Jakarta, Energindo.co.id – Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana menjelaskan bahwa aspek kelistrikan memegang peran penting dalam mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. Menurutnya, sistem kelistrikan menyokong sistem persinyalan kereta yang dapat bekerja optimal dan tidak terganggu dari kekurangan arus listrik melalui penggunaan Uninterruptible Power Supply (UPS).
Selain itu, sistem palang pintu dan sirine juga harus dipastikan tetap berfungsi meskipun terjadi gangguan kelistrikan. Pada sistem Kereta Rel Listrik (KRL), ia menambahkan bahwa pemeriksaan terhadap ketinggian dan ketegangan kabel listrik aliran atas (Overhead Electrification) menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan operasional. Di sisi lain, resistansi grounding rel juga harus dijaga di bawah 1 Ohm agar emisi medan magnet dan medan listrik masih dalam batas aman.
Untuk memperkuat keselamatan perlintasan, Eka mendorong penguatan sistem persinyalan kereta berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), penambahan sensor seperti axle counter atau LIDAR untuk memperkuat sistem pengaman di perlintasan sebidang, penutupan akses perlintasan tanpa pengamanan, serta penyediaan jalur alternatif yang lebih aman.
Modernisasi atau otomatisasi penuh sistem pengaman perlintasan sebidang adalah suatu keharusan untuk mengurangi insiden. “Ke depan, inovasi teknologi kelistrikan yang paling dibutuhkan adalah sistem persinyalan dan pengamanan perlintasan berbasis AI yang mampu bekerja otomatis,” tegasnya.
Eka turut menanggapi kekhawatiran publik terkait kemungkinan kendaraan mogok akibat paparan gelombang elektromagnetik (EM) dari kereta api. Berdasarkan hasil penelitian, medan magnet di sekitar rel saat kereta melintas berada pada kisaran rata-rata 47,73 µT, dengan nilai terendah 22,6 µT dan tertinggi 82,06 µT.
“Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan medan magnet bumi yang setiap hari dihadapi manusia tanpa masalah. Selama sistem kendaraan lolos uji imunitas radiasi medan listrik ISO 11451 dan uji imunitas emisi medan magnet ISO 11452, kendaraan tidak akan mati dengan emisi medan sebesar itu,” jelasnya.
Ia menjelaskan, gangguan pada sistem Electronic Control Unit (ECU) kendaraan baru berpotensi terjadi apabila medan magnet mencapai lebih dari 2.000 µT, jauh di atas kondisi normal di sekitar rel kereta api.
Sementara itu, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat menyampaikan inovasi Rubber Crossing Plate (RCP), pelat perlintasan berbahan dasar karet yang dirancang untuk menggantikan material konvensional seperti beton dan aspal.
Menurut Ade, berbagai kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya dipicu faktor manusia, tetapi juga kondisi teknis perlintasan yang tidak optimal, seperti permukaan tidak rata, licin saat hujan, dan getaran tinggi yang menyebabkan kendaraan tersangkut atau kehilangan kendali di atas rel.
“RCP menawarkan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap beban dinamis dan kondisi lingkungan ekstrem, sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan,” jelasnya.
Ia menerangkan, Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi BRIN telah mengembangkan teknologi RCP yang kini mencapai tingkat kesiapan implementasi. Material tersebut dikembangkan menggunakan karet alam yang dipadukan dengan aditif kompatibiliser serta filler khusus.
Kombinasi material tersebut menghasilkan pelat perlintasan yang elastis, mampu meredam getaran tinggi, tahan terhadap beban statis dan dinamis, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca ekstrem, korosi, dan keausan.
Ade menambahkan, permukaan RCP yang presisi dan anti-slip mampu menciptakan lintasan yang lebih rata dan stabil sehingga mengurangi risiko kendaraan tergelincir maupun tersangkut di rel. Kemampuan material dalam meredam getaran juga meningkatkan kontrol kendaraan saat melintas serta menurunkan tingkat kebisingan di lingkungan sekitar.
“Pengembangan RCP dilakukan melalui rekayasa komposit elastomer dan mineral dengan optimasi rasio campuran antara karet dan aditif. Produk ini juga telah melalui berbagai pengujian seperti uji statis, fatigue, getaran, kebisingan, hingga ketahanan lingkungan terhadap sinar UV, air, dan suhu ekstrem,” ungkapnya.
Lebih jauh, teknologi tersebut dinilai memiliki dimensi strategis karena mendorong hilirisasi karet alam domestik dan mengurangi ketergantungan pada material impor. Pengembangan ke depan, melalui pemanfaatan limbah mineral sebagai filler juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan target dekarbonisasi sektor transportasi.
Menurut Ade, apabila diterapkan secara luas oleh operator seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero), RCP berpotensi menjadi standar baru infrastruktur perlintasan sebidang di Indonesia.
“Infrastruktur yang lebih elastis, tahan lama, dan aman ini dapat secara signifikan menurunkan risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jalan,” katanya.












































































