Maryamah (48 tahun) keluar dari area Puskesmas Ciater, Tangerang Selatan dengan sumringah. Maklum, ia baru saja mendapatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), pertengahan September 2025. Ibu dua anak ini diperiksa tensi, gula darah, hingga deteksi dini kanker rahim dan payudara. Dari hasil pemeriksaan, perempuan yang akrab dipanggil Iyam ini diharuskan mengurangi makan gorengan dan es, karena diabetes tipe 2 mulai “mengancam”. “Alhamdulillah, saya jadi mengetahui pantangan yang tidak boleh dilanggar agar tetap sehat,” ujarnya semangat.
Jika harus mengeluarkan biaya sendiri, dengan layanan seperti CKG, warga masyarakat harus membayar antara Rp1,6 juta-Rp2 juta, tergantung kondisi fisik dan kesehatan masing-masing peserta.”Ya, saya pernah mengantar tetangganya yang melakukan pemeriksaan medis di tahun 2023. Kalau tidak salah, ia habis Rp1 jutaan. Mungkin kalau sekarang bisa lebih,” ungkap Iyam dengan gembira, karena dapat layanan pemeriksaan medis menyeluruh tanpa keluar fulus satu sen pun.
Sejak 10 Februari 2025, masyarakat Indonesia mendapatkan hadiah ulang tahun dari Presiden Prabowo Subianto berupa cek kesehatan gratis (CKG). Pada mulanya, masyarakat Indonesia bisa melakukan CKG sesuai dengan ulang tahunnya, kecuali bagi ibu hamil, pelajar, dan yang berulang tahun sebelum peluncuran CKG. Warga masyarakat yang melewati 30 hari dari ulang tahunnya juga masih bisa mendapatkan layanan tersebut. Kini, siapapun bisa melakukan CKG kapan saja, selama kuota masih tersedia. Kuota CKG setiap Puskesmas adalah 30 orang. Hal ini diberlakukan untuk mencegah antrian yang panjang.
Manfaat CKG sangat banyak, antara lain deteksi dini penyakit sebelum bergejala, pencegahan penyakit kronis, pemantauan kondisi kesehatan bagi yang sudah sakit, serta mendorong kesadaran untuk hidup lebih sehat. CKG juga bisa mengurangi biaya pengobatan jangka panjang dan membantu klaim asuransi. Golongan rentan seperti anak-anak, lanjut usia, atau individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah dapat memperoleh imunisasi terbaru untuk perlindungan lebih baik.
Sementara itu, manfaat CKG bagi Pemerintah antara lain adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan, mengurangi beban biaya kesehatan nasional, mencegah penyakit kronis, dan menghasilkan data kesehatan nasional. Selain itu, program ini bertujuan untuk mengubah paradigma kesehatan dari pengobatan menjadi pencegahan. “konsep kesehatan yang benar adalah menjaga orang tetap sehat bukan mengobati orang sakit,” demikian ungkap Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada Kuliah Umum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada Sabtu (11/11/2025).
Sampai awal November 2025, lebih dari 50,5 juta masyarakat Indonesia telah mengikuti program CKG. Angka ini mencakup 34,3 juta peserta umum dan 16,2 juta pelajar yang mengikuti program CKG di sekolah.
Adapun jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia sampai November 2025 mencapai 10.300 unit. Ini berarti setiap Puskesmas secara rata-rata sudah melayani 3 ribu peserta CKG. Hari kerja efektif dalam memberikan pelayanan CKG dari 10 Februari 2025 sampai 31 Oktober 2025 sekitar 200 hari kerja. Artinya, secara rata-rata setiap Puskesmas melayani sekitar 15 peserta. Padahal, ditargetkan setiap hari setiap Puskesmas melayani 30 peserta setiap hari. “Setiap Puskesmas mendapatkan 30 kuota peserta per-hari, untuk mencegah antrean pemeriksaan,” tandas Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI Maria Endang Sumiwi dalam konferensi pers saat peluncuran Program CKG di bulan Februari 2025.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sampai November 2025, jumlah seluruh penduduk Indonesia mencapai 278,6 juta jiwa. Jika dikurangi 50,5 juta, berarti masih ada sekitar 223,6 juta jiwa yang belum melakukan CKG.
Pengamat kesehatan Adrian Fajriansyah menjelaskan bahwa banyak warga belum memiliki kesadaran untuk melakukan CKG, padahal sangat penting untuk dirinya sendiri. Kendala lainnya adalah masalah aksesibilitas karena jarak dari rumah ke Puskesmas lumayan jauh. Ini biasanya terjadi di luar pulau Jawa.
Jurnalis www.energindo.co.id mencoba melakukan survei kepada warga masyarakat Cisoka, Kab. Tangerang, yang belum melakukan CKG. Alasannya beragam: ada yang mempunyai kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan apalagi layanan CKG hanya dari Senin-Jumat saja. Ada juga yang merasa kerepotan dengan persoalan teknis seperti aplikasi atau nomor hotline service, sebagaimana juga ada yang merasa takut pada kondisi kesehatannya, sehingga ia meras lebih nyaman untuk tidak mengetahuinya. Ada juga karena takut sakit saat diambil contoh darahnya. Ada juga alasan yang cukup unik: memeriksakan kesehatan dianggap sebagai langkah menentang takdir Allah. Wah, kalau sudah membawa alasan agama, urusannya menjadi agak repot.
Penjelasan spontan dari Puskesmas perihal proses pemeriksaan yang tidak menyakitkan, tidak membutuhkan waktu lama, dan proses registrasi yang mudah masih belum cukup meyakinkan warga masyarakat.
Apapun yang terjadi, Pemerintah/Pemerintah Daerah perlu lebih bekerja keras lagi agar seluruh masyarakat Indonesia mengambil hadiah dari Presiden Prabowo, berupa uang senilai Rp1,6 juta dalam bentuk pemeriksaan kesehatan secara gratis. Kalau perlu, Pemerintah menugaskan Puskesmas untuk tetap membuka layanan CKG pada hari Sabtu-Minggu.













































































