganggu situs sejarah dan cagar budaya. Pemkab selayaknya marah. Bukan lembek. Jika lembek, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari penguasa yang tak menghormati sejarahnya sendiri. Empati penguasa terhadap sejarah dan budayanya sudah tumbang. Sampai di sini saya patut bertanya, buat apa kita punya penguasa?
Salam
Sumenep, 24 Pebruari 2026
Gambar 1.Tempo 2. beritajatim.com 3.ig @madura25jam
















































































