Bojonegoro, Energindo.co.id — Pada Kamis (18/9/2025) pukul 10.48 WIB empat orang emak-emak sedang tekun membatik kain seukuran 110 cm × 200 cm. Kain batik dibentangkan di papan agar tidak kusut dan mudah dilukis. Terlihat pula tangan kanan mereka lincah memoles motif batik yang telah terpola dengan canting, sedang tangan kirinya memegang gelas plastik berisi cairan malan. Sesekali terdengar candaan yang dilontarkan dari mereka. Sebagai pengusir rasa penat yang kerap hinggap. Keempat perempuan paruh baya ini merenda harapan hidup.yang lebih baik di beranda rumah milik Tri Astutik. Begitu pemandangan aktivitas keseharian rumah Batik Sekar Rinambat.
Batik Sekar Rinambat dirintis dan didirikan oleh Tri Astutik. Bisnis batik skala UMKM ini disupport oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, berada di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Menurut Ketua Kelompok Batik Sekar Rinambat Tri Astutik, dirinya memulai usahanya dari nol. “Dimulai tahun 2016 bersama PEPC, saya menekuni kerajinan batik,” kata Ibu Tutik sapaan akrabnya pada awak media, termasuk Energindo.co.id yang bertandang ke kediamannya, Kamis (18/9/2025) di Desa Dolokgede.
Dukungan program UMKM Naik Kelas dari PEPC 12 turut memperkuat kapasitas manajerial, pemasaran, hingga akses pasar yang lebih luas bagi kelompok batik ini. Sedang filosofi nama Sekar Rinambat adalah “Bunga yang Merambat,” yang mengandung harapan agar usaha batik yang ia rintis dapat terus tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, bagaikan bunga yang indah dan memberi manfaat di mana pun ia merambat.
Kelompok batik ini secara resmi dikukuhkan pada 2018, tepat setelah Ibu Tutik mengikuti pelatihan batik yang difasilitasi PEPC 12 melalui proyek Jambaran Tiung Biru. Dari program tersebut para anggota mendapat bantuan modal berupa alat-alat produksi dan bahan baku, sehingga bisa mulai menekuni usaha batik dengan lebih serius.
Berkat keuletan dan kegigihan Ibu Tutik komunitas kerajinan batik yang diampunya sukses menghasilkan 100 lembar batik per hari, meningkat pesat dibanding awal yang hanya 10 lembar. Batiknya pun telah dikenal luas dengan beragam motif, termasuk motif Tengul yang laris hingga ribuan potong per bulan.
Melalui UMKM Batik Sekar Rinambat, Ibu Tutik tidak hanya berhasil meningkatkan kapasitas diri dan kualitas produknya, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja serta memberdayakan perempuan di desanya. Produk batik yang dihasilkan pun semakin beragam, inovatif, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
“Melalui batik ini, saya ingin membuka lapangan kerja untuk perempuan di desa. Alhamdulillah, omzet kelompok kami bisa mencapai 30 sampai 70 juta rupiah per bulan dan sudah merambah pasar luar kota,” ujar Ibu Tutik.
Lebih jauh Ibu Tutik mengungkapkan harga batik yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 180 ribu per lembar, tergantung motif, corak, hingga pemilihan kualitas kain. Nilai harga tersebut menjadikan batik produksi kelompok ini terjangkau oleh berbagai kalangan, tanpa mengurangi kualitas maupun nilai seni yang terkandung di dalamnya.
Bagi para anggota kelompok, batik tidak hanya soal keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, ia adalah cara untuk merawat tradisi. Kain dengan motif khas Bojonegoro membawa cerita sekaligus identitas yang terus dijaga.
Pihak PEPC melalui Communications, Relations and CID Zona 12 Wulan Purnamawati mengutarakan dukungan terhadap UMKM dilakukan tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga akses ke pameran, pemasaran, hingga manajemen usaha. “Keberhasilan Batik Sekar Rinambat menjadi bukti nyata komitmen kami dalam memberdayakan masyarakat sekitar operasi,” kata Wulan.












































































