Jakarta, Energindo.co.id – Awal Mei 2026 lalu mucul berita yang bikin kaget kita semua, di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I-2025 yang hanya 4,87% yoy. Realisasi tersebut juga menjadi pertumbuhan tertinggi PDB pada kuartal pertama setelah lebih dari satu dekade atau sejak kuartal I-2014, yang tumbuh di angka 5,2% yoy.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kalau pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada triwulan pertama 2026, mengutip data BPS, didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, yang mencapai 2,94%. Di bawah konsumsi rumah tangga, faktor lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah investasi dengan kontribusi 1,79%. Barulah belanja pemerintah di posisi ketiga dengan angka 1,26%. Namun pertumbuhan terbesar berasal dari belanja pemerintah yang melonjak hingga 21,81%, disusul investasi tumbuh 5,96%, dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%.
Sementara untuk segmen ekspor, tercatat tumbuh 0,9% dan impor naik 7,18%.
Namun tidak semua kalangan menyambut gembira atas pencapaian tersebut, sebaliknya malah mempertanyakan. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), misalnya, merilis Special Report yang mempertanyakan keabsahan metodologis di balik angka manis tersebut.
Mereka secara berani menyebut bahwa angka pertumbuhan kuartal I 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik tidak mencerminkan kondisi kesehatan ekonomi yang sebenarnya. Ada indikasi kuat bahwa angka pertumbuhan riil Indonesia berada jauh di bawah klaim resmi pemerintah.
LPEM menemukan adanya ketidakselarasan antara output industri dengan ketersediaan energi pendukungnya. Data BPS sendiri menyebutkan bahwa sektor Listrik, Gas, dan Air tumbuh negatif (-0,99%), sementara Manufaktur justru dilaporkan tumbuh positif 5,04%.
Padahal industri manufaktur sangat bergantung pada pasokan energi (listrik dan gas) untuk menjalankan roda produksinya. Jika sektor penyedia energi justru menyusut (kontraksi), maka secara fisik hampir mustahil output manufaktur bisa melonjak setinggi yang dilaporkan. “Ketidaksambungan antara data penggunaan energi dan hasil produksi ini mengindikasikan adanya lubang besar dalam metodologi pencatatan PDB periode ini,” tegas Guru Besar LPEM FEB UI, Prof Mohamad Ikhsan, bersama peneliti lain, Teuku Muhammad Riefky Hasan, yang menulis laporan berjudul “Indonesia GDP Growth, First Quarter 2026: Behind the 5.61 Percent” pada Rabu, 13 Mei 2026.
Setali tiga uang, Center of Economic and Law Studies (Celios) juga menilai terdapat ketidaksesuaian antara capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I- 2026 dan data ekonomi makro penunjangnya. “Ada anomali kondisi terhadap hasil perhitungan pemerintah,” kata Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda.
Dalam pandangan Celios, ada empat kondisi perekonomian yang tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi. Pertama, konsumsi rumah tangga yang disebut BPS tumbuh signifikan sebesar 5,52%. Ini dibandingkan dengan data Indeks Keyakinan Konsumen milik Bank Indonesia pada Maret 2026 yang sebesar 122,9 basis poin yang merosot ketimbang Januari 2026 sebesar 127 basis poin. Padahal umumnya Indeks Keyakinan Konsumen biasanya mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga.
Pada kuartal I 2026 ada perlambatan pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya dibandingkan dengan kuartal I-2025. Padahal, ada momen Ramadan dan Lebaran yang seharusnya dapat mendongkrak konsumsi tersebut.
Sementara, pada tahun lalu, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya tumbuh 6,86%, namun konsumsi rumah tangga melambat. “Jadi ada anomali dalam perhitungan konsumsi rumah tangga yang dilakukan oleh BPS,” cetus Nailul.
Data kedua yang disoroti oleh Celios adalah konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh tinggi dibandingkan empat kuartal sebelumnya. Pertumbuhannya pada kuartal I mencapai 6,91%. Namun, di saat yang sama, jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04%. Capaiannya bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.
Berikutnya, data ketiga yang disoroti adalah pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kendaraan. PMTB sub kendaraan berhasil tumbuh sebesar 12,39%, tetapi pertumbuhan industri alat angkutan terkontraksi hingga 5,02%. Celios menduga pertumbuhan PMTB kendaraan tersebut kemungkinan disumbang oleh besarnya impor kendaraan untuk keperluan Koperasi Desa Merah Putih.
Alhasil, impor urusan koperasi menjadi justifikasi PMTB kendaraan mengalami pertumbuhan yang luar biasa tinggi, padahal industri tengah mengalami kontraksi.
Data terakhir yang disoroti adalah industri pengolahan yang mengalami tekanan cukup tinggi sehingga hanya tumbuh sebesar 5,04% pada kuartal pertama.
Celios mempertanyakan bagaimana pertumbuhan ekonomi justru sangat tinggi sedangkan pertumbuhan industri yang jauh melambat. Sebab, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 19% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun demikian, Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, membantah tudingan sejumlah analis ekonomi yang meragukan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I 2026. Ia menyebut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tidak dimanipulasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Menurut dia, keraguan para analis muncul karena pertumbuhan sektor manufaktur dinilai tidak sejalan dengan konsumsi gas dan energi yang justru mengalami penurunan. Namun, Misbakhun menilai asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat karena tidak seluruh industri manufaktur bergantung pada konsumsi gas.
“Sektor manufaktur yang tumbuh itu, tidak semuanya mengkonsumsi gas seperti disimulasikan di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para analis ekonomi, yang meragukan pertumbuhan ekonomi tersebut,” ucapnya. Misbakhun juga menegaskan BPS merupakan lembaga independen yang memiliki kredibilitas tinggi dalam menghitung dan merilis data statistik nasional.
Adapun Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai, ekonomi kuartal I 2026 yang tumbuh tinggi hingga 5,61% belum terdistribusi merata bagi dunia usaha.
Dia tak menampik sejumlah indikator seperti konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan komponen PMTB menopang pertumbuhan ekonomi kali ini. Capaian ini juga membuktikan pertumbuhan utama (headline growth) ekonomi Indonesia masih tangguh dan cukup kuat berbasis pada permintaan domestik. “Namun bagi dunia usaha, yang juga menjadi perhatian adalah transmission mechanism dari pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil. Secara kuartalan, ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar 0,77%, bahkan pada saat yang sama sektor manufaktur juga mengalami kontraksi sebesar 1,01%,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Sementara itu, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai realisasi pertumbuhan ekonomi jauh di atas ekspektasi dan proyeksi ekonom, meskipun angkanya perlu dibaca secara proporsional.
Lalu, bagaimana dengan pertumbuhan pada kuartal II nanti? Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memprediksi pemerintah akan menghadapi berbagai tantangan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal II 2026, karena faktor musiman sudah tidak sebanyak pada kuartal sebelumnya.
Kondisi ini, menurutnya, diperparah dengan kondisi perekonomian global yang memburuk dan berimbas pada volatilitas kurs Rupiah dan ketidakpastian iklim berusaha di Indonesia. “Faktor seasonal tidak hadir, dan pada saat yang bersamaan tren pernurunan daya beli masyarakat terus berlanjut diperburuk dengan imported inflation akibat krisis Perang Iran-AS dan pelemahan Rupiah,” ucapnya.
Dia juga menilai sektor swasta yang cenderung wait and see akan berdampak tidak hanya pada penciptaan lapangan kerja, namun juga terhadap penerimaan negara dan aktivitas ekonomi secara umum.
Dengan begitu, dia menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 bisa saja melambat.”Hampir dipastikan akan melambat, bisa jadi signifikan di bawah 5%,” tegasnya. Betul atau salah, wait and see aja !!













































































