Ah, Bung Denny JA. Saya baca lagi dan lagi tulisan-tulisan panjenengan soal energi, sambil ngopi hitam di warung sebelah gardu yang kadang hidup kadang ngedrop. Maknyus juga, membuat pikiran tak lepas-lepas dari antum.
Tapi jujur, tulisan njenengan itu semacam peta pikir yang “dijaga perimeter”-nya. Ada batas yang jelas antara apa yang dipikirkan dan apa yang tak boleh disentuh. Maklumlah, panjenengan sekarang bukan sekadar pengamat, tapi Komisaris Utama di PT Pertamina Hulu Energi.
Kata kuncinya: Hulu. Nah. “Hulu”-isasi energi, mungkin begitu. Kalau boleh saya kaitkan dengan tafsir gaya Cak Lontong: “Hulu itu ya… bagian awal. Tapi kalau berpikir hanya dari hulu, ya siap-siap kesandung pas nyebur ke hilir.”
Begini Bung Denny, tulisan Anda tampak terpukau oleh 𝘴𝘶𝘤𝘤𝘦𝘴𝘴 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 George Mitchell di Amerika Serikat, yang konon ngotot selama berpuluh tahun mencari teknologi untuk mengolah minyak serpih alias 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭 —yang sebelumnya dianggap mustahil. Dan sukses.
Di sana, dengan teknik 𝘩𝘺𝘥𝘳𝘢𝘶𝘭𝘪𝘤 𝘧𝘳𝘢𝘤𝘵𝘶𝘳𝘪𝘯𝘨 (𝘧𝘳𝘢𝘤𝘬𝘪𝘯𝘨) dan pengeboran horizontal, Mitchell berhasil mengubah formasi geologi yang keras kepala jadi sumur dolar. Amerika pun, dari tukang ngemis minyak berubah menjadi raja minyak dunia dalam satu dekade.
Saya akui, itu capaian teknologi kelas wahid. Tapi yaa, jangan lupa gaya Amerika, bukan tanpa cacat. Dampaknya nyata: Air tanah tercemar, gas metana bocor di mana-mana, dan gempa bumi skala kecil sudah jadi paket hematnya.
Dan ini bukan kata saya, Bung, tapi hasil riset lembaga-lembaga independen di Texas, Ohio, sampai North Dakota. Bahkan, Rusia menyebut pengeboran ala Amerika itu barbaris.
Untuk yang belum tahu: minyak serpih (𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭) bukanlah minyak yang mengalir manja di bawah tanah seperti di Saudi Arabia. Ia tersimpan dalam pori-pori batu serpih di dalam bumi —rapat, keras, dan susah 𝘮𝘰𝘷𝘦 𝘰𝘯.
Maka dibutuhkan 𝘧𝘳𝘢𝘤𝘬𝘪𝘯𝘨: memompa air, pasir, dan bahan kimia bertekanan tinggi untuk memecah batu itu dan memaksa minyaknya keluar. Itu mahal ongkosnya. Harga keekonomian 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭 berkisar $50–$70 per barel. Kalau harga dunia jeblok? Ya rugi bandar.
Indonesia tentu punya 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦. Badan Geologi bilang kita punya cadangan potensial minyak dan gas serpih, di Sumatera, Kalimantan, Jawa, bahkan Papua. Tapi, pengembangannya? Macet di hulu. Masalahnya bukan cuma teknologi, tapi juga:
Akses air untuk 𝘧𝘳𝘢𝘤𝘬𝘪𝘯𝘨 masih sulit, karena di kita air justru rebutan buat sawah. Juga, risiko lingkungan, investasi yang belum jelas hitung-hitungannya. Dan, jangan lupa, urusan perizinan di negeri ini kadang lebih rumit daripada perceraian artis.
Saudi atau Iran tentu juga punya. Tapi kenapa tidak pakai 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 Karena mereka nggak perlu. Negara-negara Teluk itu kaya akan minyak konvensional —minyak yang tinggal sedot, tanpa perlu fracking-frackingan.
Mahal-murahnya harga produksi 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭_𝘭 tak menggoyahkan ekonomi mereka. Bahkan Arab Saudi sempat dumping harga minyak demi bikin 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭 Amerika megap-megap. Untuk menjaga keseimbangan pasar, Amerika impor minyak dari Teluk.
Jadi kalau Anda berharap Indonesia jadi seperti AS dalam hal 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦 𝘰𝘪𝘭, maaf, kita tak punya kemewahan itu. Kita bukan Saudi yang punya minyak gampang, bukan AS yang punya teknologi dan infrastruktur kelas dunia, bukan pula Venezuela yang punya minyak tapi kelimpungan sendiri.
Sayangnya, mengapa energi terbarukan tak banyak Anda singgung? Mungkin karena itu bukan bagian dari “hulu” yang panjenengan kawal. Atau karena energi terbarukan (ET) masih dianggap utopia oleh sebagian elite migas.
Tapi ini bahaya, Bung. Karena realitas global hari ini 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘌𝘳𝘰𝘱𝘢, 𝘊𝘩𝘪𝘯𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘝𝘪𝘦𝘵𝘯𝘢𝘮 bergerak ke arah 𝘳𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘣𝘭𝘦𝘴. Energi matahari, angin, dan bahkan mikrohidro, kini bukan lagi tema seminar. Ia mulai masuk dapur rumah tangga.
Indonesia pun punya limpahan potensi energi terbarukan hingga 400 GB. Rinciannya: 207 GW dari tenaga surya, 60 GW dari angin, 75 GW dari hidro.
Tapi kenapa belum digarap serius? Ya karena mindset hulu masih dominan. Di hulu sana, energi dianggap proyek besar, tambang raksasa, dan ladang bor yang seksi. Energi terbarukan tak menggiurkan karena tak bisa dikavling jadi “blok”.
Selain iu, hulu-hilir tak nyambung. Inilah akar masalah kita: antara hulu dan hilir tak ada komunikasi batin. Listrik rakyat tersendat karena pembangkitnya terpusat di “hulu” jauh sana. Gas bumi kita jual keluar, sementara di dalam negeri antre elpiji bersubsidi. Ini seperti rumah tangga yang punya ladang tapi dapurnya kelaparan.
Maka saat Anda bicara energi, Bung Denny, dengan segala hormat, kami ingin mengajak panjenengan ngobrol juga soal hilir.
– Tentang rakyat kecil yang kena polusi PLTU,
– Tentang desa-desa yang masih gelap,
– Tentang petani yang harus milih: air untuk sawah atau fracking?
Saya tahu, posisi Anda sekarang tak bisa sembarangan. Tapi seperti kata Buya Syafii: “Kalau orang baik diam, maka orang tak baik yang bicara”
Jadi, saya mohon, Bung Denny, mari angkat suara lebih bulat, dari hulu hingga hilir. Dari sumur minyak sampai sumur tetangga. Dari George Mitchell sampai petani di Wonosobo.
Bila hulu itu awal, maka semoga tulisan ini menyentuh… ulu hati panjenengan.
Salam tabek.
—-ooOoo—-
Cak AT = Ahmadie Thaha seorang kolumnis, mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika. Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur’an
Catatan Cak AT ditulis oleh Ahmadie Thaha merupakan opini menebar kebaikan bukan ghibah. Tiap hari disebar free ke berbagai media online.
Dan saya membantu menebarnya melalui FB Arifin Thaha. Mari bergabung menjadi bagian kami, menebar kebaikan, dengan menjadi Followers, like, share, koment pada konten FB kami. Terima kasih, semoga bermanfaat.
#fyp #pengikut #jangkauanluas #semuaorang #AhmadieThaha #CatatanCakAT #MahadTadabburQuran #𝗗𝗲𝗻𝗻𝘆𝗝𝗔 #𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮 #𝗞𝗼𝗺𝗶𝘀𝗮𝗿𝗶𝘀𝗨𝘁𝗮𝗺𝗮𝗣𝗛𝗘












































































