Zubairi Hasan, Jurnalis dan analis di www.energindo.co.id
Tulisan ini berusaha merujuk pada tema besar “From Legacy to Future”. Namun, maaf, tulisan ini akan mengabaikan tiga sub-tema yang merincinya, karena ketiganya justru mengabaikan legacy terbesar dari Thayeb Mohammad Gobel (1930–1984), yaitu sebagai pelopor independensi kelas menengah di Indonesia.
Jika tulisan ini dianggap menyalahi ketentuan, ya tinggal di buang saja ke tong sampah. Tapi ingat, jika hal itu dilakukan Gobel Group telah mengabaikan jiwa terdalam dari Sang Perintis. Adakah hal yang lebih menyakitkan hati dari mengabaikan ruh dan spirit yang diperjuangkan para pendahulu kita? Tak ada.
Radio: Teknologi Pertama yang Melahirkan Kelas Menengah
Pada dekade 1950-an, radio merupakan barang mewah yang hanya dimiliki keluarga dengan tingkat ekonomi tertentu. Memiliki radio berarti sebuah keluarga telah memasuki lapisan masyarakat yang lebih mapan, memiliki akses terhadap informasi, pendidikan, dan perkembangan dunia.
Tahun 1954, melalui PT Transistor Radio Manufacturing, Gobel memproduksi radio transistor lokal pertama Indonesia bernama Tjawang, yang diambil dari lokasi pabrik pertamanya. Radio ini menggunakan baterai, mampu menangkap gelombang pendek (short wave), dan dapat menerima siaran RRI Jakarta hingga ke pelosok Nusantara.
Suatu ketika Presiden Soekarno bertanya mengapa ia memilih bisnis radio transistor. Gobel menjawab singkat, “Agar semua rakyat Indonesia di setiap pelosok negeri bisa mendengar pidato Anda.”
Jawaban itu memang seperti basa-basi. Namun barangkali jawaban Gobel yang tidak terucapkan adalah agar agar rakyat mendiskusikan, mengawasi, dan bahkan mengoreksi Pidato Presiden Soekarno. Beberapa tahun kemudian ti tahun 1965, radio terbukti menjadi salah satu pusat informasi penting dalam soal pergulatan bangsa Indonesia apakah ingin ke “kiri” atau ke “kanan”.
Sejarah menjelaskan bahwa ketika “kelompok kanan” mengendalikan transimisi radio, maka merekalah yang menjadi pemenang dalam pertarungan ideologis yang sangat berdarah itu.
Teladan Kelas Menengah yang Independen
Setelah melahirkan kelas menengahnya melalui radio, lalu kemudian melalui televisi, Gobel memberi contoh bagaimana kelas menengah harus mengambil peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari titik inilah kita harus memahami, kenapa ketika banyak pengusaha memilih mendekat kepada Golkar demi keamanan usaha, Gobel justru aktif di Partai Persatuan Pembanguna (PPP).
Di partai ini Gobel mengambil peran yang sangat penting. Salah satunya yang mencengangkan adalah mempermalukan Golkar di tahun 1977, setelah PPP berhasil meraih suara terbanyak di ibukota negara, yakni di DKI Jakarta. Ramadhan KH dalam buku “Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang” mencatat bahwa momentum itu tidak lepas dari peran Gobel sebagai juru bicara PPP melalui TVRI, penyokong finansial yang utama, serta dalam melakukan konsolidasi organisasi.
Pada masa Orde Baru, keberanian seperti yang dilakukan Gobel mengandung risiko politik maupun ekonomi. Kedekatan dengan pemerintah sering kali menjadi pintu memperoleh berbagai kemudahan bisnis, sedangkan mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan harus menghadapi berbagai tantangan birokrasi. Njoo Han Siang pendiri Gemini Group menjadi contoh nyata bahwa gurita bisnisnya bisa ambruk jika tidak loyal kepada Golkar dan Pemerintah.
Namun Gobel dengan keberanian luar biasa memilih jalan berbeda. Baginya, keberhasilan ekonomi tidak boleh menghilangkan kebebasan berpikir. Seorang pengusaha tetap dapat memiliki pandangan politik sendiri selama disalurkan melalui mekanisme konstitusional. Keterlibatannya di PPP menunjukkan bahwa dunia usaha tidak harus identik dengan kompromi terhadap kekuasaan.
Sikap tersebut mencerminkan tanggung jawab sosial kelas menengah. Kemandirian ekonomi seharusnya melahirkan keberanian moral, bukan sekadar mengejar kenyamanan pribadi. Gobel membuktikan bahwa pengusaha dapat tetap membangun industri nasional tanpa kehilangan integritas sebagai warga negara.
Pandangan itu juga tercermin dalam filosofi bisnis yang ia rumuskan menjelang 1980, yakni filosofi pohon pisang. Menurutnya, pohon pisang menjadi lambang perusahaan yang ideal karena seluruh bagiannya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Perusahaan, sebagaimana pohon pisang, harus memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, bukan hanya menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya.
Ini artinya, perusahaan harus bermanfaat bagi pengembangan ekonomi masyarakat, sebagaimana juga memperkuat jalur politik sebagai jembatan utama untuk menegakkan keadilan di bidang ekonomi, hukum, dan sosial.
Dengan sikap yang pada masanya dianggap nyeleneh itu, maka Gobel harus membangun perusahaan yang mandiri dalam artian tidak tergantung pada proyek dari Pemerintah serta harus membangun perusahaan yang kokoh karena tidak memiliki “pelindung” dari actor lembaga negara atau dari lembaga negara itu sendiri.
Adakah kini pengusaha yang bermental baja seperti itu? Mudah-mudahan Gobel Group tetap mewarisi legacy dari Gobel yang paling berharga ini.
Apa Kabar Kelas Menengah?
Lebih dari dua ribu tahun lalu, filosuf Aristoteles menyatakan bahwa negara yang stabil bergantung pada kekuatan kelas menengah. Kelompok ini menjadi penyeimbang antara kekayaan yang berlebihan dan kemiskinan yang ekstrem sehingga mampu menjaga kehidupan politik tetap moderat.
Pandangan tersebut dipertegas oleh Barrington Moore Jr. melalui tesis terkenalnya, No bourgeois, no democracy. Demokrasi, menurut Moore, membutuhkan kelas menengah yang mandiri secara ekonomi agar mampu mengawasi kekuasaan dan memperjuangkan kepentingan publik.
Thayeb Gobel merupakan contoh nyata dari teori tersebut. Ia membangun basis ekonomi melalui industri elektronik, lalu melanjutkan ke ruang politik, menyampaikan aspirasi melalui partai yang sah, dan menunjukkan bahwa kelas menengah memiliki tanggung jawab untuk ikut menentukan arah bangsa.
Indonesia kini memiliki jumlah kelas menengah yang jauh lebih besar dibandingkan era Gobel. Namun, pertumbuhan jumlah belum tentu diikuti oleh pertumbuhan peran sosial. Sebagian besar kelas menengah lebih sibuk menjadi konsumen daripada penggerak perubahan. Politik sering dianggap kotor, organisasi profesi dipandang tidak menarik, sementara partai politik dijauhi.
Akibatnya, suara kritis dalam banyak persoalan bangsa lebih sering datang dari mahasiswa. Tradisi itu penting, tetapi mahasiswa belum memiliki posisi ekonomi maupun kelembagaan yang kuat. Beban menjaga demokrasi tidak seharusnya dipikul oleh mahasiswa sendirian.
Yang dibutuhkan Indonesia adalah keterlibatan kalangan profesional, pengusaha, akademisi, dan tokoh masyarakat dalam lembaga-lembaga resmi yang diakui negara. Mereka perlu mengisi partai politik, organisasi profesi, asosiasi usaha, dan berbagai institusi publik agar perubahan berlangsung melalui mekanisme yang demokratis dan berkelanjutan.
Warisan Gobel menunjukkan bahwa kelas menengah ideal bukan hanya mereka yang berhasil meningkatkan kesejahteraan pribadi, melainkan mereka yang menggunakan keberhasilannya untuk memperkuat kehidupan bangsa.
Kini
Barangkali inilah legacy terbesar Thayeb Mohammad Gobel yang justru paling jarang dibicarakan. Ia mewariskan teladan bahwa kelas menengah yang harus berani mandiri—dalam ekonomi, dalam berpikir, dan dalam politik. Jika warisan itu hilang, yang tersisa dari Gobel hanyalah nama perusahaan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak sosok seperti Gobel: pengusaha yang mandiri, profesional yang berintegritas, dan warga negara yang berani menyuarakan kepentingan publik melalui institusi yang sah. Sebab, kelas menengah yang sejati diukur dengan keberanian memadukan kemajuan ekonomi dengan tanggung jawab sosial-politik.











































































