Jakarta, Energindo.co.id – Humas BRIN. Cita-cita Indonesia untuk memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bukanlah gagasan baru. Sejak awal kemerdekaan, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, memiliki komitmen kuat terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk bidang nuklir dan antariksa. Ia menyebut komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang keduanya diperkuat dengan diterbitkannya Undang-Undang.
“Energi nuklir termasuk salah satu sumber energi paling aman dan rendah emisi karbon, sebanding dengan energi terbarukan lainnya,” ungkap Anhar Riza Antariksawan, peneliti dan dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN yang menjadi salah satu narasumber pada Capacity Building Awareness Nuklir 2026, Kamis (22/1/2026).
Saat ini, lanjut Anhar, energi nuklir diposisikan sebagai bagian dari bauran energi untuk mendukung target energi baru dan terbarukan. Konsep nuclear renewable hybrid energy system turut diperkenalkan sebagai solusi inovatif, dimana PLTN dapat dikombinasikan dengan energi terbarukan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung kebutuhan industri, air bersih, dan bahan bakar sintetis.
Dalam materinya yang berjudul teknologi dan keselamatan nuklir, Anhar menyampaikan saat ini pemanfaatan energi nuklir sebagai pembangkit listrik bersih telah diterapkan di lebih dari tiga puluh negara dengan ratusan unit PLTN yang beroperasi. Hingga tahun 2025, pembangunan PLTN masih terus berlangsung, terutama di kawasan Asia dan Tiongkok sebagai negara dengan perkembangan paling signifikan.
“Di benua Afrika, negara yang telah memiliki PLTN adalah Afrika Selatan. Mesir sudah membangun dan sebentar lagi selesai. Beberapa negara Afrika lain juga mulai menunjukkan komitmen kuat untuk memasuki era energi nuklir, seperti Ghana, Ethiopia. Mereka juga akan masuk ke energi nuklir,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anhar juga mengulas perjalanan panjang teknologi reaktor nuklir mulai dari reaktor generasi pertama yang bersifat eksperimental, generasi kedua yang menjadi tulang punggung PLTN komersial dunia, hingga generasi ketiga yang dilengkapi peningkatan sistem keselamatan dan efisiensi. “Saat ini, pengembangan reaktor generasi keempat terus dilakukan di berbagai negara dengan desain revolusioner yang mengedepankan efisiensi tinggi dan aspek keselamatannya,” jelasnya.
Anhar menjelaskan, aspek keselamatan nuklir mencakup tiga hal yaitu Safety, Security, dan Safeguard (3S). Selain itu terdapat fungsi keselamatan dasar yang harus diterapkan pada semua desain reaktor nuklir yaitu kemampuan menghentikan reaksi fisi, mendinginkan reaktor secara berkelanjutan, serta memastikan seluruh material radioaktif tetap terkungkung dengan aman.
“Safety itu keselamatan, security itu keamanan. Instalasi harus bisa bekerja dengan selamat sehingga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. Tapi kalau security itu mengatur jangan ada orang yang tidak punya hak menguasai bahan nuklir,” terangnya.
Sedangkan menurutnya safeguard itu ibarat menjaga, menghitung. “Jadi bahan nuklir seperti Uranium itu bisa di-akuntansi. Punya berapa di awal, dipakai berapa, kemudian tinggal berapa. Indonesia membuat perjanjian safeguard sehingga setiap tahun diperiksa oleh International Atomic Energy Agency (IAEA),” jelasnya.
Ia mencontohkan peristiwa Fukushima Daiichi 2011 menjadi pembelajaran penting dalam penguatan sistem pendinginan, khususnya melalui pengembangan sistem keselamatan pasif yang mampu bekerja tanpa pasokan listrik eksternal untuk jangka panjang.
Selain Anhar Riza Antariksawan, hadir pula sebagai narasumber yaitu Rony Seto Wibowo (Guru besar bidang ilmu operasi optimal sistem tenaga listrik ITS), Heru Sriwidodo (konsultan, trainer, penulis), dan Haendra Subekti (Deputi bidang pengkajian keselamatan nuklir BAPETEN).
Capacity Building Awareness Nuklir 2026 merupakan kegiatan yang diselenggarakan Institut Teknologi PLN bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) guna membangun pemahaman yang komprehensif, berbasis data dan sains, dalam mendukung pengambilan kebijakan energi nasional yang berkelanjutan dan berorientasi masa depan.











































































