Menjelang tahun baru, dua terobosan penting dilakukan PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Kementerian Pertanian, yaitu pertama penandatanganan kontrak bersama perihal penyaluran pupuk bersubsidi tahun anggaran 2026, di Jakarta, Senin 29/12/2025. Dengan kontrak itu, maka pada 2026 nanti, PT Pupuk Indonesia (Persero) harus menyediakan 9,55 juta ton pupuk bersubsidi untuk pertanian.
Kedua, penyediaan pupuk bersubsidi sebesar 295.676 ton untuk sektor perikanan. Kebijakan kedua ini juga layak disebut sebagai terobosan baru, karena sudah empat tahun pembudidaya ikan tidak masuk dalam skema subsidi. Dengan subsidi itu, diharapkan beban biaya produksi pembudidaya dapat diturunkan, sehingga harga di tingkat konsumen juga bisa “digoyang” lagi.
Kontrak yang bernilai Rp46,87 triliun itu diharapkan menjadi titik tolak peningkatan produksi pangan dan ikan di Indonesia. Apalagi saat ini merupakan musim hujan. Di beberapa kawasan pertanian di Tangerang, Bekasi, dan lain sebagainya para petani sudah sibuk mengolah sawahnya, bahkan sudah banyak pula yang mulai menanam padi.
*** *** ***

Sejumlah ibu tani sedang istirahat sambil makan kolak singkong dan ubi. Mereka tidak hanya bergosip soal Imran, tapi juga paham sedikit-sedikit tentang Amran. Kali ini mereka berterima kasih kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman karena telah menyediakan pupuk bersubsidi sejak awal tahun. Mereka sudah lupa kapan kondisi seperti ini terjadi sebelumnya.
Mang Sardi, seorang petani di Kartangharja, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang, di sela-sela kesibukan menanam padi di sawahnya, mengaku senang dengan kebijakan Pemerintah yang menyiapkan pupuk bersubsidi sejak awal tahun. Ketika dikabarkan perihal tersebut, pada mulanya ia cukup kaget. Walakin ketika ditunjukkan pengumuman Pemerintah dan PT Pupuk Indonesia (Persero), ia sangat senang. “Alhamdulillah, biasanya awal tanam di akhir Desember atau awal Januari memakai pupuk komersial atau pupuk simpanan pribadi sisa tahun berjalan,” ungkapnya sumringah.

Bagi petani, sepotong singkong terasa nikmat jika pupuk subsidi mudah diperoleh
Pria kurus tinggi dan nampak terbiasa terbakar sinar matahari juga menjelaskan bahwa petani selalu menghadapi masalah pupuk di awal tahun baru. “Malamnya bakar jagung, besoknya pusing memikirkan pupuk. Apa ada pengusaha yang menimbun pupuk biar harganya mahal?”, tanyanya tak habis pikir.
Ketika jurnalis www.energindo.co.id menjelaskan bahwa pupuk di awal tahun baru sering langka karena berkaitan dengan siklus anggaran tahunan, pergeseran musim tanam, keterlambatan birokrasi penetapan alokasi, dan lain sebagainya. “Kan orang-orang atas, orang pintar semua. Masak gak bisa sediakan pupuk bersubsidi tepat waktu sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Namun setelah diingatkan bahwa kelangkaan pupuk bersubsidi di awal tahun baru sudah tidak terjadi lagi, pria empat anak ini sangat senang. “Ini baru pemerintahan yang mengerti petani,” ungkapnya penuh semangat.

Ibu tani sedang menyiapkan penanaman padi
Ketika ditanya siapa Menteri Pertanian saat ini, Mang Sardi menjawab ringkas: “Siapa ya, itu yang sering tampil di TV. Ada Imran-imrannya gitu,” jawabnya lalu menyeruput kopi hitamnya. “Bukan Pak Imran mang, tapi Pak Andi Amran Sulaiman,” jelas jurnalis www.energindo.co.id yang disambut dengan gelak tawa, termasuk para ibu tani yang sedang istirahat setelah menyemai padinya di sawah.
Sementara itu, seorang pembudidaya ikan lele dari Desa Cibugel, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang, Pak Samanhadi menjelaskan bahwa pupuk untuk ikan lele sangat penting, terutama untuk menumbuhkan pakan alami dan menjaga kualitas air. Namun karena selama ini harganya kurang bersahabat, maka ia jarang menggunakannya. Kalau terpaksa membeli, ya sedikit saja. “Kita kan harus memperhitungkan biaya produksi dan harga jual,” ungkapnya pria yang sambil bekerja di sebuah pabrik di Balaraja ini.
Ketika diberi tahu bahwa pupuk bersubsidi untuk ikan sudah tersedia, ia merasa gembira, karena berarti bisa membelinya dalam jumlah besar, sekaligus meningkatkan produktivitasnya. “Alhamdulillah kalau begitu. Habis liburan tahun baru akan segera ke toko pupuk,” ungkapnya penuh semangat.
Direktur Supply Chain PT Pupuk Indonesia (Persero) Robby Setiabudi Madjid mengatakan bahwa penyediaan pupuk bersubsidi secara lebih cepat dilakukan agar petani dan pembudidaya ikan yang terdaftar bisa langsung menebus pupuk di titik serah sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak hari pertama tahun baru. “Petani harus membalas dengan meningkatkan produktivitasnya,” ungkapnya sebagaimana dikutip berbagai media massa.
Para petani dan pembudidaya ikan yang sempat ditemui jurnalis www.energindo.co.id siap untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Apalagi mereka bisa mendapatkan pupuk bersubsidi tepat waktu. Soal dana untuk membeli pupuk dengan harga subsidi, para petani menjawab ringkas: “Kalau pupuk bersubsidi sudah tersedia, urusan fulus gampang. Ada kambing atau ayam yang bisa dijual. Apalagi saat ini tahun baru,” ungkap seorang ibu tani yang malu untuk disebutkan identitasnya.
*** *** ***
Sementara itu, agar distribusi pupuk bersubsidi tepat sasaran, Kementerian Pertanian dan PT Pupuk Indonesia (Persero) melakukan pengawasan yang ketat. Dari atas PT Pupuk Indonesia (Persero) melakuan pengawasan melalui beberapa perangkat teknologi digital, lalu mengkoordinasikannya di satu titik, yakni di sebuah pusat komando yang disebut dengan Command Center Pupuk.
Pengawasan melalui satelit menghasilkan digitalisasi proses produksi pupuk dan pendistribusiannya secara transparan, akuntabel, dan real time. Semua aktivitas penyaluran, pergerakan stok, dan distribusi pupuk subsidi dapat diawasi langsung oleh operator di Command Center Pupuk secara real time.
Command Center Pupuk juga melakukan integrasi data antara kios, distributor, serta petani yang berhak membeli pupuk subsidi. Untuk petani, misalnya, harus sudah terdata di e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) serta saat berbelanja harus memperlihatkan KTP asli yang dipantau melalui CCTV dan terkoneksi dengan Command Center Pupuk.
Sementara itu, dari bawah, ada sistem pelaporan dari masyarakat melalui dua nomor pengaduan, yaitu: 0823 1110 9690 (Pengaduan Pupuk Kementerian Pertanian) dan 0812 1533 5574 (Hotline Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Pusat).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta masyarakat untuk tidak takut dalam melaporkan segala macam penyimpangan. “Seluruh petani, kelompok petani di seluruh Indonesia silakan laporkan, kerahasiaan pelapor kami jamin kerahasiaannya. Kami tidak akan memunculkannya, kami tidak tampilkan di media dan di manapun,” ujarnya dalam konperensi pers di Gedung Kementerian Pertanian, Jumat, 31/10/2025, di Jakarta.
Dengan pengawasan seperti itu, penyalahgunaan pupuk bersubsidi sangat sulit dilakukan lagi. Petani juga tak perlu kuatir akan kehabisan stok pupuk, sehingga bisa lebih fokus untuk meningkatkan produksi dan sekaligus kesejahteraannya.
*** *** ***
Tampaknya, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sangat memperhatikan betul nasib petani. Untuk itu berbagai hambatan yang menghalangi peningkatan produktivitas pertanian terus dibabat habis.
Petani maju, Indonesia jaya……..!














































































