“Kita membutuhkan pengusaha berani, inovatif, dan mampu bekerja sama dalam semangat Indonesia Incorporated,” demikian ungkap Presiden Prabowo Subianto dalam Musyawarah Nasional Konsolidasi Persatuan Kamar Dagang dan Industri, di Jakarta Selatan, Kamis, (16/1/2025).
Indonesia Incorporated merupakan konsep yang mengusung semangat kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Sebenarnya, instruksi Presiden Prabowo tidak hanya berlaku untuk pengusaha yang tergabung dalam KADIN, tapi juga berlaku untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bahkan, pelaku usaha yang masuk dalam kategori Usaha Ultra Mikro (UMi) juga bisa dimasukan dalam perahu besar bernama Indonesia Incorporated itu.
Nah, karena entitas usaha yang paling banyak bergelut dengan UMi dan UMKM adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), maka sudah selayaknya jika Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memimpin pembentukan Indonesia Incorporared.
Bedanya, kalau KADIN membentuk Indonesia Incorporated dari pengusaha besar, menengah, lalu turun ke bawah. Sedangkan Indonesia Incorporated yang dipimpin BRI berangkat dari paling bawah, yaitu dari UMi dan UMKM, lalu naik ke atas.
Pergumulan BRI dengan UMi dan UMKM
Pergumulan BRI dengan UMi dan UMKM sudah sangat lama dan sangat mendalam. Karena sejak awal, sejak sebelum bernama BRI atau sejak 130 tahun lalu, entitas usaha ini memang sudah bergelut dengan UMi dan UMKM. Kini ketergantungan UMi dan UMKM kepada BRI tidak tergantikan.
“Sampai kini, masyarakat Indonesia masih bergantung pada BRI dalam soal pengembangan usaha mikro dan kecil,” ungkap Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, kepada www.energindo.co.id secara door stop, setelah meresmikan Pembukaan Pameran Waralaba, di ICE BSD, Tangerang, (31/10/2025).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa penguatan aspek bisnis, tata kelola, manajemen risiko, hingga digitalisasi operasional, yang semuanya mengarah pada visi BRI menjadi The Most Profitable Bank di Asia Tenggara pada 2030 tidak lepas dari penopang utamanya, yaitu UMi dan UMKM. “Jika UMi dan UMKM kuat dan maju, maka hal itu juga akan berimbas pada BRI,” ungkapnya sebagaimana dimuat dalam laman resmi BRI.
Sementara itu, total aset BRI hingga akhir Desember 2024 mencapai Rp1.992,98 triliun atau tumbuh 1,42% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas dengan tetap berfokus pada UMi dan UMKM.
Berdasarkan laporan keuangan Tahun 2024, BRI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.354,64 triliun atau tumbuh 6,97% year on year. “Penyaluran kredit BRI didominasi oleh segmen UMi dan UMKM dengan porsi mencapai 81,97% dibandingkan dengan total kredit BRI, atau dengan nilai sebesar Rp1.110,37 triliun”, demikian tertulis dalam laman BRI.
Nah, jika semua UMi dan UMKM bersatu padu dalam Indonesia Incorporated, dengan prinsip saling menguntungkan, saling mendukung, dan saling bergotong royong untuk kemajuan bersama di bawah pimpinan BRI, maka keuntungan utamanya adalah peningkatan daya saing melalui sinergi, akses pasar yang lebih luas, dan peningkatan kapasitas produksi secara kolektif. Keunggulan lainnya adalah kebersamaan untuk membangun inovasi, pemanfaatan sumber daya, dan peningkatan posisi tawar UMKM di tingkat nasional maupun internasional.
Delapan Modal
BRI sudah mempunyai semua perangkat untuk membentuk Indonesia Incorporated dari bawah ke atas. Pertama, BRI bersama PT Pegadaian (Persero) dan Permodalan Nasional Madani (PNM) sudah membentuk Holding Ultra Mikro. Holding ini bertujuan memberikan akses layanan keuangan yang lengkap, terintegrasi, dan memenuhi kebutuhan pelaku usaha, khususnya di segmen UMi. Setelah terbentuk pada 2021, Holding UMi telah memperluas layanannya melalui 1.032 outlet Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini Holding Ultra Mikro telah melayani lebih dari 180 juta nasabah simpanan dan 36,9 juta nasabah pinjaman dengan penyaluran kredit sebesar Rp628,67 triliun.
Kedua, BRI memiliki 4 juta UMKM yang sudah mendapatkan bantuan permodalan dari BRI, antara lain melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan bunga khusus karena mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Sepanjang tahun 2024, BRI berhasil menyalurkan kredit dari KUR sebesar sebesar Rp184,98 triliun.
Ketiga, BRI mempunyai Agen BRILink yang pada akhir tahun 2024 berjumlah 1,06 juta agen, dengan volume transaksi sebesar Rp1.583 triliun. Mereka tersebar di lebih dari 67 ribu desa atau menjangkau lebih dari 80% dari total desa di Indonesia.
Keempat, BRI mempunyai desa binaan dengan nama Desa BRILiaN yang pada akhir tahun 2024 berjumlah 4.327 desa di seluruh Indonesia. Desa BRILian merupakan program pengembangan ekonomi desa sesuai potensi spesifik, seperti desa wisata, desa kerajinan, desa pertanian dan sebagainya.
Kelima, BRI telah memiliki aplikasi PARI (Pasar Rakyat Indonesia) yang menjadi platform terintegrasi yang memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM berdasarkan komoditas. Sampai akhir tahun 2024, platform ini telah digunakan oleh 85 ribu user.
Keenam, BRI telah memiliki program Klasterku Hidupku, yaitu upaya pemberdayaan berdasarkan kesamaan usaha dalam klaster/kelompok usaha. Saat ini BRI telah membina 38.574 klaster usaha di seluruh Indonesia.
Ketujuh, BRI telah memiliki LinkUMKM, sebagai platform online yang bertujuan melakukan tracking dan monitoring agar UMKM naik kelas melalui rangkaian program pemberdayaan terpadu. Saat ini sudah terdapat 8,9 juta user yang menggunakan LinkUMKM.
Kedelapan, BRI sudah memiliki Rumah BUMN sebagai wadah kolaborasi BUMN dengan UMi dan UMKM. Kini BRI telah memiliki 54 rumah BUMN dengan 433 ribu pelaku UMi dan UMKM binaan.
Tinggal Deklarasi
Dengan modal itu, BRI tinggal menyatukan ke delapan modal itu dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Selanjutnya, BRI mendorong mereka untuk saling bekerja sama satu sama lain dengan prinsip saling menguntungkan, saling mendukung, dan saling bergotong royong.
Secara digital, beberapa kelompok tadi sudah saling terkoneksi satu sama lain. Namun ke depan, kuantitas dan kualitasnya perlu ditingkatkan lagi. Dengan koneksitas itu, akan lahir produk dan jasa yang kompetitif, baik di pasar dalam negeri maupun di luar negeri.
Semua hal di atas dilakukan demi kemajuan UMi, UMKM, dan BRI sendiri. Di atas segalanya untuk ketahanan dan kedaulatan ekonomi nasional.













































































