Jakarta, Energindo.co.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kedaulatan energi nasional yang berkelanjutan. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pengembangan tanaman malapari (Pongamia pinnata) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, bekerja sama dengan PT Lembata Hira Sejahtera (BATARA) dan Pemerintah Kabupaten Lembata.
Malapari kini semakin dilirik sebagai sumber energi hijau masa depan. Selain berpotensi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, tanaman ini juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon.
Demikian disampaikan Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN, Prof. Budi Leksono. Ia menjelaskan bahwa biji malapari menghasilkan minyak non-pangan (non-edible oil) yang sangat potensial sebagai bahan baku biodiesel dan bioavtur. Minyak non-pangan ini dinilai strategis karena tidak bersaing dengan kebutuhan pangan serta sejalan dengan kebijakan internasional di sektor penerbangan yang mensyaratkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
“Secara alami, rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20-28 persen, dan melalui seleksi genetik serta optimalisasi metode ekstraksi, dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen,” ungkap Budi sebagai narasumber dalam diskusi pengembangan bioenergi dan pemanfaatan sumber daya hayati lokal di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Ia menambahkan, riset pemuliaan tanaman yang dilakukan BRIN diarahkan untuk menghasilkan pohon unggul yang cepat berbuah, berproduktivitas tinggi, serta memiliki rendemen minyak optimal. Di sisi lain, malapari juga memiliki keunggulan ekologis sebagai tanaman legum yang mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar, sehingga relatif tidak memerlukan pupuk nitrogen.
“Karakter tersebut menjadikan malapari sangat adaptif pada lahan marginal dan wilayah dengan kondisi kering ekstrem, seperti di Indonesia bagian timur, termasuk Lembata,” jelasnya. Meski memiliki sebaran habitat yang luas, mulai dari kawasan pesisir hingga ketinggian sekitar 1.200 m dpl, Budi mengingatkan bahwa fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan dapat menurunkan kualitas genetik tanaman dan berdampak pada produktivitas.
Sebagai tindak lanjut, Budi menekankan pengembangan malapari di Lembata kini diintegrasikan dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat. Melalui pendekatan ini, menurutnya, masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan dan komoditas lain seperti kopi, kakao, maupun tanaman semusim di bawah tegakan malapari.
Lebih jauh, pengembangan malapari tidak hanya ditujukan untuk produksi bioenergi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim. Ia yakin, penanaman malapari dalam skala luas berpotensi mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional sekaligus membuka peluang perdagangan karbon yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Pada tahun ini, keterlibatan riset BRIN akan difokuskan pada penyiapan sumber benih malapari yang tersertifikasi serta pengembangan benih unggul malapari asli Lembata. Ke depan, sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, lembaga riset, sektor swasta, dan media melalui pendekatan pentaheliks diharapkan mampu mempercepat pengembangan malapari sebagai komoditas strategis nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis potensi lokal,” pungkasnya.












































































