Jakarta, Energindo.co.id – Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) sedang melakukan elektrifikasi sektor transportasi mereka. Sebagai contoh, Thailand bercita-cita menjadi pusat kendaraan listrik pada tahun 2030, dengan target produksi 30% dari total produksi kendaraannya adalah kendaraan listrik. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia menawarkan insentif untuk pembelian kendaraan listrik dan konversi sepeda motor konvensional menjadi sepeda motor listrik.
Negara-negara ASEAN lainnya juga menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik. Selain itu, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam berkeinginan membangun industri baterai kendaraan listrik. Namun, tidak semua negara ASEAN memiliki sumber daya mineral yang diperlukan. Sebagai contoh, cadangan mineral yang signifikan adalah kobalt dan nikel di Indonesia, serta bauksit di Vietnam. Ketidakpastian pasokan mineral ini merupakan risiko bagi keberlanjutan industri manufaktur dan perekonomian ASEAN secara lebih luas.
BRIN melalui Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular (PR EPS) Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (ORTKPEKM) bersama dengan Singapore APEC Study Centre di ISEAS Yusof Ishak Institute dan Forum Kajian Pembangunan (FKP) menyelenggarakan ”Ngabers Circo” (Ngaji Bersama Behaviorals and Circular Economy) untuk mendiskusikan peluang dan tantangan yang dihadapi oleh kedua negara.
Diskusi panel ini juga menjadi wadah dialog bagi pemerintah, industri, dan masyarakat untuk bertukar ide tentang bagaimana mengakselerasi penggunaan kendaraan listrik. Maka diskusi ini menggandeng segenap pelaku industri khususnya industri otomotif, perwakilan pemerintah terkait sektor transportasi, energi, dan lingkungan, serta lingkungan akademisi, periset, dan masyarakat. ”Diskusi yang dibangun ini untuk mengetahui prospek, kendala, dan perkembangan kendaraan listrik di negara-negara ASEAN. Serta, memberikan wawasan tentang ekosistem kendaraan listrik di negara ASEAN,” ungkap Kepala ORTKPEKM BRIN, Agus Eko Nugroho. Maka ia berharap dialog yang konstruktif mengenai mitigasi tantangan inovasi, kebijakan, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi.













































































