Jakarta, Energindo.co.id – Institute for Essentials Services Reform (IESR) menanggapi kinerja Kementerian ESDM, utamanya terkait capaian lifting minyak.
Menurut Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer IESR, walaupun Kementerian ESDM melaporkan bahwa lifting minyak bumi sedikit di atas target (0,3%), namun target 2025 sebesar 605 ribu bph sangat rendah, jauh di bawah target lifting minyak bumi 2024 sebesar 635 ribu bph.
“Sejak 2020, target lifting minyak terus diturunkan dari 707 ribu bph. Dibandingkan 2020, target lifting minyak turun sebesar 14,4% di 2025,” kata Fabby dalam keterangan persnya yang diterima Energindo.co.id Selasa (13/1/2026). Selain itu, katanya, perhitungan Kementerian ESDM untuk lifting minyak bumi di 2025 memasukkan NGL, produk sampingan yang secara karakteristik berbeda dengan minyak bumi.
“Jika tanpa memasukkan NGL, kemungkinan volume lifting minyak bumi tidak sesuai target mengingat dalam pelaporan semester 1 2025, terdapat perbedaan angka total lifting minyak bumi di bulan Juni yang dicatat Kementerian ESDM (608,1 ribu bph) dan SKK Migas (579,3 bph), di mana SKK Migas tidak memasukkan NGL,” ujarnya.
Target dan realisasi produksi minyak semakin menjauh dari angka 1 juta bph pada tahun 2030 yang dicanangkan oleh pemerintahan sebelumnya, termasuk target 2026 yang dipatok di angka 610 ribu bph. Dengan kondisi ini, lanjut Fabby, Indonesia masih tidak mampu mengurangi kenaikan impor minyak mentah dan BBM yang rata-rata mencapai 1 juta bph.
Jamak diketahui, Kementerian ESDM melaporkan rata-rata lifting minyak bumi (termasuk Natural Gas Liquid/NGL) sepanjang tahun 2025 sebesar 605,3 ribu barrel per hari yang mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Sedangkan pada tahun 2024, rata-rata lifting minyak bumi sekitar 579,7 ribu barel per hari, lebih rendah daripada target APBN 2024 yakni 635 ribu bph.












































































