Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Suhartini meniup lubang canting. Perlahan, malam klowong mengalir membentuk sketsa batik anak kera yang bercengkerama dengan induknya. Tangannya bergerak lincah, seolah usia 67 tahun tak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
Di sebuah workshop sederhana di Rumah Batik Cikuya (RBC), Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, aktivitas itu berlangsung hampir setiap hari.
Di usia setua itu, sebagian besar orang mulai mengurangi aktivitas, Suhartini justru masih sibuk mengejar garis demi garis di atas kain. Di usia senja, ia masih produktif, menghasilkan karya sekaligus penghasilan. Sebelumnya, ia bekerja serabutan dan menggantungkan santunan dari keluarga. Namun setelah ada RBC, ia berkonsentrasi untuk membatik saja.
Ia tidak sendirian. Ada sekitar 30 perempuan lain yang bekerja dan belajar di Rumah Batik Cikuya. Sebagian besar tidak memiliki ijazah tinggi atau pengalaman kerja yang gemilang. Namun dari tangan-tangan mereka, kain batik berubah menjadi sumber penghidupan.
Dari tempat sederhana itu, canting menghasilkan keterampilan, penghasilan, dan perlahan-lahan menorehkan kemandirian.
*** *** ***
RBC lahir dari kegelisahan Siti Nurrofiqoh. Perempuan kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, melihat banyak perempuan di sekitarnya memiliki hambatan untuk masuk ke dunia kerja formal. Mereka membutuhkan pekerjaan yang tetap memberi penghasilan, tanpa melupakan tanggung jawab sebagai seorang perempuan dalam keluarga.

Rumah Batik Cikuya dalam sebuah pameran batik
Membatik menjadi jawabannya. Pekerjaan itu dapat dilakukan di rumah maupun di tempat produksi, pada waktu yang relatif fleksibel, sembari tetap menjalankan kewajiban keluarga.
Siti memulainya dari enam perempuan. Mereka belajar bersama, mengasah keterampilan, lalu mencoba menjadikan batik sebagai sumber penghasilan. Enam orang itu menjadi awal dari gerakan yang kini melibatkan sekitar 30 perempuan.
Kini aktivitas di RBC semakin beragam. Selain memproduksi batik, mereka mengelola galeri, toko daring, desain, hingga penjahitan. Siti menyadari, produk yang bagus harus dibarengi kemampuan menghitung biaya produksi, manajemen, pemasaran, dan kemampuan mengikuti perubahan zaman.
Untuk itu, ia sangat bersyukur ketika Astra datang sebagai mitra pendamping. Pada 2025, Astra Financial bersama Yayasan Dharma Bhakti Astra menjalin pembinaan RBC untuk periode 2025–2027. Program pembinaan tersebut mendapat dukungan Rp300 juta dan dirancang untuk berjalan bertahap hingga 2027, dengan fokus memperkuat fondasi usaha, mengembangkan produk dan kemampuan digital, lalu membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.
*** *** ***
Menurut Siti Nurrofiqoh, setelah bekerja sama dengan Yayasan Astra, aktivis, mitra, dan relawan RBC seperti mengalami revolusi mental, karena melihat masa depan yang cerah.
“Berkat Astra, kita sadar bahwa dunia tidak selebar daun kelor, karena ada pasar online yang lebih luas dari hamparan samudera,” ungkap perempuan kelahiran tahun 1975 itu.

RBC mempresentasikan batik untuk aneka produk
Melalui pendampingan Astra, RBC bersama pengelola usaha mikro dan kecil lainnya yang terpilih mendapat penguatan manajemen, basic mentality, 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), serta tata kelola usaha dan SDM. Selain itu, RBC juga belajar keterampilan baru seperti membatik, ecoprint, menjahit, pembukuan, digital marketing, hingga packing.
“Dulu, susah sekali melihat workshop dalam keadaan rapi dan tertata. Kini semuanya telihat resik dan terawat, serta membuat nyaman untuk mengembangkan produktivitas,” ungkap Siti semangat.
Selanjutya, pendampingan bergerak ke hal-hal yang lebih teknis: standardisasi produksi, penyusunan standar operasional, penetapan harga pokok produksi, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan pemasaran digital, hingga pembangunan workshop membatik tulis dan cap.
“Dulu harga ditentukan berdasarkan perkiraan. Setelah belajar menghitung HPP, RBC baru menyadari bahwa beberapa produknya selama ini dijual terlalu murah,” lanjut Siti sambil mengenang.
Perubahan itu akhirnya terlihat dalam angka. Omzet yang sebelumnya sekitar Rp1 juta per bulan meningkat hingga sekitar Rp8 juta per bulan. Omset bisa meningkat drastis jika ada pameran atau semacamnya.
Walakin ada yang lebih penting dari sekadar angka, yaitu perubahan besar di baliknya. Usaha yang dulu bersandar pada semangat, kini bertumpu pada sistem. Perempuan yang dulu hanya belajar membatik, kini mengenal pembukuan dan pemasaran. Produk yang dulu dibuat untuk dikenal di sekitar kampung, kini mulai dipersiapkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Di sinilah arti pembinaan terlihat, karena mampu menumbuhkan kemampuan agar masyarakat dapat mengembangkan usahanya sendiri secara mandiri dan berkelanjutan.
*** *** ***
RBC selalu bersemangat untuk mengambil inspirasi dari lingkungan dan sejarah lokal. Ada kera Solear yang legendaris, Tebing Koja yang fenomenal, dan Tugu Tiga Raksa yang penuh sejarah. Semuanya diterjemahkan menjadi motif bercerita pada selembar kain. RBC sedang melakukan dua pekerjaan sekaligus: menciptakan nilai ekonomi dan menjaga ingatan tentang kebudayaan lokal.

Mewariskan ilmu kepada anak-anak belia
Selain itu, RBC juga mulai mewariskan ilmunya pada generasi belia. Dalam salah satu kegiatan I Care I Share, Astra Financial mempertemukan perajin Rumah Batik Cikuya dengan siswa MI Raudlatul Anwar dalam workshop Batik Crafting. Karya yang dihasilkan kemudian dilelang dan mencapai Rp20 juta, dengan hasilnya disalurkan kepada Rumah Batik Cikuya dan sekolah tersebut.
Tak hanya itu, Siti Nurrofiqoh bersama RBC-nya mulai melangkah ke depan, yaitu mencoba mendesain batik pada kendaraan bermotor atau pada bahan lain selain kain. Motif dan tekniknya sudah ia presentasikan pada pameran otomotif terbesar di Indonesia, yaitu GIIAS yang merupakan pameran otomotif tahunan terbesar di Indonesia yang diselenggarakan oleh GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia).
RBC mempresentasikan desain batiknya pada GIIAS 2025 atau yang ke-32 yang diadakan pada 24 Juli hingga 3 Agustus 2025 di ICE BSD, Tangerang.
Kini, sebagian kain perca dari RBC diolah menjadi produk fesyen dan aksesori yang digunakan dalam kegiatan Group Astra. Selain itu, kain perca itu juga diolah menjadi tas dan aksesori yang digunakan sebagai produk pendukung kegiatan Group Astra.

RBC sedang berbagi ilmu
*** *** ***
Suhartini masih memegang cantingnya. Usia 67 tahun tidak membuat tangannya kehilangan kelincahan. Di sampingnya, perempuan-perempuan yang lebih muda terus belajar dan bekerja.
Malam Klowong kembali ditorehkan di atas kain. Sebuah motif lahir, lalu sebuah karya tercipta. Fulus pun masuk ke rekening secara digital. Perlahan, kaum perempuan di sebuah kampung belajar untuk percaya bahwa masa depannya bisa dibangun dari tangannya sendiri. Di Cikuya, perempuan-perempuan itu sedang menorehkan masa depan melalui sebuah canting.










































































