Menjadi kebanggan Kepolisian Resor Purworejo dan kepolisian lain di seluruh Indonesia
Purworejo, 27 Desember 2025 – Seorang Dosen Akuntansi di STIE Rajawali, Purworejo, Rusmiyatun, menggambarkan Kompol (Purn) Suprihadi sebagai sosok cerdik cendkia yang mempunyai pemahaman yang baik soal mata kuliah Pancasila, Kewarganegaraan, dan Sosiologi Politik. “Meski begitu, beliau merupakan pribadi yang sangat humble dan mudah diterima dikalangan mahasiswa atau kaum intelektual lainnya,” ungkap dosen yang akrab dipanggil Mia ini kepada jurnalis www.energindo.co.id.
Sementara itu, Anggita Dewi, mahasiswi Program Kebidanan Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia (IBISA) Purworejo menjelaskan bahwa dosennya Kompol (Purn) Suprihadi selalu menggunakan metode pembelajaran yang asik, sehingga mahasiswa tidak bosan. “Meski materi tentang Pancasila dan Kewarganegaraan termasuk sulit, namun beliau bisa menjelaskan secara rinci dan mudah dipahami,” ungkap mahasiswi kelahiran Purworejo ini.

Langsung masuk ke “sarang” mahasiswa dan mahasiswi
Ya, sejak berdinas aktif di Polres Purworejo maupun setelah pensiun di akhir tahun 2025 lalu, Kompol (Purn) Suprihadi dikenal sebagai sosok polisi yang cendikiawan atau sebaliknya cendikiawan yang polisi.
Saat ini, banyak polisi yang galau saat berhadapan dengan mahasiswa. Maklum, mahasiswa dianggap berwawasan luas, dengan ratusan referensi dan teori. Sementara itu, polisi mempunyai tugas tertentu berkaitan dengan ketertiban dan keamanan. Polisi harus menerima dan melaksanakan perintah dari Pemerintah, sedangkan mahasiswa selalu mengkritisi kebijakan Pemerintah.
Keduanya “sulit” untuk bertemu dalam satu frame pemikiran dan satu garis pemahaman. Bahkan dalam beberapa peristiwa sejarah Indonesia, keduanya sering terlibat dalam konflik yang tajam.

Berfoto sejenak setelah ujian disertasi S-3 di UNY
Namun kondisi itu tak berlaku bagi Kompol (Purn) Suprihadi, seorang polisi kelahiran 1967 yang mempunyai tiga gelar akademik, yaitu Sarjana Hukum (Strata 1), Magister Hukum (Strata 2), dan Doktor (Strata 3). Kompol (Purn) Suprihadi justru keluar masuk perguruan tinggi, menemui dan berdiskusi secara langsung dengan para mahasiswa dan kaum intelektual lainnya.

Menerima Yudisium Doktoral di UNY
Selain sebagai dosen tetap di sebuah perguruan tinggi di Purworejo, yaitu di STIE Rajawali dan Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia (IBISA), keduanya di Purworejo, ia sering menerima undangan sebagai pembicara di berbagai seminar di kampus-kampus dan lembaga pendidikan lainnya.
Dengan keluar masuk kampus dan perguruan tinggi, Kompol (Purn) Suprihadi menanamkan secara langsung jiwa nasionalisme dan cinta tanah air di kalangan mahasiswa. Hal ini dilakukannya melalui materi kuliah Pancasila atau Kewarganegaraan atau Sosiologi Politik. Karena mampu menjelaskan materi itu secara ilmiah, bukan secara dogmatis, maka proses transmisi ilmu pengetahuan dari dosen ke mahasiswa berjalan dengan baik. “Kemampuan Kompol Suprihadi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa juga patut diapresiasi, sehingga mahasiswa merasa belajar pada orang yang betul-betul ahli di bidangnya,” demikian ungkap Mia, Dosen STIE Rajawali Purworejo, memberikan testimoni lanjutan.
Sementara itu, Salsabilla Zahra Herman, mahasiswi Program Kebidanan Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia (IBISA) Purworejo menjelaskan bahwa hal yang menarik Kompol (Purn) Suprihadi adalah mengaitkan materi kuliah terkait Pancasila dan Kewarganegaraan dengan kehidupan sehari-hari. “Dengan begitu mahasiswa/mahasiswi merasa bahwa materi kuliah yang diajarkan sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata,” demikian ungkap mahasiswi Semester I ini dengan penuh semangat.
Sumbangsih penting yang cukup genuine Kompol (Purn) Suprihadi terhadap kepolisian dan masyarakat adalah pendekatan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, yaitu mengutamakan langkah preemtif dan preventif daripada tindakan represif.
Langkah preemtif adalah tindakan dan upaya untuk menghilangkan potensi masalah/gangguan sejak dini, dengan sosialisasi, edukasi, dan persuasi. Sedangkan tindakan preventif adalah upaya mencegah agar masalah/gangguan tidak sampai terjadi. Sedangkan tindakan refresif adalah penindakan agar masalah/gangguan yang sudah terjadi segera selesai dan tidak meluas.
“Sebanyak 75 % sampai 80 % dari langkah kepolisian harus berupa tindakan preemtif dan preventif. Sedangkan sisanya, sekitar 20 % sampai 25 % berupa tindakan represif,” ungkap anggota Tim Penjamin Mutu STIE Rajawali Purworejo ini.
Masih menurut Kompol (Purn) Suprihadi, karena itu, ia memilih menempuh pendidikan Strata 3 di Jurusan Manajemen Pendidikan di UNY. Ini penting agar ia mempunyai ilmu yang mendalam soal tindakan preemtif dan preventif untuk menyelesaikan masalah.
Kehadiran Kompol (Purn) Suprihadi dalam sejarah kepolisian memberikan pelajaran penting bahwa polisi juga bisa hadir dan berhadapan secara langsung dengan mahasiswa atau kaum intelektual lainnya, selama polisi itu mempunyai bekal intelektual yang memadai, terutama ilmu terkait dengan langkah-langkah preemtif dan preventif untuk menyelesaikan berbagai masalah.
“Kalau mau diterima mahasiswa dan kaum pelajar, ya harus punya ilmu mendalam soal apa dan bagaimana langkah-langkah yang bersifat preemtif dan preventif”, ungkapnya memberi pesan mendaam kepada para juniornya di kepolisian.
Pengamat Kepolisian yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, R. Haidar Alwi, menegaskan bahwa Kepolisian Republik Indonesia harus merawat dan menjaga kaum intelektual yang ada di institusi tersebut. Hal ini karena mereka dapat menjadi penjaga moralitas dalam kepolisian.
Menurutnya, kinerja kepolisian di tahun 2025 dalam menjaga moralitas dan integritas institusi tersebut sudah cukup baik. Terbukti, selama tahhun 2025, ada sekitar 10 ribu lebih polisi yang mendapatkan sanksi tegas, baik ringan, sedang, maupun berat. “Namun jika kaum intelektual di kepolisian mendapatkan tempat yang terhormat, maka proses penegakan kode etik di lingkungan kepolisian akan lebih bersifat preemtif dan preventif,” demikian ungkap pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) itu.
Kepala Polres Purworejo, Jawa Tengah, AKBP Andry Agustiano, menyebut Kompol (Purn) Suprihadi sebagai pribadi yang amanah dan bertanggun jawab untuk mengabdi kepada masyarakat. “Beliau bukan hanya menjalankan tugas dengan penuh dedikasi, tetapi juga konsisten mengembangkan pendekatan yang mudah diterima di kalangan masyarakat,” demikian ungkap testiomoni ringkas Kepala Polres Purworejo, Jawa Tengah, AKBP Andry Agustiano, tentang Kompol (Purn) Suprihadi, sebagaimana diakses dari laman resmi www.polrespurworejo.com.
Ya, seorang intelektual di manapun memang sangat dibutuhkan. Di kampus, seorang intelektual biasanya menjadi rujukan pada mahasiswa dalam mengembangkan keilmuan dan penelitian. Di pesantren, seorang intelektual yang biasanya disebut kyai menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Nah, di kepolisian juga begitu, polisi yang intelektual dibutuhkan untuk menjadi rujukan moral bagi anggota polisi lainnya.













































































