Jakarta, Energindo.co.id – Jauh sebelum energi baru terbarukan menjadi isu dan kampanye Internasional di negara-negara maju, Pondok Pesantren Nahdlatut Thalibin di Probolinggo Jawa Timur lebih dulu membangun dan mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Betapa tidak, menurut KH Muhammad Ghazali, pembantu pengasuh pondok, pesantren salafiyah yang didirikan oleh (Alm.) KH Khozin Syamsul Mu’in ini membangun dan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) telah dilakukan sejak tahun 1970 -an. Pembangkitan ini disebut sebagai Pembangkit Listrik Kincir Air. Lokasi pesantren terletak di Desa Blado Wetan, Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo. Dari Kota Probolinggo berjarak sekitar 15 kilometer ke arah timur. Masyarakat sekitar menamakan lembaga pendidikan Islam ini dengan Pondok Pesantren Blado. Karena berada di Desa Blado Wetan.
Pesantren Blado dibangun di atas tanah dua hektar. Bangunan pondok dibagi tiga bagian. Setiap bagian dipisahkan tembok, meliputi kompleks asrama santri putra, kompleks asrama santri putri, dan rumah pimpinan KH Thoha Khozin yang merupakan putra pendiri pondok.
Sedang Masjid sebagai pusat kegiatan santri berada di areal asrama santri putra. Ada dua pohon besar berdiri disamping masjid dan kolam mungil dengan gemerik air yang menghadirkan ketenangan, kesejukan dan kerindangan.
Bila dicermati, terlihat jelas arsitektur masjid bernuansa klasik. Masjid ini berdiri di tengah kompleks yang dikepung deretan kamar santri, ruang kelas, dan kamar guru.
Kesederhanaan pola hidup di pesantren yang telah berusia 83 tahun ini diperkaya dengan beroperasinya listrik berbasis air atau hydro. Kapasitasnya mencapai 9000 Watt.
Aliran listrik energi terbarukan ini turut menerangi ritme kehidupan dunia pendidikan pesantren. Bayangkan, seluruh kamar santri, ruang kelas, guru, ruang pengurus pondok, perpustakaan, komputer hingga kebutuhan masjid, seperti lampu, kipas, dan pengeras suara berasal dari listrik tenaga hydro.
Pembangkit listrik tenaga air di Pondok Blado berasal dari aliran air Sungai Pekalen. Lokasi sungai bergandengan dengan pesantren sehingga aliran sungainya yang deras dapat dimanfaatkan. Jarak antara sungai dengan pesantren sekitar tiga meter. Hanya dibatasi jalan beraspal tipis-tipis dan sedikit berlubang. Sedang lebar daerah aliran sungai berkisar dua meter. Kendati demikian, debit airnya sangat besar. Cukup untuk menggerakkan tiga turbin besi.
Pembangkit listrik tenaga air ini hanya memerlukan tiga komponen utama yaitu sumber air/ aliran sungai, Kincir air/turbin, generator/dinamo. Prinsip kerjanya dari aliran air menggerakkan turbin sehingga turbin memiiki energi mekanik yang dapat dan menggerakkan generator, pergerakan generator dapat menghasilkan energi listrik yang kemudian akan disalurkan ke areal pesantren.
Menurut Abdul Wahid, guru pondok, debit air sungai mampu memutar tiga turbin besi. Turbin berputar selama 24 jam. Masing-masing turbin memiliki gardu generator. “Di dalam gardu generator terdapat roda-roda yang meneruskan hasil putaran dari turbin. Dari putaran turbin tersebut dihasilkan energi yang disalurkan ke generator sehingga dapat menghasilkan daya listrik,” terang Abdul seperti dikutip dari
https://himant.home.blog
Selanjutnya, kata Abdul, daya listrik disalurkan ke dalam sekring yang ada di dalam gardu generator. Dari sekring kemudian disalurkan ke sekring kedua yang ada di komplek pondok sebelum disebar ke titik-titik penggunaan.
Berdasarkan sumber dari Himpunan Alumni Pesantren Nahdlatut Thalibin (Himant), tiap generator mampu menghasilkan energi listrik sebesar 3.000 Watt. Jadi, tiga generator memasok energi listrik sekitar 9.000 Watt. Semula pesantren memiliki empat turbin. Tetapi dalam perkembangannya, satu turbin rusak. Hingga kini belum diperbaiki.
Pasokan energi listrik tenaga air dimanfaatkan untuk keperluan madrasah, pondok putra, dan pondok putri. Saat ini terdapat 480 santri putra dan 600 santri putri yang menempati areal pondok. Mereka berasal dari DKI Jakarta, Banten, Cirebon, Jawa Barat, Probolinggo hingga Madura. Satu turbin menghasilkan listrik untuk 42 kamar di pondok putra I. Aliran listrik hasil tenaga air juga dimanfaatkan untuk menyalakan lampu, kipas, mesin air, dan charger senter.
Menurut Muhammad Ghazali, gagasan mendirikan pembangkit listrik tenaga hydro berasal dari KH. Ahmad Nizar Jakfar. “Beliau dibantu tim teknisi, Bapak Abdul Qodir. Inilah ide cerdas, kejelian, kreasi, dan inovasi serta keinginan kuat dari KH Ahmad Nizar Jakfar agar lembaga pendidikan dengan jenjang Ibtidaiyah hingga Aliyah ini dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhannya di sektor penerangan,” ungkap KH Muhammad Ghazali pada Energindo, Sabtu (4/10/2025).
Sebelum berdirinya pembangkit listrik tenaga hydro, lanjut Muhammad Ghazali, kondisi pesantren gelap gulita. Apalagi saat itu Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum menjangkau Desa Blado. Untuk memenuhi kebutuhan penerangan digunakan lampu petromax dan lampu teplok. Alat penerangan ini cukup membantu para santri dan para ustadz dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar hingga aktivitas lainnya, seperti pengajian kitab, dan peribadatan. Utamanya saat malam hari tiba.
Pemanfaatan energi berbasis air ini, tambah Muhammad Ghazali, selain ramah lingkungan, tentu lebih hemat bila dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Walau begitu, PLTD tetap digunakan saat listrik berbasis air tidak berfungsi karena datangnya musim kemarau sehingga debit air sungai menyusut,” terang Muhammad Ghazali.
Berkat pembangkit listrik berbasis air ini, ungkap Muhammad Ghazali, kebutuhan penerangan sehari-hari para santri terpenuhi. Misalnya, di tiap kamar santri ada lampu, ruang belajar, ruang guru dan perpustakaan juga diterangi lampu dari tenaga air.
“Jumlah kamar santri putra ada 45 lokal. Untuk kamar santriwati ada 60 lokal,” kata Muhammad Ghazali. Para santri yang kini menikmati manfaat dari keberadaan listrik ramah lingkungan tersebut.
Lebih jauh Muhammad Ghazali mengutarakan bahwa pesantren juga memanfaatkan suplay listrik dari PLN. Namun hanya digunakan untuk sedikit keperluan pondok. Misalnya, untuk masjid, yang notabene milik masyarakat sekitar pesantren. Selain masjid, kediaman pengasuh pesantren juga menggunakan aliran listik PLN.
Untuk pemeliharaan pembangkit, kata Muhammad Ghazali, dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Yang bertugas melakukan perawatan atau biasanya disebut P3L hanya perlu melumaskan oli khusus pada turbin yang dilakukan setiap bulan. “Anggaran dibutuhkan Rp200.000 – 500.000,” per bulan. Sedang perawatan tahunan, dilakukan dengan mengganti karet roda. Sebab karet roda mudah longgar. Apalagi sudah digunakan setahun. Untuk turbinnya lebih tahan lama karena terbuat dari besi.
Hal tersebut diamini oleh Kepala Petugas Perbaikan dan Pengoperasian Listrik (P3L) Abdul Wahid. Ia menuturkan perawatan rutinnya pun tergolong mudah. P3L hanya perlu memberikan pelumas pada turbin setiap bulan. Sementara tiap tahun, karet roda harus diganti karena biasanya telah kendur. Adapun turbinnya relatif tahan lama karena terbuat dari besi.”Kalau arus air sedang kecil, kami mempunyai diesel sebagai cadangan,” kata Wahid.
Menarik Minat Penelitian Mahasiswa UNEJ
Keberadaan dan kemanfaatan pembangunan listrik tenaga air di Pesantren Nahdlatut Thalibin yang kini diasuh oleh KH Thoha Khozin ini, tidak pelak menarik minat mahasiswa dari Universitas Jember (UNEJ). Adalah Novita Risna Sari, Sudarti, dan Yushardi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Pendidikan Fisika, Universitas Jember, melakukan penelitian. Bahkan hasil penelitiannya ditulis di Jurnal Pendidikan Mandala Vol. 7. No. 2 Juni 2022. Judul penelitiannya “Analisis Pemanfaatan PLTMH di Pondok Pesantren Nahdlatut Thalibin Kabupaten Probolinggo”.
Penelitian mahasiswa tersebut dilakukan pada April 2022 hingga Mei 2022 di Pondok Pesantren Nahdlatut Thalibin, Blado. Metodenya menggunakan dua cara, yaitu pengumpulan data dengan terjun ke lapangan dan studi kepustakaan.
Mereka menyimpulkan ditulisannya, pasokan listrik yang dihasilkan oleh PLTMH di Pesantren Nahdlatut Thalibin membantu keperluan sehari-hari dalam pengadaan energi listrik.
Selanjutnya, lanjut penelitian ini, penggunaan PLTMH dapat membantu pihak pondok pesantren dalam mengurangi biaya yang mesti dikeluarkan untuk membayar listrik PLN. Selain itu perawatan dan penggunaan PLTMH cukup mudah untuk dilakukan. Listrik yang dihasilkan oleh tiga turbin PLTMH sekitar 9000 Watt.
Masih menurut penelitian mahasiswa Unej, terdapat kelemahan saat menggunakan PLTMH tersebut, yaitu jika dalam keadaan musim kemarau debit airnya kecil, sehingga jika debit air tidak mencukupi untuk memutar turbin maka PLTMH ini tidak dapat digunakan.
Kendati demikian, itulah inovasi dan kreatifitas insan pesantren, khususnya di Pondok Nahdlatut Thalibin, yang patut diapresiasi. Demi menegakkan prinsip kemandirian, mereka memanfaatkan sungai sebagai sumber penerangan listrik berbasis energi terbarukan demi mewujudkan swasembada energi.













































































