“BTN siap mempertemukan inovator muda dengan developer dan investor melalui inkubasi bisnis, sehingga ide-ide segar mereka dapat diwujudkan di tengah-tengah masyarakat,” demikian ungkap Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat menutup rangkaian BTN Expo dan BTN Housingpreneur 2025 di Jakarta, Sabtu, 31/1/2026.
Dalam acara tersebut, hadir juga Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah. Beliau sangat mengapresiasi langkah BTN yang menjaring inovator muda sehingga melahirkan ide kreatif untuk membantu menyelesaikan persoalan perumahan di Indonesia.
“Ajang ini merangsang anak muda untuk menunjukkan kemampuan dan kapasitas dalam memecahkan masalah sektor perumahan, yakni masih mismatch-nya supply dan demand untuk hunian yang layak”, ungkap menteri yang di waktu muda merupakan salah satu aktivis mahasiswa di Jakarta.
Ketika mengunjungi stan para mahasiswa yang memenangkan lomba, terlihat Wamen Fahri Hamzah sangat senang dengan inovasi mereka. Ketika berada di depan stan Dhurung Argapana, Institut Teknologi Surabaya (ITS), yang mengadopsi rumah tradisional masyarakat Bawean, Gersik, Jawa Timur, untuk dibangun di wilayah perkotaan dengan jaminan lebih nyaman, lebih sehat, dan terjangkau bagi kaum Gen-Z, Wamen Fahri memberi acungan jempol sembari mengatakan “luar biasa.”
Begitu pula ketika melihat hasil karya anak-anak Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang memajang rumah yang tinggal dipasang dan diselesaikan dalam 11 hari, dengan biaya 69 juta, Wamen Fahri memperlihatkan ekspresi senangnya dan mengatakan “percontohannya harus segera dibangun.”
Masih banyak ide-ide baru dari anak muda yang memenangkan award dari BTN dan mendapatan apresiasi dari Wamen Fahri Hamzah. Carissa Eukairin dari Repair Project misalnya bisa membuat atap, furniture, dinding partisi, dan floor decking dari plastik bekas minuman kopi, susu, sari buah-buahan, dan lain sebagainya. Hasil inovasi dari Repair Project lebih tahan lama dan lebih murah.
“Harga partisi dari WPC misalnya seitar Rp300 ribu lebih permeter. Namun produk inovasinya bisa menjual ukuran yang sama dengan harga Rp140 ribu,” ungkap Carissa sambil berpromosi.
Fuad Taufikul Hakim dari ITS yang bersama timnya hasilkan rumah yang layak, bisa dibangun di tengah kota, dan harga terjangkau menjelaskan bahwa para pemenang award dari BTN sangat antusias untuk menghadapi babak berikutnya, yaitu inkubasi bisnis di mana investor dan developer menilai kelayakan karya mereka secara komersial untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Developer dan investor pasti mempunyai pandangan lain terhadap ide-ide yang brilian dan inovatif dari para inovator,” ungkap mahasiwa Arsitektur ini penuh semangat.
Selama prinsip Wamen Fahri Hamzah agar “tidak ada mismatch antara supply dan demand untuk hunian yang layak”, ide-ide segar dari kaum inovator pasti terwujud. Rumah merupakan kebutuhan di masa kini dan di masa depan, termasuk bagi kaum Gen-Z, sehingga terus diupayakan untuk dimiliki. “Karena hidup gak cuma tentang hari ini”, demikian salah satu jargon dari BTN.











































































