Seperti layaknya liga sepakbola, Bursa Efek Indonesia (BEI) mempunyai beberapa tingkatan. Ada Papan Utama untuk perusahaan besar, ada Papan Pengembangan untuk perusahaan yang sedang bertumbuh namun belum memenuhi syarat papan utama, dan ada juga Papan Akselerasi untuk perusahaan kecil dengan aset di bawah Rp50 Miliar.
Selain itu, ada juga Papan Ekonomi Baru. Papan ini adalah pencatatan di BEI yang tidak memiliki batasan aset, walakin dikhususkan untuk perusahaan yang berinovasi dengan teknologi, memiliki pertumbuhan tinggi, dan memberikan manfaat sosial.
Dari beberapa papan itu, perusahaan di Papan Akselerasi sering diremehkan. Hal ini karena faktor risiko dan di dalamnya belum ada pengusaha yang dapat dipercaya oleh publik karena memang baru muncul. Alasan lainnya persoalan teknis, seperti soal kenaikan harga. “Di Papan Akselerasi sulit raih cuan besar, karena menggunakan sistem auto rejection saat naik 10% dalam satu hari. Itu pun berlaku untuk harga di atas Rp 10/saham,” ujar Kevin Latumardi, seorang investor perseorangan yang sangat suka memelototi perusahaan rintisan.
Padahal kenyataannya ada sejumlah perusahaan di Papan Akselerasi yang memberikan cuan besar kepada investornya. Antara antara lain, PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP), PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO), dan PT Estee Gold Feet Tbk (EURO).
PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) memproduksi smart card dan scratch card untuk ponsel, termasuk kartu SIM sistem operasi dan vocer fisik. Selain itu, perusahaan ini juga menawarkan berbagai layanan berbasis teknologi, seperti layanan pemrograman, solusi IT, dan solusi rantai pasokan, baik untuk produsen maupun distributor. Saat Initial Publik Offering (IPO), sahamnya dijual Rp160 namun terus naik sampai mencapai harga Rp2.270 atau naik 1.318 persen. Investor yang membeli saat IPO meraup cuan besar dari perusahaan ini. Maknyus!
PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO) bergerak di bidang digital travel marketplace dan baru-baru ini bertransformasi menjadi perusahaan induk yang berinvestasi di sektor logistik. Saat IPO, saham ini ditawarkan dengan harga Rp122, namun kini melesat di kisaran Rp1.125. Dengkan kenaikan harga tersebut, investor cuan sekitar 1000 persen. Maknyus!
PT Estee Gold Feet Tbk (EURO) memproduksi produk kosmetik dan aerosol sesuai dengan kebutuhan klien terkemuka, seperti Mandom, Wings, Makarizo, Lautan Luas, dan Acosta, dengan produk-produk seperti deodoran, semprotan parfum, semprotan rambut, eau de cologne, lotion, penyegar udara, pengharum mobil, dan pembersih tangan. Saat IPO harganya adalah Rp70, namun dalam perkembangannya naik sampai Rp314. Dalam beberapa pekan terakhir, saham emiten ini diperdagangkan dikisaran Rp290-310. Artinya, investor yang membeli saat IPO sudah mengantongi cuan sekitar 350 persen. Lumayan!
“Perusahaan yang tercatat di Papan Akselerasi secara rata-rata mengalami peningkatan kualitas. Namun, peningkatan rerata kinerja keuangan ini tidak mencerminkan peningkatan dari seluruh perusahaan tercatat di Papan Akselerasi BEI. Investor tetap perlu melakukan analisis atas kinerja masing-masing perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan investasinya,” demikian ungkap BEI melalui salah satu rilisnya di tahun 2025.
Selain itu, tanpa mengurangi pada penilaian dari sisi aspek ekonomi, perusahaan di papan ini paling tepat untuk dijadikan sebagai instrumen keadilan sosial, dalam pengertian keadilan bagi masyarakat untuk mengakses permodalan dan mengembangkan diri di tengah persaingan dunia kapitalisme yang kejam.
Sebagian besar perusahaan di Papan Akselerasi berkantor dan beroperasi di ibu kota kapupaten atau berada di tengah-tengah rakyat, bukan di kawasan industri. Karena itu, perkembangan dan kemajuannya bisa menjadi salah satu tolak ukur kemajuan ekonomi rakyat.
Meski begitu, perusahaan kecil yang ingin mengakses permodalan di BEI tidak bisa sembarangan dan asal-asalan. Karena yang berlaku di dalamnya adalah hukum ekonomi, siapa yang efisien dan menguntungkan, maka ia akan memenangkan pertempuran.
Sampai September 2025, ada 955 emiten yang tercatat di BEI. Hanya 46 emiten yang masuk Papan Akselerasi. Sisanya ada di “kasta” lainnya. Meski begitu, Kementerian Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurahman terus mendorong agar semakin banyak usaha kecil yang bisa melantai di pasar modal. “Saat ini ada sekitar 59 usaha kecil yang berada dalam proses persiapan untuk masuk BEI”, ungkapnya saat ditanya secara doorstop dalam peresmian Pameran Waralaba di ICE BSD Tangerang, akhir Oktober 2025.
Sudah sepantasnya jika perusahaan kecil mendapatkan “vitamin khusus dari Pemerintah agar bisa mengakses pasar modal, lalu bersaing dengan perusahaan lainnya secara sehat. Karena perusahaan kecil merupakan perwujudan dari ekonomi kerakyatan.













































































