Jakarta, Energindo.co.id – Harga minyak dunia kembali memanas di tengah musim dingin yang belum bersahabat dan lanskap geopolitik yang kian rumit. Pada Kamis (29/1/2026), harga minyak mentah naik ke level tertinggi sejak akhir September 2025 karena didorong oleh badai musim dingin yang mengganggu produksi minyak Amerika Serikat, pelemahan dolar AS, serta gangguan pasokan yang belum sepenuhnya pulih di Kazakhstan.
Dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent menguat 43 sen atau 0,64 persen ke level USD68 per barel setara sekitar Rp1.145.800 pada perdagangan siang waktu Amerika. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI naik 53 sen atau 0,85 persen ke posisi USD62,92 per barel atau sekitar Rp1.060.000.
Kenaikan ini bukan sekadar lonjakan harian. Kedua acuan harga tersebut sedang menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2023. Sepanjang Januari, Brent berpotensi melonjak sekitar 12 persen, sedangkan WTI menguat hampir 10 persen. Sehari sebelumnya, harga minyak bahkan sudah naik sekitar 3 persen, menandakan sentimen pasar yang kian sensitif terhadap gangguan pasokan.
Dari sisi suplai, badai musim dingin menyapu sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan menekan infrastruktur energi serta jaringan listrik. Akibatnya, ekspor minyak mentah dari pelabuhan Teluk Amerika Serikat sempat jatuh ke nol selama akhir pekan sebelum kembali pulih pada Senin, berdasarkan pelacakan kapal oleh Vortexa.
Tekanan ke pasokan itu diperkuat oleh data stok minyak yang tak terduga. Badan Informasi Energi Amerika Serikat mencatat persediaan minyak mentah nasional turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam survei Reuters yang sebelumnya memperkirakan kenaikan 1,8 juta barel.
“Cerita utama dari laporan ini adalah permintaan yang solid,” kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group. Ia menambahkan, “Kita mulai melihat dampak cuaca dingin dan efeknya akan lebih terasa pada laporan pekan depan, terutama pada persediaan distilat dan penurunan produksi.”
Pelemahan dolar AS ikut menjaga harga minyak tetap tinggi. Mata uang negeri Paman Sam itu berada di dekat level terendah dalam empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama. Kondisi ini membuat komoditas berdenominasi dolar, termasuk minyak, menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, pasar menanti keputusan Federal Reserve yang diperkirakan akan menahan suku bunga.
Dari Asia Tengah, gangguan produksi di Kazakhstan masih menjadi penopang reli harga. Meski negara anggota OPEC plus itu berharap produksi di ladang Tengiz bisa pulih bertahap dalam waktu sepekan, sejumlah sumber menyebut proses pemulihan kemungkinan berjalan lebih lambat.
Operator pipa CPC yang menangani sekitar 80 persen ekspor minyak Kazakhstan dilaporkan telah memulihkan kapasitas pemuatan penuh di terminal Laut Hitam setelah perawatan pada titik tambat yang sebelumnya terkena serangan drone.













































































