Jakarta, Energindo.co.id – Beroperasinya kapal Roro KMP Munggiyango Hulalo dengan lintasan Sumenep – Kangean – Jangkar – Sumenep sejak Agustus 2020 tak pelak membawa angin segar perubahan. Perubahan di sektor perdagangan, ekonomi dan konektivitas warga kepulauan Sumenep di Madura.
Apalagi sejak tahun 2023 PT ASDP Indonesia berperan sebagai operator Pelabuhan pengelola Pelabuhan Jangkar. “Saat ini ASDP berperan mengoperasikan KMP Munggiyango Hulalo di lintas Pulau Madura yang akan melayani rute Jangkar (Situbondo) – Kalianget (Sumenep) – Kangean dengan pelayaran perdana dari Pelabuhan Jangkar Situbondo,” kata Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Shelvy Arifin pada Energindo, Senin (8/9/2025).
Shelvy mengatakan, pengoperasian KMP Munggiyango Hulalo di lintas Pulau Madura merupakan salah satu wujud dari komitmen ASDP dalam mendukung konektivitas antarwilayah, khususnya aksesibilitas di Pulau Madura dan kepulauan disekitarnya menuju Jawa Timur. Hal ini mengingat Kabupaten Sumenep memiliki 126 pulau (sesuai dengan hasil sinkronisasi luas Kabupaten Sumenep Tahun 2002), tersebar membentuk gugusan pulau-pulau baik berpenghuni (48 pulau) maupun tidak berpenghuni (78 pulau).
Keberadaan KMP Munggiyango Hulalo sangat dirasakan manfaatnya bagi warga masyarakat Kepulauan Sumenep, seperti Kangean. Saat kapal ini berada di docking untuk pemeliharaan, warga pun resah karena dianggap bakal mengganggu roda perekonomian masyarakat. Sebegitu urgennya operasional KM Munggiyango Hulalo di mata warga Kangean.
Warga Desa Laok Jangjang Mohammad Ihsan mengatakan, keberadaan KMP Munggiyango Hulalo membantu masyarakat Pulau Kangean selama KMP DBS III tidak beroperasi. Tidak terkecuali dirinya yang berprofesi sebagai pedagang sayuran dan sembako.
Ihsan menuturkan, selama ini masyarakat Pulau Kangean bergantung pada kapal pelayaran tersebut untuk membawa barang dagangan dan kebutuhan lainnya. Baik dari daratan ke Kangean maupun sebaliknya.
”Kalau semuanya tidak beroperasi, yang jelas penyeberangan sangat terganggu. Aktivitas mengangkut sayur, material bangunan, dan lainnya juga tidak bisa dikirim ke Kangean,” ucapnya. Jadi, kata Ihsan, KMP Munggiyango memang andalan warga kepulauan untuk mengangkut ratusan penumpang yang hendak kembali ke Kangean dengan membawa barang-barang dagangan.
”Yang ditakutkan, KMP DBS III belum bisa berlayar, sedangkan KMP Munggiyango Hulalo masuk masa docking. Jelas nanti akan mengganggu perekonomian masyarakat,” kata Ihsan, mengenang peristiwa tersebut pada Agustus 2024 silam.
Sebagai informasi, paska liburan Lebaran tahun 2025 pihak Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Jangkar Situbondo pada Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur mencatat sekitar 1.500 orang santri asal kepulauan Kabupaten Sumenep, Madura.
Pengawas Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Jangkar Situbondo pada BPTD Kelas II Jawa Timur, Abdul Hamid mengungkapkan terdapat 701 santri asal Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, yang kembali ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, melalui Pelabuhan Jangkar.
“KMP Munggiyango Hulalo mengangkut sebanyak 851 orang yang terdiri dari 701 santri dan 150 orang masyarakat umum, rute Kangean-Jangkar,” kata Abdul Hamid.
Pengoperasian KMP Munggiyango Hulalo tidak hanya dirasakan oleh Ihsan dan para santri asal Kangean. Mulyono dan Arsa, keduanya warga asal Kangean pun berbagi cerita soal pengalamannya berlayar bersama Munggiyango. “Kualitas pelayanan Kapal Munggiyango sangat bagus,” katanya. Ia memanfaatkan jasa Munggiyango setahun lalu saat berbisnis ke Situbondo.
Menurut Arsa, dirinya juga merasa nyaman melakukan perjalanan laut bersama KMP Munggiyango Hulalo. Beroperasinya transportasi laut yang dioperatori ASDP Indonesia sangat membantu kepentingan ekonomi dan bisnis masyarakat. “Masyarakat Kepulauan Sumenep sekarang perekonomian tambah lancar dengan adanya kapal tersebut,” kata Arsa.
Selain nyaman dalam perjalanan karena dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk yang sangat memadai dan tempat tidur VIP. Juga dilengkapi kantin yang memungkinkan penumpang menikmati pemandangan laut sambil ngupi-ngupi.
Penelitian Mahasiswa Universitas Wiraraja
Pengakuan Ihsan, Mulyono dan Arsa terhadap pelayanan KMP Munggiyango tidak serta merta diamini oleh kalangan kampus. Mahasiswa dari Universitas Wiraraja Madura pun mengujinya melalui penelitian. Mereka yang meneliti adalah; Hendriyansyah, Irma Irawati Puspaningrum dan Moh. Hidayaturrahman dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Administrasi Publik. Dengan judul penelitian KUALITAS PELAYANAN TRANSPORTASI WILAYAH KEPULAUAN KABUPATEN SUMENEP (Studi PT. Sumekar dan PT. Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Kabupaten Sumenep). Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan di Jurnal Public Corner Fisip Universitas Wiraraja, Vol 17, nomor 1, Juni 2022.
Dalam paparan penelitiannya disebutkan Kabupaten Sumenep merupakan Kabupaten yang memiliki beberapa kepulauan yang membutuhkan sarana transportasi sebagai penghubung wilayah kepulauan dan daratan. Perusahaan yang menyediakan sarana transportasi laut tersebut adalah PT. Sumekar dan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kualitas pelayanan yang diberikan oleh PT. Sumekar dan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) lintas Kalianget kepada masyarakat dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Zeithami-Parasuraman-Berry (1990) dalam Harbani Pasolong (2013: 135), yang menyebutkan bahwa kualitas pelayanan dapat diukur dari 5 dimensi, yaitu Tangible (Berwujud), Reliability (Kehandalan), Responsiveness (Ketanggapan), Assurance (Jaminan). Empathy (Empati), dengan metode penelitian kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi tangible (berwujud) yang disediakan PT. Sumekar dan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah sesuai dengan harapan masyarakat dilihat dari tersedianya fasilitas fisik yang layak dan bisa digunakan dengan baik oleh masyarakat.
Meskipun kedua perusahaan memiliki fasilitas fisik yang berbeda. Sedangkan pada dimensi reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), empathy (empati), pegawai PT. Sumekar dan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) kurang maksimal dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat pengguna jasanya. Sehingga diharapkan PT, Sumekar dan PT. ASDP selalu meningkatkan pelayanan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para pengguna jasanya.
Namun hasil penelitian ini tidak menampik salah satu manfaat beroperasinya Kapal Munggiyango Hulalo dapat menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya di Kabupaten Sumenep. Sebab terdapat 126 pulau yang tersebar di kabupaten yang terletak di ujung paling timur Pulau Madura.
Apresiasi pengamat maritim
Kontribusi Kapal Munggiyango Hulalo yang dioperasikan oleh ASDP Indonesia dalam menghubungkan antar pulau ini diapresiasi oleh Capt Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim. Menurut Capt Hakeng, sapaan akrabnya, kontribusi ASDP bagi penyatuan komunitas dan warga kepulauan, sangat fundamental.
Apalagi di Kabupaten Sumenep terdapat ratusan pulau, jadi ruang air—laut, sungai, dan danau—sebenarnya bukan pemisah, tapi penghubung. “ASDP hadir sebagai jembatan yang mengatasi keterisolasian. Dengan adanya penyeberangan, warga dari berbagai pulau, tepian sungai, maupun kawasan danau bisa saling berinteraksi, berdagang, belajar, bahkan bekerja bersama,” kata Capt Hakeng pada Energindo, Kamis (11/9/2025).
Dari kacamata kebangsaan, lanjut Capt Hakeng, jelas menjadi modal sosial yang memperkuat kohesi masyarakat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Melalui layanan penyeberangan itu, komunitas yang sebelumnya terpisah oleh jarak laut atau sungai jadi bisa menjalin hubungan yang lebih erat. Pertukaran budaya, tradisi, dan pengetahuan berjalan lebih alami karena mobilitas manusia semakin lancar. Di mana seorang nelayan dari pulau kecil bisa menjual hasil tangkapannya ke pasar di pulau besar. Atau seorang pelajar dari daerah terpencil, bisa menempuh pendidikan yang lebih baik di kota kabupaten. Semua itu nyata bisa terjadi berkat konektivitas yang dibangun oleh ASDP,” papar Capt Hakeng.
Tidak berhenti di situ, tambahnya, ASDP juga memperkuat solidaritas antarkomunitas, khususnya lewat distribusi kebutuhan pokok dan bantuan darurat. Kita tahu, dalam situasi bencana alam, armada penyeberangan sering menjadi tulang punggung logistik dan evakuasi. Jadi, kehadiran mereka memberi rasa aman, antara lain bahwa setiap komunitas, betapapun terpencilnya, tetap punya akses ke jaringan nasional. Dengan begitu, ASDP tidak hanya transportasi, tapi juga perekat sosial yang menumbuhkan rasa kebersamaan.
Disamping itu, ASDP ikut menggerakkan roda ekonomi lokal, seperti pariwisata. Setiap dermaga penyeberangan bisa jadi pusat aktivitas ekonomi. “Dari pedagang kecil, pelaku jasa, sampai industri logistik skala menengah serta pariwisata, semua mendapatkan manfaat dari kelancaran konektivitas yang dijaga ASDP,” katanya.
Berdasarkan Publikasi Kabupaten Sumenep Dalam Angka 2025 yang dirilis BPS Kabupaten Sumenep 2024 dicatat jumlah wisatawan sebanyak 1.701.327 orang. Jumlah wisatawan domestik sebanyak 1.700.959 orang (22,47%). Jumlah wisatawan Mancanegara sebanyak 368 orang (17,12%).

Jadi, lanjut Capt. Hakeng, dari sisi ekonomi, aktivitas ASDP pun memberi dampak besar. “Dermaga penyeberangan biasanya jadi ruang pertemuan warga dari berbagai latar belakang. Dari situlah tercipta jaringan sosial baru, peluang kerja sama, sampai perluasan wawasan masyarakat kepulauan,” ungkapnya.
Bersamaan pula, imbuh Capt. Hakeng, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Modernisasi armada, keselamatan pelayaran, sampai soal manajemen lingkungan, adalah hal-hal yang tidak bisa diabaikan. “Kapal penyeberangan harus makin efisien, ramah lingkungan, dan mampu bersaing dengan dinamika global,” ujar Capt. Hakeng. Jadi ASDP dituntut untuk bertransformasi, tidak hanya sebagai penyedia jasa transportasi tradisional, tetapi juga sebagai pelaku inovatif yang mengintegrasikan teknologi digital, standar keselamatan internasional, dan praktik keberlanjutan.













































































