Jakarta, Energindo.co.id – SKK Migas terus memperkuat koordinasi dan pengawasan kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) guna memastikan target produksi dan lifting migas nasional tahun 2026 dapat tercapai. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Management Walk Through (MWT) manajemen SKK Migas ke PT Pertamina EP sebagai salah satu KKKS strategis nasional yang memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi minyak nasional.
Kegiatan yang diselenggarakan baru-baru ini tersebut menjadi bagian dari langkah bersama untuk memperkuat sinergi antara regulator dan operator di tengah tantangan industri hulu migas yang dinamis, mulai dari penurunan produksi alamiah, tantangan operasional, hingga kebutuhan percepatan pengembangan lapangan baru. Pertamina EP sendiri merupakan salah satu produsen minyak terbesar di Indonesia dan bagian dari Pertamina Group yang secara keseluruhan berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap produksi minyak nasional.
Dalam arahannya, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto menyampaikan bahwa seluruh KKKS termasuk Pertamina EP masih harus bekerja keras untuk bisa mencapai target yang telah ditetapkan pada Work Program & Budget (WP&B) maupun APBN 2026. Beberapa kejadian yang berdampak signifikan seperti insiden kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang membuat kita semua harus bekerja lebih keras untuk dapat mengejar ketertinggalan pencapaian produksi dan lifting. Situasi tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan koordinasi dan percepatan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga keberlanjutan operasi hulu migas.
Kepala SKK Migas menyampaikan bahwa Pertamina Group memiliki peranan yang sangat besar dalam mendukung pencapaian target produksi nasional. Oleh karena itu, SKK Migas mengharapkan adanya peningkatan produksi dari seluruh entitas di bawah Pertamina Group, termasuk Pertamina EP, melalui optimalisasi lapangan eksisting maupun percepatan pengembangan lapangan baru.
Ia juga menegaskan komitmen SKK Migas untuk terus mendukung penyelesaian berbagai kendala yang dihadapi KKKS di lapangan. Menurutnya, komunikasi yang terbuka dan penyelesaian masalah secara kolaboratif menjadi kunci untuk menjaga kinerja industri hulu migas tetap optimal.
“Apabila terdapat kendala dalam pencapaian target, silakan disampaikan kepada SKK Migas agar dapat dicarikan solusi bersama,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, manajemen Pertamina EP turut menyampaikan sejumlah dukungan yang dibutuhkan guna mempercepat realisasi program kerja dan pengembangan lapangan. Salah satu aspek utama yang menjadi perhatian adalah dukungan dalam proses perizinan, termasuk percepatan persetujuan anggaran WP&B serta percepatan proses pembebasan dan penyiapan lokasi sumur bor untuk area pengembangan A2 dan A3.
Di sisi organisasi, Pertamina EP juga menyampaikan kebutuhan penguatan organisasi untuk mendukung pengoperasian New Development Facility seiring pengembangan sejumlah lapangan baru seperti AKP, AMJ, dan ABG. Untuk itu, Pertamina EP mengharapkan dukungan percepatan evaluasi kecukupan organisasi serta persetujuan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja (RPTK) guna memastikan kesiapan operasional pengembangan lapangan-lapangan tersebut.
Menanggapi berbagai kebutuhan tersebut, SKK Migas menegaskan akan terus memperkuat fungsi fasilitasi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar hambatan non-teknis yang dihadapi KKKS dapat segera diselesaikan. Langkah tersebut sejalan dengan komitmen SKK Migas dalam menjaga momentum peningkatan produksi migas nasional di tengah tantangan global dan domestik yang semakin kompleks.
Melalui penguatan kolaborasi antara SKK Migas dan KKKS, termasuk Pertamina EP, diharapkan berbagai program pengembangan lapangan dan optimalisasi produksi dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Upaya bersama tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memastikan industri hulu migas tetap memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional.












































































