Ratu Belanda di Perumahan Grand Harmoni, Cibitung, Kab. Bekasi
“Program Bayar Angsuranmu dengan Sampahmu merupakan terobosan inklusi keuangan yang efektif untuk memberdayakan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus mengatasi sampah,” demikian ungkap Ratu Belanda Queen Maxima, Permaisuri dari Raja Willem-Alexander, ketika mengunjungi Perumahan Gran Harmoni Cibitung, Bekasi, Rabu (26/11/2025), sebagaimana dikutip www.btn.go.id.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa Program BAPS merupakan salah satu upaya BTN memberikan akses pembiayaan untuk kepemilikan rumah sekaligus mengembangkan literasi keuangan kepada masyarakat.
Program ini secara tidak langsung mengedukasi agar masyarakat mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga secara mandiri sejak dini, dengan imbalan uang yang dimasukkan ke tabungan untuk mengurangi angsuran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) atau angsuran lainnya.
“Progam ini sangat membantu mewujudkan lingkungan agar lebih bersih dan hijau serta mendukung keuangan masyarakat,” ujar Nixon kepada jurnalis www.energindo.co.id dan awak media lain secara doorstop di sela-sela penutupan Awarding BTN Housingpreneur 2025 dan Closing Ceremony BTN Expo, di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Keuntungan Ganda
Penelusuran jurnalis www.energindo.co.id di lapangan, yaitu di Perumahan Kahuripan, Desa Gandoang, Kec. Cileungsi, Kab. Bogor, serta Perumahan Grand Harmoni, Desa Muktiwari, Kec. Cibitung, Kab. Bekasi mendapatkan konfirmasi bahwa program itu bisa menghemat keuangan keluarga sekitar 10-15 persen per bulan. Kalau seseorang mempunyai angsuran Rp1,1-Rp1,2 juta per bulan, nasabah bisa menghemat Rp100-Rp200 ribu per bulan.
“Ya secara umum begitu. Namun bagi warga yang rajin, bisa mendapatkan sekitar Rp Rp300-Rp400 ribu perbulan. Kan lumayan? Apalagi kerjanya sambilan saja”, ungkap Soanawati, seorang warga dari Desa Muktiwari.
Hal yang sama diungkapkan Bapak Syakiruddin, salah satu pembina Kerukunan Warga Pesona Kahuripan 11 Cileungsi. Menurutnya, masyarakat menyambut antusias program inovatif ini. Karena ternyata yang dianggap sampah, masih punya nilai rupiah.
Melihat program yang menguntungkan ini, Direktur Utama Pesona Kahuripan Angga Budi Kusuma menilai inovasi BTN ini membawa keuntungan ganda bagi masyarakat. Pembeli rumah bisa menukar sampah menjadi tabungan untuk mengurangi angsuran. Lingkungan bersih, uang mengalir. “Sebanyak 14 ribu warga yang tinggal di 3.800 unit rumah di Pesona Kahuripan sangat mendukung dan mengapresiasi progam ini,” ungkapnya melalui sebuah rilis tertulis dari BTN.
Tim Marketing Pesona Kahuripan Ferajo menjelaskan bahwa dengan program BAPS masyarakat semakin tertarik untuk membeli rumah di Pesona Kahuripan. Pembeli akan mendapatkan promo ganda. Promo dari Pesona Kahuripan sendiri dalam bentuk diskon dan dari BTN dalam bentuk insentif atas pengolahan dan pemilahan sampahnya. “Dari pengembang dapat, dari BTN dapat,” ungkap pria yang akrab dipanggil Ajo ini, di sela-sela kesibukannya menjelaskan perumahannya di BTN Expo, 31/1/2026
Memberikan Harga Menarik dengan Transparan
Masih menurut Bapak Syakiruddin, BTN sudah memberikan daftar secara terbuka dan transparan perihal harga sampah tersebut saat sosialisasi, juga melalui media sosial. “Jadi tidak ada dusta di antara warga dan petugas yang mengumpulkan sampah,” ungkap pria setengah baya yang ditemui jurnalis www.energindo.co.id di belakang Pos Satpam Pesona Kahuripan 11, pada 22/1/2026.
Melihat daftar itu, hampir semua sampah dapat djadikan rupiah. “Hanya sampah masyarakat yang tidak bisa dijual,” lanjut Bapak Syakir sambil tertawa renyah.

Selain itu, BTN juga menetapkan harga yang menarik untuk setiap sampah. Kardus, misalnya, dihargai Rp1600 per kilogram, plastik keras Rp1200 per kilogram, dan bahkan minyak jelantah dihargai Rp10 ribu per kilogram. PT Pertamina saja yang berhasil mengolah minyak jelantah menjadi campuran avtur untuk pesawat hanya sanggup membelinya dari masyarakat Rp6 ribu per kilogram atau jauh di bawah harga pembelian BTN yang mencapai Rp10 ribu.
Ketika perihal ini diberitatahukan kepada warga lain, mereka kaget. “Wah, BTN betul-betul memberikan harga terbaik ya kepada nasabahnya,” ungkap seorang warga yang minta ditulis nama panggilannya saja, Ibu Retno.
What Next?
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo, juga melalui sebuah rilis menjelaskan bahwa setiap orang rata-rata menghasilkan satu kilogram sampah per hari. Sehingga, lanjutnya, dalam satu keluarga dengan anggota 4 orang bisa terkumpul hingga empat kilogram sampah per hari.
“Karena itu, program BAPS akan terus berlanjut pada 2026 ini. Mudah-mudahan bisa merambah ke 100 titik,” ungkapnya.
Secara nasional, sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia mencapai 56,6 juta ton per-tahun. Sudah dikelola sekitar 40 persen, sisanya sebanyak 34,5 juta ton, masih tetap menjadi sampah yang menumpuk, dengan segala macam dampak negatifnya.
Sementara itu, Ernest Christian Layman CEO dan Co-Founder Rekosistem, perusahaan pengelola sampah berbasis teknologi yang bekerja sama dengan BTN menjelaskan bahwa sampah yang disetorkan masyarakat akan dipilah, dicatat, dan dikonversi menjadi poin bernama Rekopoin. Nilai poin tersebut kemudian ditransfer ke rekening BTN nasabah untuk membantu pembayaran angsuran rumah. Mekanisme tersebut menjadikan sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir, kini memiliki nilai nyata sebagai tabungan.
Dengan stimulus tersebut diharapkan masyarakat berpartisipasi aktif untuk mengurangi persoalan sampah di Indonesia. “Dengan program BTN, sampah bisa dikelola lebih baik dan bahkan membantu mengurangi angsuran KPR. Ini bukan hanya inovasi finansial, tapi juga kontribusi nyata menjaga bumi agar tetap lestari,” ujarnya.
Ketua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Griya Permata (TPST Griya Permata), Umar, menjelaskan bahwa ke depan BTN dan mitra perlu merangsang masyarakat untuk mengumpulkan sampah organik, sebagai sampah paling menimbulkan masalah, karena cepat membusuk dan menimbulkan bau.
“Saya lihat di list yang dikeluarkan BTN, sampah organik belum tersentuh sama sekali,” ungkapnya sambil menyeruput kopinya di Gardu Perumahan Griya Permata Blok B, Desa Cibugel, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang.
Selain itu, pola kerjanya juga perlu diubah, yaitu BTN dan mitranya mempunyai base camp di titik tertentu di sebuah wilayah, sehingga masyarakat bisa datang kapan saja untuk menyetorkan sampahnya. Menurutnya, adanya base camp akan lebih efisien dan efektif dalam mengolah sampah daripada mitra BTN harus keliling menggunakan kendaraan.
“Antusiasme warga akan lebih meningkat, sampah yang terkumpul akan lebih banyak, dan margin keuntungan yang bisa diperoleh mitra BTN akan lebih maksimal,” ujar pria asal Sulawesi yang berhasil mengolah sampah dari 500 rumah dengan sangat baik, sehingga pada 2025 berhasil mencapai zero waste dan tidak ada sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah milik Pemerintah Kabupten.












































































