Pukul enam pagi, sebuah gang di kawasan Jatiwaringin, Pondokgede, Kota Bekasi, mulai dipenuhi suara motor para pekerja yang berangkat kantor. Di sudut gang itu, sebuah pintu garasi perlahan dibuka. Ibu Meri menata karung beras ukuran lima kilogram, menyusun minyak goreng di rak plastik, lalu menyalakan lampu kecil di depan tokonya.
Tak ada pendingin ruangan. Tak ada mesin kasir digital. Hanya sebuah timbangan tua, meja kayu, dan aroma beras yang samar. Namun setiap pagi, warga berdatangan.“Kalau beli di sini lebih tenang. Harganya nggak bikin kaget,” kata Rina, seorang pekerja laundry yang hampir setiap pekan membeli beras di RPK UD Hijrah.
Itu kisah masa lalu. Usaha kecil ini memang bermula dari sebuah garasi yang lama tak terpakai. Sebelum menjadi Rumah Pangan Kita (RPK), ruang itu hanya dipenuhi barang-barang bekas. Ibu Meri sempat ragu ketika pertama kali diajak bergabung menjadi mitra BULOG. Modal terbatas dan lokasi rumah yang jauh dari jalan raya membuatnya takut jatuh pada kebangrutan.
Kekuatiran itu perlahan hilang, karena setelah menjadi mitra resmi BULOG, ia memperoleh pasokan beras, gula, tepung, dan minyak goreng dengan harga lebih stabil dibanding distributor umum. Pelatihan usaha dan pendampingan administrasi juga membantu warung kecilnya berkembang alon-alon tapi klakon (pelan-pelan tapi pasti).
Distributor Pangan Murah
Cerita Ibu Meri hanyalah satu potret kecil dari jaringan RPK yang terus tumbuh di Indonesia. Hingga awal 2026, jumlah RPK telah melampaui 21.000 titik yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari kota besar hingga desa terpencil. Memang, kita tak bisa menemukannya di mall yang gemerlap atau di kawasan ruko-ruko perumahan mewah, walakin ia muncul di teras rumah, garasi tak terpakai, kios kecil, dan lorong permukiman. Tempat-tempat sangat minimalis itu sangat mencerminkan denyut nadi kehidupan masyarakat secara umum.
Kehadiran jaringan ini menjadi salah satu strategi BULOG dalam memperpendek rantai distribusi pangan dan menjaga harga tetap terjangkau di tingkat masyarakat. Ketika harga pangan mudah bergejolak karena cuaca, distribusi, hingga dinamika global, keberadaan RPK menjadi tiang penyangga yang kokoh.
Konsep RPK sebenarnya sederhana: masyarakat menjadi mitra penjualan bahan pangan pokok yang dipasok langsung oleh Perum BULOG. Kesederhanaan mata rantai itu menjadi kelebihan tersendiri karena mampu memangkas harga. Sebab bagi mereka, selisih beberapa ratus rupiah pada kebutuhan pokok dapat menentukan apakah uang belanja cukup sampai akhir pekan atau tidak.
Di banyak wilayah, masyarakat tidak lagi harus pergi jauh ke pasar besar untuk mendapatkan bahan pokok, karena RPK hadir dekat dengan rumah-rumah warga. Kedekatan itu membuat RPK terasa seperti tetangga yang baik. Pembeli dan penjual saling mengenal nama. Ada ruang percakapan yang tidak ditemukan di minimarket modern. Kadang seorang ibu membayar esok hari karena pemilik warung tahu suaminya belum menerima upah kerja.
Memberdayakan Ekonomi Rakyat & Kaum Perempuan
Bagi para mitra atau yang dikenal dengan Sahabat RPK, program ini menjadi pintu rezeki yang tak terkirakan. Sebagian besar Sahabat RPK memulai usaha dari ruang tidak produktif, seperti teras rumah, dapur depan, bahkan garasi kosong. Dengan menjadi mitra resmi BULOG, mereka memperoleh akses pasokan pangan yang stabil dan harga yang lebih kompetitif.
Di desa-desa tertentu, menjadi Sahabat RPK dapat mengubah posisi seseorang bak “dewa penolong”. Mereka berdagang, tetapi juga ikut menjaga pasokan pangan lingkungan sekitar. Ketika pasokan beras di pasar tradisional menipis, warga akan datang bertanya, “Di RPK masih ada?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyimpan makna besar: masyarakat percaya bahwa rantai distribusi negara masih bekerja sampai ke tingkat paling bawah.
Kini, sebagian besar RPK yang berusia di atas satu tahun sudah berkembang pesat. Di beberapa daerah, RPK berkembang menjadi toko kebutuhan harian. Ada yang menambah telur, mi instan, air mineral, hingga layanan pembayaran digital.
Yang menarik, banyak mitra RPK adalah perempuan. “Polda” atau “Polisi Dapur” kata bapak-bapak yang hobi memancing. Melalui RPK, ibu rumah tangga kini ikut menopang ekonomi keluarga. Mereka belajar menghitung stok, mengatur pembelian, memahami margin keuntungan, hingga melayani pelanggan setiap hari. Perempuan-perempuan yang dulu tidak punya penghasilan sendiri kini lahir dengan identitas baru sebagai pelaku usaha.
Berapakah keuntungan minimal yang diperoleh pemilik RPK? Heri Rastanto, Ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu punya jawaban. Melalui Riset di tahun 2024, ia berkesimpulan, untuk RPK binaan Perum BULOG Kab. Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, keuntungan bersih yang diperolehnya mencapai Rp1,8 juta perbulan.
“Meski begitu, penghasilan bersih pemilik RPK bisa bertambah dengan catatan harus meningkatkan volume penjualan dan kuantitasnya,” ungkap Heri Rastanto yang juga Dosen Prodi Agribisnis di Universitas Muhammadiyah Bengkulu melalui pos elektronik.
Untuk Kabupaten Rejanglebong dan Provinsi Bengkulu, penghasilan bersih sebesar Rp1,8 juta sudah cukup memadai. Upah Mininum Kabupaten (UMK) dan Upah Minimum Regional (UMR) di daerah itu memang Rp2,5 juta. Namun pekerja/karyawan yang mendapatkan gaji UMK/UMR masih harus mengeluarkan biaya transportasi dari rumah ke tempat kerja, sedangkan pemilik RPK tidak perlu mengalokasikan biaya operasional lain. Jadi, masih lumayan kan, daripada manyun?
Keuntungan setiap pemilik RPK tentu saja berbeda-beda satu sama lainnya. Namun melihat keberadaan RPK yang terus tumbuh dan berkembang, dapat dipastikan RPK cukup menguntungkan.
Gardu Ketahanan Sosio-Pangan
Indonesia adalah negara kepulauan dengan tantangan distribusi yang sangat kompleks. Ada wilayah yang mudah dijangkau, ada pula daerah yang memerlukan perjalanan laut berjam-jam hanya untuk mengirim beras. Dalam kondisi seperti itu, jaringan distribusi menjadi urat nadi yang menentukan apakah pangan benar-benar sampai kepada masyarakat.
RPK hadir sebagai saluran pangan murah sekaligus mitra distribusi bantuan pangan bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Karena itu, RPK menjadi salah satu ujung tombak ketahanan sosial di bidang pangan. Kalau mau pakai istilah baru yang berpijak pada Sosiologi Ekonomi, RPK hadir sebagai Gardu Ketahanan Sosio-Pangan
Bagaimana dampak RPK sebagai mitra distribusi bantuan pangan? Rahmawati A. Nadja dan Andi Siti Halimah dari Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar, menyimpulkan distribusi BPNT melalui RPK cukup efektif dan efisien. “Kehadiran RPK membuat masyarakat yang terdata sebagai KPM mudah mendapatkan pangan yang baik,” ungkap kedua peneliti itu melalui karya ilmiah berjudul “Efektivitas Distribusi Beras Bantuan Pangan Non-Tunai Melalui RPK”, sebagaimana dimuat dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Volume 11, Nomor 2, Me 2024.
Program RPK pun menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar bernilai miliaran rupiah. Kadang perubahan justru lahir dari ruang kecil yang terbengkalai. Sebuah garasi yang diubah menjadi toko sembako bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi satu keluarga, sebagaimana juga meringankan beban banyak keluarga.













































































