Jakarta, Energindo.co.id – Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1) Pamekasan menjadi pergulatan intelektual dan candradimuka bagi Valen dalam proses mencari ilmu. Di lembaga pendidikan Islam ini Valen dididik, digembleng dan diasah otak serta akhlaknya agar kelak menjadi manusia bertanggungjawab dan bermanfaat bagi sesama. “MAN I Pamekasan. Di sinilah Valen menuntut ilmu,” demikian tutur Ibu Ida, Wali Kelas Valen sejak kelas 10, seperti dikutip dari percakapan Ibu Ida dengan Frenky Hs yang diuploud Youtube pada 27 Desember 2025. Kontan saja komentar Ida memperoleh banyak reaksi. Padahal tulisan di medsos pribadinya tersebut dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi guru terhadap prestasi yang digapai anak didiknya.
Sebagai wali kelas Ida mengikuti lebih intens perjalanan karir Valen. Pasalnya, ia berkewajiban untuk mengontrol setiap waktu perkembangan siswa-siswi di kelas. Termasuk ketika Valen untuk kali pertama berangkat untuk mengikuti DA5 di Jakarta. Pihak Kepala Sekolah, Bapak Nukman sangat bijak. “Beliau memberi dispensasi penuh kepada anak-anak berprestasi dan berpotensi mengharumkan nama MAN I. Sekolah tidak menutup mata. Bahkan memfasilitasi,” ujar Ida, seraya menambahkan pihak sekolah memberi uang saku Valen ketika berangkat ikut ajang DA5. Menurut Ida, para guru pun turut saweran menyumbang sangu saat Valen berpamitan.
Soal dispensasi untuk murid yang berpotensi mengharumkan nama sekolah kerap diterima Valen. Menurut Yayan Yanuar, guru seni budaya MAN I, Valen memang seringkali memperoleh dispensasi. Setiap ada Porseni di instansi Pemerintah, Yayan kerap diminta pihak sekolah untuk mendampingi Valen. Tentu dengan membawa surat dispensasi untuk Valen. Saking seringnya mendapat dispensasi, Valen pun dijuluki Duta Dispen, tutur Yayan seperti dikutip dari podcast Frenky Hs, pada 23 Desember 2025.
Dispensasinya disertai tanggungjawab penuh oleh Valen. Misalnya saat ikut Porseni di Bojonegoro. Saat itu Valen sedang flu berat. Tetapi dia terus ulet berlatih agar suaranya tetap prima. “Orangnya penuh tanggungjawab ulet dan pantang menyerah,” kata Yayan seraya mengimbuhkan terbukti Valen ikut lagi DA7 walaupun di kompetisi DA5 tereliminasi.
Setelah tereliminasi, Valen harus kembali melanjutkan studinya. Ida mengisahkan saat Valen masuk sekolah kembali setelah tereliminasi dari ajang DA5. Sebagai pelajar, Valen harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang ditinggalkan saat mengikuti kontestasi DA5. Jadi, sekolah tidak begitu saja membebaskan tugaskan kewajiban yang harus diselesaikan anak didiknya.
Menurut penuturan Ida, Valen minta untuk diantar untuk menemui beberapa guru mata pelajaran yang sempat tidak diikuti. “Saya tunjukkan mana guru-guru yang harus dia temui. Saya kenalkan. Bahkan saya antarkan untuk menemui karena Valen takut dimarahi,” ungkap Ida.
Lebih lanjut Ida bercerita, ada guru olah raga. Sofyan namanya. Perawakannya tinggi dan besar. “Bu, saya takut,” ujar Ida, menirukan pengakuan Valen. Mendengar ucapan Valen, Ida langsung mengantar Valen menghadap guru olah raga. “Saya antar, saya perkenalkan dan jelaskan duduk masalahnya pada beliau. Eh, Valen malah dirangkulnya,” tutur Ida, seraya mengimbuhkan Pak Sofyan guru olah raga yang sangat baik.
Ida menuturkan saat Valen masih duduk di kelas 10, ia termasuk anak pendiam. “Mon tak egutek, tak agulih (bila tidak dicolek, tak bergerak) Tak segacor sekarang,” katanya. Namun seiring perkembangan waktu, dia berhasil beradaptasi hingga frendly dengan kawan-kawannya. Para guru pun kerap berkomunikasi.
Kendati Valen menjadi artis tetapi pergaulannya tidak pilih-pilih teman.
Ia tetap humble dengan kawan-kawan sepermainannya. Tidak minta diistimewakan.
Ada kesan baik dihati Ida terhadap Valen. Orangnya penuh tanggungjawab. Istiqomah mengerjakan tugas-tugasnya sebagai pelajar. Selain itu tidak pelit. “Sering mentraktir jajan kawan-kawannya di sekolah,” ungkap Ida.
Tidak hanya ke kawan-kawannya, Valen sangat peduli pada gurunya. Pernah suatu ketika ada guru yang belanja ke Indomaret. Kebetulan berpapasan dengan Valen. Dia
menyapa dan mencium tangan gurunya. Saat selesai mengambil barang-barang yang dibutuhkan, sang guru mengantri untuk membayar di kasir. Betapa kagetnya sang guru karena ternyata sudah ada yang membayar barang belanjaannya. Setelah ditanya, penjaga kasir menjawab, “Tadi Valen sudah bayarin Ibu”. Kemudian guru itu minta agar uang Valen segera dikembalikan. Tapi, Valen sudah kabur. Keesokannya, sang guru bertemu Valen di sekolah. Ia pun hendak mengembalikan sejumlah uang yang telah dibayar, untuk uang jajan. Tapi Valen bilang, “Enggak apa-apa Ibu. Saya ada uang dan saya ikhlas”. Begitulah cuplikan kisah kedermawanan Valen.
Kini walaupun Valen telah menjadi artis nasional, ia tidak seperti ungkapan pepatah “Kacang lupa kulitnya”. Terbukti, Valen menyambangi almamaternya; MAN I Pamekasan. Saat menyampaikan sambutan, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para guru-gurunya. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada guru-guru yang sudah mendidik Valen, membimbing Valen, dan memberikan ilmu-ilmu. Dan saya mohon maaf juga, Valen banyak salah selama Valen disini. Banyak membuat guru-guru naik darah. Terutama Pak Abdul Sukur, Guru BK yang selalu menjemur saya,” kata Valen yang disambut dengan gelak tawa para guru dan murid yang hadir di ruangan.
Valen tetap bertekad untuk kembali hadir di almamaternya. Bila kelak ada waktu, katanya.











































































