Foto dan ilustrasi: https://www.lintasarta.net
“Tangan ke atas menggapai bintang, tangan ke samping burung yang terbang, tangan ke depan ikan berenang, duduk yang rapi siap berdoa,” itulah salah satu lagu favorit anak-anak yang dinyanyikan dengan memperagakan gerakan oleh Arrini Khirofati Jannah saat menjadi Guru TK pada sebuah Bimbingan Belajar di Bogor, Jawa Barat.
Namun kini, kegiatan itu tak dilakoni lagi, karena anak sulung lima bersaudara ini sudah beralih profesi menjadi seorang Data and AI Solutions di PT Intikom Berlian Mustika, sebuah perusahaan teknologi informasi berdiri tahun 1990, berkantor di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang menyediakan solusi teknologi informasi bagi berbagai macam perusahaan besar di Indonesia, salah satunya adalah PT. Bank Mega, Tbk.
Tanjakan karier Arrini tidak lepas dari peran program Laskar AI yang menggemlengnya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan terkait AI dan data.
Pada 2025, peminat program Laskar AI mencapai 13.588 peserta, walakin yang beruntung lolos seleksi dan berhak mengikuti pelatihan intensif hanya 657 peserta. Dari jumlah itu, hanya 412 peserta yang lulus berbagai macam ujian dan praktikum, sehingga diwisuda sebagai AI Engineer, pada 14 Agustus 2025. Salah satu dari mereka adalah Arrini Khirofati Jannah, perempuan kelahiran Cileungsi, Bogor, Jawa Barat yang pada saat itu berusia 22 tahun.
Inspirasi dari Atlet Olimpiade
Pada tahun 2021, saat menduduki Semester VII Sebuah Perguruan Tinggi, Arrini menonton cabang atletik lari di Olimpiade Tokyo, Jepang, melalui sebuah layar televisi. Di sana, ia menyaksikan penggunaan teknologi virtual track pada setiap atlet yang menggunakan gradasi warna untuk menggambarkan tingkatan kecepatan. Dengan bantuan teknologi itu, si atlit dapat melihat secara on time di mana kelemahannya dan bagaimana mengatasinya secara cepat dan tepat.
Peristiwa itu memberikan kesan yang mendalam bahwa teknologi informasi dapat membantu umat manusia untuk sukses, baik sebagai personal maupun sebagai bagian dari korporasi.
Sejak itu, timbul keinginan yang kuat meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi informasi. Di masa belia, perempuan berhijab ini sudah senang dan sering memakai komputer Sang Ayah untuk belajar. Namun Olimpiade Tokyo memberikan dorongan lebih besar kepadanya untuk semakin mendalami dunia teknologi informasi.
Dalam masa itu, Arrini menemukan program Laskar AI pada sebuah akun Instagram Dicoding. Program Laskar AI adalah pelatihan berbeasiswa yang diselenggarakan PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) dan NVIDIA bertujuan mencetak talenta digital dari Indonesia sebagai upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Lintasarta sendiri adalah perusahaan penyedia solusi end to end yang kini sudah melayani sekitar 2.300 klien untuk konetivitas Very Small Aperture Terminal (VSAT), kabel, nirkabel, data center, cloud, serta Internet of Things, dan lain sebagainya.
Darah, Keringat, dan Air Mata
Tak mudah bagi Arrini untuk menyelesaikan program Laskar AI, apakah masih harus mengajar di TK dan menyelesaikan kuliahnya.
Tantangan terberat yang harus dihadapi perempuan yang pada 2026 berusia 23 tahun adalah perasaan lelah dan kewalahan karena beban kerja. Psikologi menyebutnya sebagai overwhelmed. Selain itu, ia juga sering menghadapi perasaan putus asa dan kehilangan motivasi. Psikologi menyebutnya sebagai burn out.
Untunglah, dalam situasi seperti itu, Arrini mempunyai instruktur yang telaten seperti guru TK mengajar anak-anak bocil. Akhirnya Arrini menemukan solusi yang jitu atas persoalannya, yaitu dengan memecah tugas harian dan mengklasifikannya berdasarkan tingkat urgensi.
Dari sinilah, berbagai persoalan terkait tugas-tugas dapat diselesaikan. Bahkan selanjutnya, hal-hal yang error terkait praktikum Teknologi Informasi pun dapat diatasi secara pelan-pelan, namun pasti.
Lulus Peringkat Teratas
Setelah mengikuti pembelajaran selama 958 jam, Arrini lulus dengan peringkat graduate with distinction, sebuah penghargaan tertinggi yang bisa diraih peserta program Laskar AI. Di Inggris dan negara persemakmuran lainnya, distinction dikenal dengan first class honours degrees yang berarti predikat kelulusan tertinggi yang menunjukkan pencapaian akademik luar biasa.
Melalui program Laskar AI, Arrini memperoleh pemahaman mendalam tentang cara AI tercipta dan dikembangkan, sebagaimana juga mengetahui data, machine learning, serta deep learning yang ada di baliknya. Ia juga mendapatkan technical skills terkait Exract, Transform, and Load data dengan library Python, yaitu proses integrasi data yang mengambil data mentah dari berbagai sumber, mengubahnya menjadi format konsisten, dan memuatnya ke pusat penyimpanan seperti data warehouse untuk analisis.
Tak hanya itu, ia juga bisa memanfaatkan data menjadi dashboard dan solusi AI yang membantu para pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan secara objektif, cepat, tepat, dan komprehensif, guna menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sebuah perusahaan.
“Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat,” demikian sebuah judul film yang hits sekitar 40 tahun lalu, yang menggambarkan bahwa kesabaran dan perjuangan yang sungguh-sungguh akan menghantarkan pada impian cinta sejati, meski harus naik kereta api.
Selamat dan sukses untuk Arrini. Semoga perempuan-perempuan Indonesia bisa mengikuti jejakmu!…………………












































































